The Crazy Testament

The Crazy Testament
Menyusul Zian.


__ADS_3

Hari begitu cerah di pagi ini. Bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah nyonya Claire juga ikut bersenandung mengikuti irama angin sejuk yang menghembus.


Zian masih bergelayut manja memeluk bantal guling miliknya. Walau sudah berapa kali suara mommy kesayangannya memanggil menyuruhnya bangun, tetap saja dia tidak berkutik dari peraduan.


"Ziiii... Oh my God. kenapa masih tidur?" Claire yang sudah dikamar Zian, menarik gorden penutup jendela kamar. Membukanya lebar hingga matahari masuk menyinari kamar Zian dengan sempurna.


"Five minute mom" gumam Zian dengan masih menutup mata. Ia sedikit terganggu dengan sinar matahari dari jendela kamarnya. "Moom.. Give me five more minutes, iam still sleepy" desah Zian malas.


"Hufttt ...oke oke...You can sleep five more minutes. setelah itu kamu bangun, mandi dan sarapan bersama.!" Tutur Claire. Zian hanya mengangguk saja, matanya masih setia tertutup tanpa memandang kearah claire mommynya.


"Jangan hanya mengangguk ZIAAN, kita harus siap-siap! packing untuk ke Indonesia nanti. Apa kau lupa?" ucap Claire membuat Zian dengan malas membuka mata dan duduk di tepi ranjang besar miliknya.


Dengan raut ragu dia menatap Claire, mommy nya.


"Moom, aku rasa... Aku tidak siap kembali ke Indonesia" tunduk Zian dengan raut wajah sedih.


"Hey. Kenapa hum? Apa kamu masih ragu dan takut berhadapan dengan masalah mu? Ayo sayang, anak ganteng mommy, kamu harus menghadapi masalah mu dengan penuh keyakinan dan yang pastinya jangan takut, mommy dan daddy akan selalu mendukung mu"


Tatapan sayang penuh kelembutan Claire mampu membuat Zian tersenyum penuh yakin. Dia siap menghadapi resiko apapun di Indonesia nantinya. Tapi dalam seperkian detik dia mendengar sayup-sayup teriakan ketiga sahabatnya.


"Ziaaaan" teriak Rifal, Herry dan Dinda bersamaan didepan rumahnya.


"What the heck" pekik Zian dengan mata melotot, ketika dia dengan jelas mendengar teriakan ketiga sahabatnya itu.


...****************...


Flashback On


Tiga sekawan sedang menunggu pemeriksaan di pintu masuk Bandara, mereka benar-benar bertekat ingin menemui Zian bermodalkan alamat yang pernah Zian katakan.


Mereka tidak takut akan tersesat, karena mereka yakin mereka pasti bisa menemukan Zian.

__ADS_1


"Sepertinya Zian akan terkejut sekali" Dinda antusias sekali


"Lu liat Fal, dia senyum-senyum sumringah kayak lele terjepit"


Perkataan Herry sontak membuat Dinda mengerucut kan bibir mungilnya. Rifal hanya terkekeh.


"Udah jan manyun gitu, gak cocok" Herry masih tidak berhenti menjahili Dinda.


"Lu sekali ngomong begitu, gue lakban mulut lu" sambil merajuk Dinda menjauhi Herry dengan kesal.


"Hahaha. Udah udah, kita harus buru menuju pesawat, Nanti kalian berdua ketinggalan lagi. Kan gak lucu" ketawa Rifal sambil menarik Herry untuk berjalan menuju tangga pesawat.


^^^Flashback end^^^


Seorang pemuda tampan menatap bingung kearah ketiga anak manusia yang dengan santai dan tanpa dosa duduk di sofa ruang tengah. Mereka asik ngalor ngidul bercanda dengan Claire dan juga Diego orang tua pemuda itu.


"Pleasee... Give me explain, what are u all doing here?" Ujar Zian yang langsung membuat ketiga sahabatnya beralih menatap Zian serius.


"Hey hey... kenapa kalian menatap ku begitu?, aku jadi sedikit takut" sambung Zian lagi


"Hmmm" Zian tertunduk, dia mendekati ketiga sahabat nya dan duduk didepan mereka.


"Apa kamu tidak bertanya bagaimana kami hidup tanpa mu disisi kami?" Kali ini Herry yang berucap membuat hati Zian teriris.


"Mengapa kamu meninggalkan kami dengan begitu banyak kesedihan?" Rifal juga tak mau kalah menberondong pistol pertanyaan kepada Zian yang semakin pilu dan berkaca-kaca.


Zian tidak menyangka akan mendapatkan Pertanyaan-pertanyaan seperti itu. yang membuat seluruh darahnya membara. Hatinya pilu sekali.


"Zi. kami bertiga datang kesini ingin memberitahukan satu hal padamu. Aku pribadi sangat ingin kamu mengetahui hal ini" Dinda menatap Zian serius, dia menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan ucapannya.


"Zi, kamu harus pulang ke Indonesia dan menemui Kirana"

__ADS_1


mendengar nama Kirana disebut, Zian tanpa sadar langsung menitipkan airmata.


"Hey, kenapa lu menangis?" Herry mengubah posisi duduk disamping Zian dan mengelus pundak Zian.


"Gue merindukan nya, tapi Gue juga sadar kalau gue bukan lah siapa-siapa lagi untuknya" tangisan Zian semakin pilu, dia menekan dadanya yang terasa nyeri.


"Zi, Kirana takkan mungkin bisa berpisah dengan lu Zi" Rifal mengangkat dagu Zian menatap mata Zian.


"Tak mungkin Kirana tega meninggalkan lu" Herry juga ikut bersuara


"Kenapa kalian mengatakan itu?" tanya Zian heran


"Lu siap mendengarkan sesuatu yang mungkin akan membuat elu tambah sedih"


Zian bingung dia semakin penasaran apa yang gerangan yang ingin dikatakan oleh ketiga sahabatnya ini.


Claire dan Diego yang dari tadi juga ikut menyimak pembicaraan anak dan sahabat nya pun ikut mendekat karena mereka berdua juga penasaran.


"Zi, ayo ikut kami pulang ke Indonesia. Kamu harus pulang, dan membuat Kirana kembali ke pelukan mu" ujar Dinda sendu


Zian bangkit dari tempat duduknya dia frustasi kalau membahas tentang Kirana. Apalagi harus bisa membuat Kirana kembali padanya. Dia sudah lelah membujuk Kirana untuk kembali padanya.


"Aku tidak yakin, aku rasa aku pasti tidak bisa membuat Kirana memaafkan ku" sedih Zian.


Herry benar-benar kesal ia bangkit dan menarik kerah Zian.


"Lu harus bisa Zi, elu harus bisa membuat Kirana yakin dan memaafkan elu. Demi istri dan anak yang sedang ia kandung" teriak Herry


perkataan Herry membuat Zian kaget. Claire dan Diego juga kaget, Claire sampai menutup mulut tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Sedangkan Zian, ia terharu dengan berlinang airmata ia tertawa bahagia, berita kehamilan Kirana membuatnya lemas dan terduduk ke lantai. Claire mendekati Zian dan memeluk tubuh tegap Zian.

__ADS_1


"Mom, Iam going to be a Dad" harunya masih dengan berlinang airmata.


...****************...


__ADS_2