
Zian tersentak dalam lamunan ketika Kirana mencium pipi nya. Zian menatap Kirana yang sudah tersipu malu. Pipi Kirana merah merona bak kepiting rebus. Zian jadi gemes sendiri melihat Kirana bertingkah malu seperti itu.
"Yang dicium siapa, yang malu siapa"
Ledek Zian sambil menoel hidung mancung Kirana. Kirana semakin malu dan menutup wajahnya dengan tangan. Zian beranjak dan memeluk Kirana sambil membisikkan sesuatu.
"Ayo.! Kita ehem"
Zian dengan genit menggoda Kirana, refleks Kirana melebarkan mata dan memukul dada bidang Zian pelan.
"Kamu kok genit banget sekarang?" Tanya Kirana disambut kekehan dari suaminya itu.
"Aku kan sudah bilang, siapkan mental dengan kelakuan ku yang sesungguhnya" Kirana mengerutkan dahi sambil tersenyum tipis.
"Ayo hum...!" Zian masih merayu Kirana. Sampai sebuah ketukan dipintu terdengar.
Tok....tok....tok....
"Zi, Ran... lagi sibuk tidak? Ada mama Na sama papa Teguh diluar, turun lah sebentar.!"
Ternyata Rita yang mengetuk dan memanggil menantu dan putrinya keluar. Kirana bangkit membuka pintu.
Ceklek....
"Iya bu," Kirana membuka pintu menatap sendu Rita.
"Zian di cari mama Na loh Ran, dia sangat ingin ketemu Zian" jelas Rita, Kirana hanya diam terpaku. Dia sudah membujuk Zian, hanya saja Zian tetap tidak mau bertemu pasutri tersebut.
Zian menghampiri Kirana di pintu sambil menyapa Rita. Rita tersenyum dan mulai berbicara tentang kedatangan Teguh dan juga Karina.
"Zi... Mama Na ingin ketemu kamu. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan padamu nak"
Zian hanya menatap penuh ekspresi bingung. Ia mulai menerka nerka tujuan kedatangan Teguh dan juga Karina bertemu dengannya. Apa mereka ingin menanyakan kapan dia dan Kirana bercerai. Tepukan Kirana di pundak Zian membuat Zian terkejut. Ia menatap Kirana sendu.
__ADS_1
Melihat tatapan sendu Zian, Kirana pun menenangkan Zian dengan mengusap pundak Zian. Rita heran melihat anak menantu yang sedikit tidak nyaman mendengar nama Teguh dan Karina dia sebut. Rita penasaran dan bertanya.
"Ada apa Zi? kok ibu liat kamu kayak tidak nyaman mendengar nama mama Na dan papa Teguh? kamu tidak ingin bertemu mereka berdua?"
Zian menghela nafas berat. Ia menundukkan kepala setelah itu mengangkat menatap Rita. Rita mencari jawaban di air wajah Zian. Ia sedikit mengerti dan mulai memberi wejangan untuk menantu kesayangannya itu.
Rita menarik nafas "Hhhh.... ibu mengerti sekarang. Apa kamu masih sakit hati dengan mama Na karena dia pernah menyuruh kamu dan Kirana bercerai?"
Kirana dan Zian hanya saling menatap satu sama lain. Mereka berdua bingung, bagaimana bisa orang tua perempuan mereka ini mengetahui isi kepala mereka berdua. Menyadari kebingungan anak menantu nya Rita hanya tersenyum.
"Ibu kok bisa tahu? padahal aku tidak bilang apa apa" ujar Zian
"Kamu anak ibu. Ibu tau semua yang ada dipikiran mu itu. jadi gak usah ngelak atau apa itu. Sekarang lebih baik kalian turun dan temui mereka berdua.! selesain masalahnya"
"Tapi bu. Aku gak mau berurusan dengan mereka berdua. Aku ingin hidup tenang aja" Zian tetap tidak ingin bertemu Karina dan Teguh.
Melihat keteguhan Zian yang tidak bisa dipatahkan, Kirana berusaha membujuk untuk yang terakhir kalinya.
"Ayo lah hon,! kita temui mama Na sama papa sekali aja hum. Kita dengar hal penting apa yang mau mereka sampaikan" bujuk Kirana kepada Zian.
"Oke." jawab singkat Zian. Rita dan Kirana pun tersenyum.
...*********...
Sekarang ini diruang tengah sudah ada Chiko Teguh dan juga Karina yang sedang menunggu Zian. Sudah 30 menit mereka menunggu Zian, tetap aja Zian tidak menampakkan batang hidungnya kepada mereka bertiga.
Karina sudah sedih dari tadi. Karena ia sudah merasa kalau Zian tidak mau menemui dia. Sudah banyak yang ia lakukan yang membuat hati Zian tergores luka. Jadi dia sudah putus asa kalau semisal Zian tidak akan mau menemui nya.
Teguh memperhatikan raut wajah Karina yang sudah berbalut sedih. Dia mendekati istrinya dan menggenggam tangan Karina sambil tersenyum mengangguk.
"Jangan berpikir yang aneh aneh. Insya Allah Zian pasti mau menemui kita" yakin Teguh kepada Karina istrinya walau dia sendiri tidak yakin.
Beberapa menit kemudian nampak Kirana dan Rita menuruni tangga. Wajah Karina dan Teguh langsung sedih, karena mereka tidak melihat Zian bersama mereka berdua.
__ADS_1
"Zian tidak mau menemui kami kah?" sedih Karina bertanya kepada Rita dan Kirana ketika mereka smpai didepan Karina.
"Hmm itu---" Karina langsung memotong ucapan Rita
"Dia pasti sakit hati karena aku selalu menghina dan mengatai dia bahkan menyuruh dia bercerai dari Ran" sendu Karina.
"Bukan gitu ma, Zian tadi kekamar mandi dulu" Kirana menjelaskan tapi Karina tidak percaya.
"Ran... Tidak usah menyembunyikan apa apa dari mama. Kamu jujur aja, Zian beneran kan tidak ingin bertemu mama?"
"Memang ada hal apa anda berdua ingin bertemu dengan ku?"
Zian tiba tiba muncul sudah siap dengan setelan kantornya. Tapi dengan wajah datar dan dinginnya dia. Bahkan hawa di ruangan itu menjadi sedingin di kutub Selatan. Chiko bahkan sempat menggosok badannya seakan merasakan hawa dingin.
"Zian" Gumam mereka yang berada disitu serentak.
"Zian, mama ingin berbicara dengan mu." ucap Karina senang ia mendekati dan ingin memeluk Zian. Tapi Zian refleks memberi gerakan mundur yang menandakan ia tidak ingin didekati.
"Anda mau berbicara apa? kalau tidak terlalu penting aku ingin ke kantor" datar Zian.
"Mama---" Zian langsung memotong ucapan Karina.
"Maaf. aku sedikit tidak nyaman dengan sebutan anda tersebut. Karena dulu anda melarang ku untuk memanggil diri anda dengan sebutan 'Mama', anda lupa bahwa aku bukan lah siapa siapanya anda, anda tidak melahirkan aku dan bahkan menyesali telah mengganggap ku sebagai anak, apalagi aku hanya lah seorang anak dari keluarga broken home ini"
Jedaaar......
Penuturan panjang lebar Zian membuat Karina meneteskan airmata tanpa sadar. Dia sadar ternyata perkataannya dulu sangat menyakitkan bahkan melukai hati Zian terlalu dalam.
"Tolong...jangan suruh aku menceraikan Ran. dan jangan temui aku lagi, aku bukan siapa siapa kalian. Maaf telah membuat kalian sakit hati"
Setelah mengatakan itu, Zian pun meninggalkan Karina yang tertegun. Teguh juga tidak mampu mengatakan apapun bahkan sekedar menjelaskan kedatangan mereka berdua. Chiko Rita bahkan Kirana hanya diam terpaku.
Mereka tersadar ketika mendengar isakan pilu dari Karina. Teguh dengan sigap menangkap tubuh Karina yang hampir oleng. Dia menuntun sang istri untuk duduk disofa dan mendekap nya erat.
__ADS_1
...******...
...𝙃𝙚𝙡𝙡𝙤 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙝𝙖𝙩𝙞. 𝙟𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙖𝙣𝙙 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙮𝙖. 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙪𝙥. 𝙩𝙝𝙖𝙣𝙠𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜. 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙖𝙣𝙟𝙪𝙣𝙜. 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙩𝙪𝙡𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧. 𝙩𝙝𝙖𝙣𝙠𝙨 𝙪... 🥰🥰...