The Crazy Testament

The Crazy Testament
First Night


__ADS_3

"Apa yang mau kau katakan?"


Setelah duduk Kirana langsung memberondong Zian dengan pertanyaan.


"Surat cerainya sudah kau tanda tangani?" Zian masih dengan mode cool


"Aku tidak akan menanda tangani nya" Kirana sudah meneteskan airmatanya, hatinya sakit.


Zian terkekeh sinis, dengan wajah masih datar.


"Kenapa kau tak mau menanda tanganinya? Bukankah itu yang kau mau? Kau tak mencintaiku, jadi ayo kita akhiri semuanya, dan kau akan kembali kepada cinta pertama mu"


Zian benar benar bermain dengan perannya, Tiga sahabatnya memperhatikan mereka berdua dengan seksama.


"Aku sudah bilang tak akan menanda tanganinya, aku tetap akan menjadi istrimu" lirih Kirana.


"Apa? Hey tuan putri, kau sadar tidak kalau kau tidak mencintaiku, coba kau katakan kalau kau memang mencintaiku !!!" sindir Zian


"Aku...aku...aku belum memastikannya, aku hanya tidak ingin kehilangan mu dan juga aku tidak ingin kehilangan Indra, dia sahabatku" ucap Kirana bingung.


Zian kembali sakit hati, ternyata memang Kirana tidak bisa menjauhi Indra, wajar puluhan tahun mereka bersama menjadi sahabat dekat layaknya saudara kandung. Dan dia, siapa dia yang baru setahun hadir dikehidupan Kirana.


"Kau tidak menganggapnya sebagai sahabat Ran, tapi kau mencintai Indra, di hatimu hanya ada Indra, kenapa kau sangat tamak dan serakah?" Lirih Zian mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja.


"Aku sudah bilang aku tidak tau, aku benar benar tidak ingin kehilangan mu, sungguh, percaya lah padaku" Kirana menatap Zian sayu, ada kesedihan dimatanya.


"Aku tetap akan menceraikan mu, tapi sebelum itu aku punya permintaan" Zian tidak memandang Kirana, hatinya sakit.


Kenapa Kirana tidak bisa memutuskan kepada siapa hatinya berlabuh. Zian sudah sangat senang ketika mendengar Kirana tak akan menanda tangani surat cerai itu, tapi kenyataan bahwa ia belum tau hatinya berada kepada siapa, itu benar benar menggores luka di hati Zian.


"Aku tak ingin bercerai darimu, sudah berapa kali aku harus mengatakannya padamu" seru Kirana dengan emosi membuncah.


Zian menatap Kirana tajam, nafasnya memburu sekarang,


"Kau.....kau perempuan yang sangat egois, tidak pernah memikirkan perasaan ku bagaimana, satu tahun aku menahan rasa sakit yang kau berikan, apa itu tidak cukup?" bentak Zian,

__ADS_1


Semua pengunjung restoran menatap pertengkaran mereka dengan penasaran, termasuk ketiga sahabat mereka berdua. Dinda, Herry dan Rifal bingung sekarang, bukan begini skenario yang mereka buat. Kenapa jadi kacau.


Kirana menangis sesegukan.


"Apa permintaan mu, akan aku kabulkan, tapi tolong surat cerai itu beri aku waktu untuk memikirkannya" gumam Kirana dengan lirih.


Hati Zian sakit melihat Kirana menangis, tapi ia harus bersandiwara mengikuti rencana, walaupun sudah sedikit melenceng dari rencana awal.


"Bagus....aku minta hak ku dari mu, bukankah kau punya kewajiban sebagai istri untuk memberi ku hak sebagai suami mu? Hak malam pertama yang tidak ku dapatkan setahun bersama mu" Zian menyeringai, Kirana bergidik ngeri melihat seringaian Zian, dia tidak pernah melihat Zian seperti itu.


"Tapii..." Kirana gelagapan, ia tidak bisa mengeluarkan kata kata.


"Apa pun yang kau katakan, aku tak mau mendengar alasan, jadi sekarang kau ikut aku"


Zian bangkit, menarik lembut tangan Kirana, Kirana berjalan menunduk dibelakangnya, pikirannya berkecamuk, apa yang akan Zian lakukan padanya. Tapi ia tetap mengikuti Zian tanpa menolak.


Dan Zian,? Ia tersenyum kemenangan, sebelum pergi meninggalkan Restoran, ia sempat tersenyum dan mengacungkan jempol untuk ketiga sahabatnya yamg dibalas senyuman oleh mereka bertiga.


...*****...


Kirana duduk di tepi ranjang berukuran besar tersebut, ia masih ragu dan menimbang, apa keputusannya menyetujui ajakan Zian adalah salah. Ia menggeleng gelengkan kepalanya, tindakannya itu ditangkap oleh Zian.


"Kau kenapa? Menyesal? Mau pulang? Tidak bisa lagi, tunggulah disini, aku mau mandi, setelah itu kau pula. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu hari ini sampai puas" ucap Zian, lalu masuk kekamar mandi.


Jantung Kirana sudah berdegup kencang, ia semakin gugup dan gelisah, apakah malam ini mahkotanya benar benar akan hilang. Ia menutup wajahnya dengan tangannya. Jantungnya semakin memompa dengan kencang.


Tak berselang berapa lama Zian keluar dari kamar mandi memakai handuk sepinggang, dadanya yang bidang terekspos begitu saja, Kirana tak berani melihatnya, ia asik menunduk kan wajahnya.


"Aku sudah selesai, giliran kau, aku tunggu" Zian berjalan menuju tempat tidur.


"Kau tak memakai baju mu?" Dam kenapa Kirana malah menanyakan itu.


"Kita kan tak membawa baju, lagian sebentar lagi baju pasti akan terlepas dan terlempar semua, untuk apa memakai baju"


Ucapan frontal Zian sukses membuat Kirana melongo dan tersipu malu, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Ia bangun menuju kamar mandi.

__ADS_1


...*****...


20 menit menunggu Kirana, Zian tertidur dengan handuk masih melilit pinggang, ketika Kirana keluar ia sangat lega mendapati Zian ketiduran. Jadi ia pun kelemari pakaian dan ternyata disitu ada disediakan piyama tidur, dan ia pun memakainya.


Kirana mendekati Zian yang sedang terlelap, mengusap wajah tampan Zian, airmatanya menetes lagi.


"Maafkan aku Zian, aku telah menyakiti hati mu, aku tidak bermaksud begitu" isaknya,


Ketika ingin menarik usapan tangannya dari wajah Zian, ternyata sang empunya sudah bangun dan menarik tangannya. Mata Zian bertemu dengan mata bening Kirana.


"Aku sudah menunggu mu lama, kau mau kemana lagi?"


"Aku...aku..." gagap Kirana,


Zian tak mendengar lagi, ia menarik tengkuk Kirana, mel***t bibir manis Kirana, Kirana sempat terkejut mendapat ciuman mendadak seperti itu, tapi ia mengikuti semua permainan Zian.


Tangan Zian turun menjelajahi setiap lekuk tubuh Kirana, membuka kancing piyama yang Kirana pakai, dan melemparnya asal, bibir mereka masih berpaut, Zian melepas ciumannya, menempelkan dahinya ke dahi Kirana.


"Kau siap?" tanyanya, Kirana hanya mengangguk malu.


Zian pun melanjutkan kegiatannya, merenggut keperawanan Kirana, mereka melakukannya tanpa henti hingga malam menjelang, Sudah berapa kali Zian menyemburkan benih benih calon anaknya ke rahim Kirana, ia masih tetap mengungkung Kirana tanpa berniat berhenti.


"Zian, pleasee...su-sudah cukup...hmm...aku lelah" Kirana berucap takkala dalam keadaan menahan desahan. Ia sudah tidak sanggup, bagian sensitifnya dibawah sana sudah sangat sakit dan perih.


"Bentar lagi, aku belum pelepasan, setelah ini aku akan berhenti" jawabnya masih dengan memompa alatnya.


Zian terus melakukan pekerjaannya, hingga ia mendapat kenikmatan terakhirnya, dan tetap mengeluarkannya didalam. Ia mencium dahi dan bibir Kirana lalu mengelus perut Kirana.


"Mudah mudahan kau segera hadir nak, biar kita akan selalu bersama, dan keinginan aunty Dinda mu tercapai..hehe" Batin Zian sambil tersenyum.


Kirana hanya memandang Zian aneh, Zian mengetahui itu, tapi dia cuek saja. Zian menarik selimut menutup tubuh polos mereka berdua, lalu berbaring tidur menarik Kirana kedalam pelukannya.


"Ayo kita tidur, terima kasih telah mengabulkan permintaan ku, setelah itu pikirlah dengan baik baik, keputusan apa yang akan kau ambil, aku menunggumu"


Ucapan Zian membuat hati Kirana menghangat, dia memang bodoh mengabaikan pemuda yang telah sangat baik dan mencintai nya ini, dan dia benar benar tidak ingin bercerai dari Zian selamanya, Kirana mengeratkan dekapannya dan menutup mata untuk tidur.

__ADS_1


...******...


__ADS_2