The Crazy Testament

The Crazy Testament
Rindu II


__ADS_3

Indra merogoh saku dan mengambil ponselnya. Mencari sebuah nama ketika ia menemukannya ia pun menelpon.


"Halloo, lu pantau terus, dan kasih kabar ke gue,"


"Terus tugasnya kapan kami laksanakan bos?"


"Segera mungkin,"


"Oke bos"


Tut...


Indra menatap jalan yang dilewati oleh Zian tadi, ia bersmirk. Kemudian ia meninggalkan parkiran tersebut.


...******...


Zian sudah memarkirkan Mobilnya di garasi rumahnya setelah menempuh perjalanan 35 menit dari kantornya. Selain karena dia tinggal terlalu dipinggir kota, kemacetan juga tak bisa dihindari.


Zian turun dari mobil, ketika akan melangkah masuk kerumah. Gawai Zian bergetar dan berdering, Attention nya Justin Biber menggema,


Drrrt.....Drrrt....


Zian pun menatap sebentar ponselnya.


"Assalamualaikum ayah, ada apa menelpon?"


"Ayah mau kamu malam ini, makan malam dirumah, nanti ibu masak makanan kesukaan kamu, bakso"


"Tapi yah, akuuu---"


"Ayah gak mau dengar alasan, ayah tunggu kamu dirumah"


Chiko memutus sambungan telponnya, Zian terpekur.


"Aaah....harus melihat Kirana lagi, bagaimana aku menghadapinya, setelah malam itu, aku selalu menginginkannya. Haaah" desah Zian frustasi mengacak rambutnya kasar.


Zian masuk kerumah, bersiap siap menuju kerumah kediaman Chiko Wardhana. Hatinya berdegup kencang, pasalnya walau hatinya sakit, tak bisa dipungkiri bahwa ia sangat merindukan istrinya itu. Jadi dengan hati yang berbunga bunga ia menuju kamar mandi.


...******...


Chiko sedang duduk diruang televisi menunggu Zian, Kirana yang mengetahui Zian akan berkunjung dengan senang hati segera mandi dan bersiap siap.

__ADS_1


Lain lagi dengan Rita, nyonya rumah itu sudah asik berkutat dengan bahan bahan dapur, memasak makanan yang sangat digemari menantunya itu semenjak berada di Indonesia.


Bukan rendang ayam atau daging, bukan juga semur ayam atau jengkol, tapi Bakso. Semua yang berbahan bakso Zian sangat menyukainya, mau itu di padu padankan dengan Mie, di bikin Siomay, Batagor, ataupun di goreng, mata Zian akan berbinar binar melihatnya.


Sedang asik memasak, Rita menanyakan pada suaminya apa Zian benar benar akan datang.


"Yah, Zian bener kan kerumah? jam berapa?" Tanyanya antusias sambil membawa centong sayur mendekati sang suami


"Iya Insya Allah, tadi ayah telpon dia menyetujuinya" Sahut Chiko tanpa memandang Rita.


"Ayah yakin dia setuju? kok aku ya ragu" seru Rita sambil berlalu kedapur lagi.


"Iyaa....tadi dia bilang iya kok, mungkin sekarang lagi dijalan" Chiko meyakinkan sang istri, bahwa menantu kesayangan mereka itu akan datang.


10 menit kemudian Kirana turun dari kamarnya, tujuannya kedapur membantu ibunda tercinta memasak, sebelum menginjak kaki di dapur, suara bel pintu depan berbunyi. Dengan tergopoh gopoh Rita hendak membuka pintu, Kirana mengernyitkan dahi ketika melihat ibunya seperti itu.


"Ibu mau kemana? buru buru gitu?" tanyanya heran


Rita cengengesan, " Hehe, ibu pikir Ran masih di atas, ibu ingin buka pintu lah, ya udah kalau gitu buka pintunya untuk ibu"


Kirana hanya menggeleng geleng kan kepala melihat tingkah polah sang ibu. Kirana hanya pasrah ketika ia didorong untuk membuka pintu.


Ceklek......


"Zi-Zian....Ayo masuk" Ajak Kirana gugup.


Zian melangkah masuk langsung menuju dimana mertua laki lakinya yang tak lain Chiko sedang menonton.


"Assalamualaikum ayah," sapanya pada Chiko yang asik menatap layar persegi itu.


Rita yang mendengar suara menantunya, langsung bergegas menghampiri Zian.


"Wa'alaikum salam Zian, akhirnya kamu datang juga" seru Rita riang. Chiko hanya menggeleng heran melihat Rita.


"Duduk nak, cepat juga kau datangnya"


Chiko berbasa basi, Kirana hanya ikut duduk matanya terus menatap ke arah Zian. Zian yang merasa di pandang langsung menatap balik kearah Kirana, lim detik mata mereka bertemu, Zian cepat cepat memalingkan wajahnya, karena sedari tadi ia ingin sekali memeluk dan mencium aroma Kirana. Tapi ia menahannya.


...******...


Sekarang kedua orang tua, Zian dan Kirana sedang di meja makan menikmati makan malam mereka. Chiko menanyakan kepada menantunya ini dimana ia tinggal sekarang.

__ADS_1


"Zian tinggal dimana sekarang? apa kalian tidak ingin tinggal sama sama lagi?" Tanya Chiko sambil menatap Zian


"Aku tinggal dirumah yang sudah lama aku beli yah, lumayan jauh dari sini" Jujur Zian, ia tak akan menutupi apa yang dia miliki dan tidak dimiliki.


"Rumah? sejak kapan kamu punya rumah?" Kirana bertanya lirih, ia merasa Zian banyak menyimpan rahasia padanya.


"Rumah yang aku beli untuk kita tempati suatu saat nanti, tapi akhirnya aku terpaksa menempatinya sekarang karena kita akan berpisah" datar Zian, ia berbicara tidak menatap kearah kirana yang sudah sendu, malah ia memainkan sendok makan miliknya.


"Zian, apakah kamu tidak bisa berpikir ulang lagi nak? ibu tidak ingin kalian bercerai, ibu masih mau melihat kalian sampai memiliki momongan dan sampai kami tua" Tutur Rita dengan mata berkaca kaca.


"Ntah lah bu, Zian tidak ingin menyakiti diri sendiri lagi, Zian ingin memulai hidup baru tanpa terluka lagi" Ia masih menatap datar mata Kirana. Sok kuat padahal hati ingin sekali memeluk Kirana.


"Ayah mohon Zian, tolong kamu pikir pikir lagi twntang perceraian itu, kalau kalian bercerai dan tetiba Kirana hamil bagaimana"


Deg.....


Hati Zian langsung berdetak tak karuan, ia jadi mengingat malam kemarin, Zian jadi berharap ia bisa menginap.


"Ayolah siapapun, tahan aku nginap disini" Batin Zian berharap


Zian masih tidak menjawab apapun itu, Kirana pun begitu, melihat anak dan menantunya hanya diam. Rita pun membuka suara.


"Zian, nginap disini saja nak ya, udah lama kamu tidak pulang, ibu masih rindu ingin berbincang dengan mu"


Betapa senangnya hati Zian, ingin rasanya ia berteriak dan berjingkrak jingkrak senang, ataupun menari nari sangking bahagianya.Tapi ia menahannya cukup keras dan menyiksa.


"Tapi bu.." Zian pura pura ingin menolak, ia menatap kearah Kirana sekilas, Kirana hanya menundukkan kepalanya.


"Ibu gak mau mendengar bantahan apapun itu Zi, ibu ingin kalian secepatnya memberi ibu dan ayah seorang cucu, kami sudah tua, kami ingin mendengar suara bayi dirumah ini" timpal Rita.


Zian bahkan tidak bisa menelan makanannya dengan benar. Kenapa ibu mertuanya ini sangat blak blakan, membuat ia tersipu malu. Bahkan Kirana tidak berani mengangkat kepalanya karena malu.


"Iya, ayah juga mau bilang itu, untung udah duluan ibu yang bilang"


Ya salam, ayah mertuanya juga begitu. Kirana bangkit dari tempat duduknya karena sudah tak tahan menanggung malu, ia sempat tersenyum sebelum melangkah keatas masuk kedalam kamarnya.


"Ya Allah, kenapa hatiku berdetak sangat kencang ini" gumam Kirana ketika ia berada didalam kamarnya.


Rita, Chiko termasuk Zian terheran melihat Kirana yang sudah pergi ke atas. Rita hanya tersenyum menatap menantunya yang masih berwajah bingung.


"Ran malu Zi, makanya ia kabur" Kekeh Rita, Zian dan Chiko juga ikut tersenyum.

__ADS_1


...******...


__ADS_2