
Pagi menjelang, suara Azan nyaring terdengar, mengusik dua anak manusia yang masih terlelap dengan posisi saling merangkul.
Kirana membuka matanya, mengucek ngucek sebentar, memandang sang suami yang sedang tertidur lelap, ia tersenyum kemudian mengusap rahang tegas suami tercinta. Seketika jantungnya pun berdebar debar. Tidak ingin berlama lama menatap sang suami, ia bangun masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Setelah selesai, ia membangunkan Zian yang masih setia bergelung dengan selimutnya.
"Zian, Zi...Sayang...banguun, kita sholat subuh dulu"
Lembut Kirana membangunkan Zian. Bahkan Zian sendiri terkesima mendengar suara lembut dari Kirana. Tunggu..Kirana memanggilnya dengan kata 'Sayang'? Zian mengerjap ngerjapkan matanya, mengorek kupingnya dengan jari telunjuknya. Apa dia tidak salah dengar?.
"Tadi kamu panggil aku apa?" gagap Zian bertanya,
Kirana yang sedang menata sajadah dilantai menatap Zian bingung. Dia memanggil Zian sayang tadi?, ternyata Kirana juga terkesiap, ternyata panggilan itu tanpa sadar keluar dengan mulus dari mulutnya
"Ah....kamu gak ingin aku panggil begitu?"
Kirana berbicara tapi tidak memandang Zian sama sekali. Dia malu.
"Gak. Kita akan bercerai, jadi jangan terlalu baik apalagi bersikap mesra kepadaku"
Jawaban Zian membuat Kirana tersenyum kecut,
"Sudah berapa kali aku harus bilang padamu, bahwa aku tidak ingin bercerai"
Lirih Kirana memandang Zian berkaca kaca, Zian yang dipandang begitu terasa hatinya perih. Zian bangkit dari ranjang berlari kekamar mandi, ia menghindari tatapan sendu Kirana.
...******...
"Zian sama Kirana sudah dibangunkan belum bu? Tanya Chiko ketika ia keluar kamar mendapati sang Istri lagi sibuk memasak.
Rita melirik sekilas kepada Chiko, dan berkata
"Belum yah, ibu rasa mereka sudah bangun, kan sholat subuh"
"Oh bisa jadi, oiya bu, ibu masak apa?"
"Soto, nasi lemak, perkedel, telur rebus, sambal teri kacang" Rita mengurut daftar makanan yang ia masak.
__ADS_1
"Kok berat semua sarapannya bu?" tanya Chiko lagi, pasalnya ia shock mendengar sarapan pagi ini sedikit berat.
"Sengaja..." sahut Rita sedikit berteriak, Chiko menghampirinya.
"Untuk apa? Zian kan gak sarapan dengan makanan berat, dia paling sarapan dengan sandwich, roti manis atau roti bakar" Tanya Chiko disamping Rita,
Rita hampir menjatuhkan spatula ditangannya, karena terkejut.
Plak......
Dan spatula itu mulus mendarat di lengan Chiko.
"Astagfirullah yah, kamu ini mengagetkan ku aja"
"Sorry sorry....gimana jantungnya masih aman?"
Chiko meletakkan telapak tangannya ke dada sang istri dan tanpa menyadari kelakuannya membuat dua anak manusia yang baru turun berdehem menggoda.
"Ehem ehem..." Deheman Zian dan Kirana serentak menggoda Chiko dan Rita.
Sesaat Chiko dan Rita saling pandang, kemudian tersadar, secepat kilat Chiko menarik tangannya dan berjalan kikuk ke kursi meja makan. Zian dan Kirana pun tertawa lepas melihat Chiko sang ayah bersikap layaknya ketangkap basah sedang berbuat mesum.
"Cie ayaaah....ayah kok gak nyadar kalau udah tua, masih aja menggoda ibu" goda Kirana
"Hussh kalian ini, kalau tidak tau cerita, jangan asal nuduh" ucap Chiko membela diri. Ia malu.
"Pake ngeles lagi ayah, udah didepan mata loh kami liat, jadi gak usah banyak alesan yah" timpal Kirana.
"Eaak, aku juga melihatnya, mesraaa amaat..." sahut Zian pula
Rita hanya acuh dengan godaan anaknya sendiri, ia hanya melenggang tak peduli, dan hanya sibuk menata makanan dimeja.
"Udah kalian ini, gak usah dibahas. Mending kita makan aja terus" Ajak Rita, Zian dan Kirana masih tetap terkekeh. Mereka pun duduk menikmati sarapan pagi dengan khitmad.
Kirana melayani Zian sepenuh hati, sikapnya sangat perhatian kepada Zian, sikap lembutnya membuat hati Zian berdesir. Ia sungguh tidak ingin bercerai dengan Kirana. Tidak akan pernah.
...*****...
__ADS_1
Dikantor ZIHER Group.
Seseorang sedang sibuk berkutat dengan komputernya, sesekali terdengar desah lelahnya. Matanya tak lepas dari komputer tersebut, hingga kedatangan seseorang mengalihkan atensinya untuk menatap.
"Lu lagi kerja bule?" Dinda masuk langsung menghempaskan pantatnya pada sofa diruangan Herry, iya, seseorang yang sibuk tadi adalah Herry.
"Lu gak punya mata? lu bisa liat kan gue lagi sibuk" sungut Herry, Dinda menatap Herry aneh.
"Lu napa jadi ngegas? PMS lu?" balas Dinda tak terima.
"Aiish....lu kalau gak da kerjaan di ruangan lu, mending lu keluar aja dari kantor, jauh jauh dari kantor, gue lagi mumet ini" Herry mengusir Dinda, ia bangun dan mendorong badan Dinda keluar.
"Gue gak mau kemana mana, buleee..." teriak Dinda, jadilah kantor penuh dengan suara mereka berdua yang sedang bercek cok tanpa niat untuk berhenti.
Mereka masih asik beradu mulut, ketika Zian sampai kantor dan berdiri disamping mereka yang sedang berhadapan saling melempar ejekan.
"Lu gak ngotak dan gak berakhlak, sama perempuan berani" ejek Dinda menjulurkan lidahnya.
"Lu tu yang gak ngotak, ganggu orang kerja aja, apa gak punya kerjaan yang berfaedah kecuali ngerusuh?" sungut Herry geram.
Zian menggeleng geleng kan kepalanya.
"Kalian...? apa akan terus bertengkar tanpa ada yang mau mengalah?" tanya Zian mengertakkan giginya geram.
"Dia duluaan..." Seru Dinda dan Herry serentak, mereka pun saling tatap tatapan bingung.
"Kalian kalau asik bertengkar, bisa bisa jadi suka dan pacaran, teruus--" belum habis Zian bicara Dinda dan Herry langsung berteriak lantang.
"GAK BAKALAAAAN LA YAW" Dinda
"OGAAAAH" Herry,
Mereka secara serentak berteriak dan mengagetkan Zian dan seluruh karyawan di kantor mereka. Semua karyawan hanya terkekeh melihat tingkah wakil bos dan juga asisten mereka itu. Begitupun Zian, dia terkekeh dan langsung berlari terbirit kedalam ruangannya.
"Gak bakalan gue suka sama lu" cibir Dinda melengos meninggalkan Herry.
"Idiiiiw....GUE JUGA GAK BAKALAN SUKA SAMA LUU" teriak Herry berlalu masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
...******...