The Crazy Testament

The Crazy Testament
Aku selalu Bersama mu, Sahabatku.


__ADS_3

Zian mengantar Dinda dan Herry menuju mobil di halaman, Zian berpesan kepada Dinda.


"Din, jangan marah sama Ran dan tolong jagain Ran. Gue yakin memang lu bisa jagain dia, dan satu lagi jangan pernah kasih tau gue dimana, biarkan dia bahagia dengan Indra" ucap Zian


"Hm...gue sebenarnya kecewa banget sama Ran, tapi dia tetap sahabat gue, dan tentang keberadaan lu, mengingat dia yang gak mencintai lu, gak da hak gue untuk kasih tau keberadaan lu sama dia, lagian gue punya rencana masalah ini" senyum jahil Dinda beraksi.


"Maksud lu apa Din?" Tanya Herry, Zian pun ikut menatap Dinda.


"Kalian liat aja nanti.." ujar Dinda.


Mereka berdua pun meninggalkan kediaman Zian. Zian kembali masuk kerumah untuk istirahat. Walaupun setelah berbaring di ranjang matanya tak bisa terpejam sama sekali.


"aah Rindu Mommy" desahnya


...****...


Dinda turun dari mobil Herry, berterima kasih kepada pemuda itu dan bergegas masuk kerumah Kirana. Ketika sampai didepan pintu, ternyata pintu tak dikunci sama sekali. Dinda langsung menerobos masuk dan mendapati Rita dan Chiko sedang terduduk di sofa dengan keadaan termenung.


"Bu, " panggil Dinda, Rita tersadar mengalihkan pandangan yang tadinya kosong ke asal suara.


"Dinda...hiks..." Rita bangkit dan langsung menubruk Dinda, memeluknya erat, Chiko pun meneteskan airmatanya melihat sang istri menangis.


"Ibu kenapa menangis? ayah juga? ada apa?" Dinda pura pura tidak tahu apa yang terjadi, padahal ia tau semua dari Zian.


"Ran, Ran Din, dan Zian hiks..." Rita tidak bisa mengatakan satu kalimat pun, suaranya tercekat seakan tak bisa keluar, jadi hanya nama anak anaknya yang keluar.


"Ran mengurung diri di kamar Din, setelah kejadian di rumah Indra, sekarang Indra sedang membujuk Ran untuk keluar"


Chiko dengan lancar menceritakan kejadian di rumah Indra, termasuk kembalinya Indra dan juga perceraian yang di ucapkan Zian.


"Sekarang kita harus gimana Din? ibu sangat menyayangi Zian, tapi Indra juga sudah seperti anak ibu, tapi Zian...hiks" ucapan Rita tercekat lagi berganti dengan isak tangis pilu.

__ADS_1


"Hmmm....Biarkan Dinda bertemu Ran bu, yah" pinta Dinda,


"Masuk lah Din, memang sedari tadi kami berdua menunggu kamu datang, Indra bahkan tidak berhasil membujuk Ran" Chiko


"Ciiih...Katanya cinta, tapi membujuk saja tidak becus, berbeda dengan Zian yang selalu melakukan apa saja untuk Kirana" Decih Dinda, membuat Rita dan Chiko menatap Dinda.


"Apa kau bertemu Zian Din?" tanya Chiko


"Ah...t-tidak yah, Dinda cuma asal ngomong" gelagapan Dinda, ia pun menuju ke kamar Kirana.


...*****...


Dinda melihat Indra yang setia mengetuk dan memanggil nama Kirana, tapi tidak ada jawaban dari Kirana. Hanya isak tangis yang bisa Dinda dengar.


Kenapa Kirana menangis? bukankah seharusnya ia senang karena sebentar lagi ia bercerai dengan orang yang tidak ia cintai, dan menikah dengan orang pilihannya. Itulah dalam otak Dinda sekarang ini.


Indra melihat Dinda mendekatinya dan memandangnya, pandangan yang sulit Indra artikan.


"Din...ini gue, sahabat lu. Indra" ucap Indra. Tapi Dinda memandangnya datar dan dingin.


"Terus kenapa lu gak senang gitu liat gue, lu gak rindu sama gue?" Tanya Indra.


"Gue rindu sama lu, gue juga senang lu kembali, tapi gue kecewa dengan sikap lu sekarang, lu bukan Indra yang dulu, lu sekarang egois, tindakan kek bocah" Datar Dinda membuat Indra bersmirk sinis


"Woah, lu kayaknya udah di cuci otaknya oleh Zian, dia bilang apa sama lu, sampe lu benci sama gue?, lu gak di posisi gue Din, jadi lu bisa seenaknya ngomong seperti itu" cibir Indra


"Gue memang gak pernah berada di posisi lu, tapi lu bisa gak merasakan bagaimana kalau lu berada di posisinya Ran, setelah lu ninggalin wasiat gila dan bodoh seperti itu, sekarang lu datang dan bilang buat batalin wasiat lu?, lu memang psicho Ndra, untung mereka belum di karunia anak, kalau misalnya mereka sudah punya anak, lu datang, lu juga bakalan maksa mereka buat cerai gitu?" Kesal Dinda, ia benar benar jengah dengan sifat egois Indra.


Indra terdiam sejenak, memang yang dikatakan Dinda benar, tapi ia benar benar laki laki egois, keinginannya untuk memiliki Kirana sangat lah kuat. Jadi ia pun menjawab


"Iya, aku akan memaksa mereka untuk bercerai" ujarnya membuat Dinda melongo tak percaya, sahabatnya ini memang sudah tidak waras.

__ADS_1


"Lu benar benar gila Ndra, gak waras lu, lu punya otak gak sih? ya Allah, gue nyesal punya sahabat kayak lu, kecewa gue" Bentak Dinda,


"Gue----" belum habis Indra berbicara Dinda langsung memotongnya.


"Gue gak mau dengar omongan lu lagi, sumpek gue dengar suara lu" ujar Dinda membuat Indra mendengus kesal.


Dinda pun ingin mengetuk pintu kamar Kirana, tapi Indra dengan sombongnya mencibir Dinda.


"Palingan juga gak dibukain, gue aja dari tadi ngetuk gak dibuka" Cibir nya, Dinda hanya memutar bola matanya malas.


"Itu lu, bukan gue, gue ini sahabat kesayangannya Ran sekarang, walaupun lu juga sahabat kesayangan nya dia, tapi gue yakin sekarang Ran kecewa berat sama lu, liat aja kalau gak percaya, kalau pintu terbuka, perkataan gue benar adanya"


Skakmat, ucapan Dinda membuat Indra terdiam. Sebenarnya Indra juga tau itu, tapi dia menepis semuanya.


Tok.....tok....


"Ran, ini gue Dinda, bukain donk pintunya" Panggil Dinda lembut


Ceklek....


Pintu terbuka, Dinda menatap Indra dan bersmirk sombong.


"See!" ucapnya.


Indra ingin menerobos masuk, tapi dengan sigap Dinda mendorong badan Indra dan masuk lalu mengunci pintunya cepat.


Setelah Dinda masuk kekamar, ia melihat Kirana berdiri menatapnya dengan mata sembab, rambut hitam legamnya berantakan. Kirana berlari memeluk Dinda erat, dan menangis sejadi jadinya di pelukan sahabatnya itu.


Dinda juga tak kuasa menahan tangis, jadilah mereka berdua menangis sesegukan, Dinda menuntun Kirana duduk di tepi ranjang, ia dengan lembut mengusap punggung Kirana.


"Apa yang harus aku lakukan Din?" Gumam lirih Kirana bertanya

__ADS_1


"Tenanglah, aku disini, aku akan selalu bersamamu sahabatku, kuatlah, jalanilah, kita akan hadapi sama sama" Dinda memberi kekuatan untuk Kirana.


...******...


__ADS_2