The Crazy Testament

The Crazy Testament
Kemarahan Indra


__ADS_3

Zian dan Kirana sedang dalam perjalanan pulang, Zian berinisiatif mengantar Kirana pulang kerumahnya, walaupun sebenarnya ia enggan untuk berurusan dengan Kirana lagi. Karena rencana ia dan ketiga Sahabatnya membuat Kirana kembali ke Zian yaitu dengan cara Zian kembali ke sifat dia dulu.


Tapi karena cinta Zian terlalu besar, ia pun menawarkan diri mengantar Kirana sampai kerumah, apalagi kemarin mereka berdua habis bergumul tanpa henti, pasti Kirana sekarang kesakitan dan lelah.


Sesampainya Zian dan Kirana di halaman rumah Kirana, Zian bisa melihat bahwa ada kedua orang tua Kirana dan juga Indra yang baru turun dan menyapa orang tua Kirana.


Mobil Zian berhenti, Kirana pun turun disusul Zian. Zian ingin menyapa orang tua Kirana yang masih berstatus mertua baginya itu, tapi atensinya mendapati Indra yang memandang padanya dengan sorot mata kebencian dan juga kemarahan. Zian cuek saja, ia tetap mendekati kedua mertuanya tersebut.


"Assalamualaikum ibu, ayah, apakabar?" basa basi Zian sambil mencium takzim tangan kedua mertuanya.


"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah kami berdua baik, kamu dan Kirana dari mana?"


Rita menyambut antusias kedatangan menantunya yang hampir seminggu tidak pernah ia lihat.


"Kita ngobrol didalam aja, ayo masuk dulu kalian, sambil kita ngopi" ajak Chiko, tapi Zian menolaknya halus


"Maaf ayah, Zian harus kekantor" ucapan Zian sukses membuat Indra tertawa sinis.


"Hahaha....kantoor? kantor mana? kalau yang lu maksud itu kantor bokap gue, lu gak usah datang lagi, lu gak punya hak untuk itu" sinis Indra terkekeh sombong


Zian hanya tersenyum, ia tidak menanggapi penghinaan Indra kepadanya, terlalu merepotkan meladeni manusia tak punya akhlak didepan nya ini.


"Ya udah ayah, ibu, Zian pamit dulu" Zian melangkah pergi bahkan tidak berpamitan dengan Kirana ataupun Indra.


Sepeninggal Zian, Indra langsung menginterogasi Kirana, kemana Kirana dan Zian pergi.


"Lu darimana sama Zian, Ran?" pertanyaan Indra juga membuat Rita dan Chiko penasaran.


"Iya nak, semalam juga kamu cuma pamit nginap, gak bilang nginap dimana, ternyata sama Zian?"


Cerocos Rita membuat wajah Kirana sudah merah merona karena mengingat apa yang terjadi kepadanya dan Zian, Indra yang mendengar itu pun raut wajahnya menjadi gelap.


"Apa? lu nginap bareng Zian, Ran?" bentak Indra, membuat Kirana mengernyitkan dahinya.


"Kalau iya kenapa? kenapa lu bentak gue" ketus Kirana, ia pun meninggalkan Indra yang mengepalkan tangannya karena marah.

__ADS_1


"Ndra, mau masuk ngopi bareng ayah?" ajak Chiko, ia tau perubahan wajah sahabat anaknya ini.


"Gak usah ayah, aku permisi dulu" ucapnya melengos meninggalkan Chiko dan Rita yang saling menatap.


...******...


"Arrrrrgghhhh...."


Prang......prang.....pletak...braak...


Suara bantingan vas bunga, bingkai foto dan juga peralatan yang tersimpan diatas nakas kamar Indra berserakan di lantai, Indra mengamuk. Ia marah.


"Ziaaan, kau lelaki kurang ajar, aargh aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi kepada mereka berdua"


Ia mengamuk lagi dengan menarik selimut dan sprey yang menutupi kasur empuknya.


"Lihat ZIAN....aku akan membuat perhitungan denganmu.!" teriaknya dengan nafas memburu


Ia terduduk dilantai dingin kamar tersebut. Ia menyesali kebodohannya yang dulu, kenapa ia menulis surat wasiat itu, kenapa, ia memukul kepalanya marah.


...******...


Dinda dan duo curut sedang makan siang di sebuah cafe dekat Perusahaan ZIHER Group, Perusahaan yang dibangun oleh Zian dan Herry ini adalah sebuah Showroom mobil dan motor, Perusahaannya baru satu tahun tapi sudah termasuk terbesar di Indonesia, ntah kenapa mereka berpikir membangun Perusahaan yang bergerak di bidang penyedia kendaraan ini.


Dinda juga sudah menjadi sekretarisnya Herry, hanya Zian yang tidak memiliki Sekretaris karena dia adalah pemilik Showroom tersebut. karena Herry menjabat sebagai wakil Direktur yang selalu punya pekerjaan sedangkan Zian sang Direktur hanya akan datang kekantor kalau ada keperluan mendesak.


Mereka bertiga sedang fokus menyantap makanan didepan mereka masing masing ketika Zian muncul dengan kacamata beningnya, ia langsung duduk bersama ketiga sahabatnya tatkala melihat ketiganya sedang fokus makan.


"Eh...udah sampe aja, gimana kemarin? sukses jebol?"


Pertanyaan frontal Dinda membuat Rifal dan Herry mendelik, mereka berdua bingung sama anak perempuan satu ini, kenapa tidak ada rasa malunya sedikitpun.


"Lu mank gak punya urat malu ya Din, pertanyaan macam tu kenapa harus ditanyakan hah?" geram Herry, Dinda hanya terkekeh begitupun Zian, ia terkekeh malu.


"Loooh, salah aku dimana? kan betul rencana kita untuk bisa Zian jebolin Ran"

__ADS_1


Tuk......


Sendok makan yang di pegang Rifal sukses mengenai jidat Dinda.


"Yaaaaak, are u crazy? kenapa lu pukul gue? pake sendok lagi, kalo gue jadi monyet gimana?" seru Dinda berapi-api, membuat mereka bertiga tertawa terpingkal pingkal.


"Sejak bile pukul pake sendok jadi monyet ke? tak tau saye" Rifal berbicara mengeluarkan logat Malaysianya sangking pecah dia tertawa.


"Din, kamu dapat mitos darimana? masak ada orang dipukul pake sendok jadi monyet?" Herry masih tertawa dengan memegang perutnya dan menghapus air disudut matanya.


"Ho oh....aku baru dengar" timpal Zian.


"Kalian mah mana tau mitos Indonesia, orang kalian bukan dari Indonesia" sombong Dinda.


"Helloooo....kami tau ya mitos di Indonesia apa aja, dan gak ada mitos pukul kepala jadi monyet, search aja di google, ngadi-ngadi aja ni cewek gila" sungut Herry


Dinda mengerjap ngerjapkan matanya, lalu ia cengengesan. "Gak da ya? hehehe aku pikir ada" ucapnya tersipu malu.


Mereka bertiga tertawa dan terus mengejek Dinda, Dinda sangat kesal di buat tiga pemuda tersebut.


...******...


Disisi seberang cafe, ada dua orang pemuda yang mengawasi gerak gerik Zian dan the genk. Mereka seperti membahas sesuatu.


"Kita akan terus pantau kegiatan pemuda yang berkacamata itu, dan kita akan laporkan ke bos" ucap pemuda bertubuh kekar dan tinggi.


"Setelah itu apa yang akan kita lakukan bang Man" tanya pemuda bertubuh cungkring seperti tiang itu.


"Kita tunggu dia sendirian dulu, baru kita lancarkan aksi kita sesuai arahan dari si bos" jawab pemuda yang dipanggil bang Man tadi.


"Ay ay captain" Jawab pemuda cungkring dengan gerakan seperti tentara.


Mereka berdua bersmirk menyeramkan dengan mata tak lepas dari keempat anak manusia yang tidak menyadari bahwa bahaya mengintai Zian sang sahabat.


...******...

__ADS_1


__ADS_2