The Crazy Testament

The Crazy Testament
Kesepakatan


__ADS_3

Kirana menatap bingung tampang serius kedua orang tua dan juga sahabat baiknya itu.


"Kenapa wajah ayah, ibu dan kamu Din serius kali? Ada apa?" tanya Kirana polos


"Ya ampun Ran, kamu tanya ada apa? Perasaan tadi kamu yang uring-uringan sampe marahin aku" jawab Dinda sambil geleng-geleng kepala


"Ran, gimana? Kamu yakin dengan keputusan kamu itu?, apa kamu gak mikir ulang dulu?" tanya Rita cemas, ia tidak ingin anaknya ini salah mengambil keputusan


"Iya Ran, ayah masih belum bisa terima dengan keputusan kamu, mumpung mereka belum sampe sini, kamu bisa mikir-mikir lagi" saran Chiko kepada anak semata wayangnya itu


"Hmmm.... Ran juga bingung yah, bu sama keputusan Ran, apakah keputusan Ran ini sudah tepat atau belum, hanya saja Ran tidak mampu menolak permintaan Indra, Ran seperti orang bodoh sekarang ini" jelas Kirana dengan mata berkaca-kaca, ia tau bahwa hidupnya dipertaruhkan disini.


Chiko dan Rita hanya memandang iba terhadap anak mereka saat ini, karena rasa persahabatan yang ia punya membuat ia harus mengorbankan kebahagiaannya, dan mereka tidak bisa sedikit pun melarang Kirana, mengingat Indra juga sudah seperti anak kandung mereka.


15 menit kemudian, mobil Teguh pun terdengar diluar, Kirana semakin tidak tenang, hatinya sudah berdetak tak karuan dari tadi, ia masih menimbang-nimbang apakah keputusannya sudah tepat ataukah salah.


kedua orang tuanya pun menyambut Teguh, istri beserta Zian di depan, dan terdengar mereka sedang berbincang. Kirana memandang Dinda dengan cemas, Dinda tau sekarang ini sahabat kesayangannya itu sedang dilanda dilema parah, ia hanya tersenyum menenangkan


"Ikuti kata hatimu Ran, apapun keputusanmu, semoga itu akan membuatmu bahagia" Dinda mengelus punggung Kirana memberi ketenangan. Kirana terus menarik nafas dan menghembusnya pelan.


Mereka pun masuk yang disambut oleh Dinda, Kirana pun masih mematung ditempatnya, ia berdiri sejak tadi saat kedua orang tua Indra beserta Zian masuk kerumahnya, Kirana tau bahwa Zian meminta bantuan kedua orang tua Indra tuk melamarnya.


Zian terlihat gugup memandang semua yang ada disitu, ia tersenyum kikuk kepada kedua orang tua Kirana dan juga Dinda, sedangkan kepada Kirana ia sangat canggung, wajahnya langsung datar ketika menatap Kirana.


...***...


"How is the condition? There is progress? (bagaimana kondisinya? apakah ada kemajuan?)" yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya kepada yang bertanya.

__ADS_1


"Okay..always control the condition, and report it to me.! (oke..selalu kontrol kondisinya, dan laporkan padaku)" sambungnya lagi yang diangguki setuju oleh lawan bicaranya.


Mereka berdua menatap tubuh manusia yang masih tidak menampakkan kemajuan apa-apa itu, bahkan masih seperti pertama kali ia datang, dokter seakan menyerah dan hanya menunggu keajaiban datang, dan ntah kapan keajaiban itu datang. Atau harapan para dokter yang merawat hanya sebatas jadi sebuah harapan saja.


...***...


Sudah 5 menit berlalu, mereka berdua hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun, asik berselancar didalam pikiran masing-masing, Zian menghela nafas berat, ia bingung harus memulai dari mana agar tidak mengagetkan Kirana, itulah sebabnya ia tidak mengucapkan sepatah katapun sedari tadi.


(Flashback on)


"Bu, pak sebelum pembicaraan masalah pernikahan dilanjutkan, aku ingin berbicara dulu dengan Kirana" ujar Zian


"Ooh....oke, gak masalah, kalian memang butuh berbicara dari hati kehati dulu, sebelum benar-benar menempuh kehidupan baru" ucap Chiko


"Ya silahkan, semoga kalian bisa mendapatkan keputusan yang tepat" ujar Rita sambil menatap anak gadisnya


Dan sekarang mereka sedang duduk di pondok belakang rumah Kirana, saling diam, tanpa mengatakan apa-apa sedari tadi, Kirana mulai jengah, dan memutuskan untuk berbicara terlebih dulu.


"Katanya mau bicara berdua, kok diam aja dari tadi?" pertanyaan Kirana membuat Zian tersentak kaget, ia tidak menyangka ternyata Kirana berani berbicara santai kepadanya.


"Oo okay, aku tidak akan berbelit langsung to the point aja" ujarnya datar


"Yaa, ada apa? Langsung aja, aku juga tidak ingin lama-lama disini, gerah" ucap Kirana kesal


"Aku menawarkan kesepakatan dengan mu" ucapnya tanpa ragu yang dibalas tatapan penuh tanda tanya dari Kirana


"Kesepakatan? Kesepakatan apa? Jangan ngada-ngada deh," ucapnya bingung

__ADS_1


"Kesepakatan pernikahan, kalau kamu sudah setuju kita berdua menikah, berarti kamu harus setuju dengan kesepakatan yang aku buat" ucapnya lagi


"Maksudnya?" tanya Kirana


"Bukankah kita setuju menikah ini hanya karena Indra? Kita tidak saling mencintai, benarkan?" tanya Zian menatap Kirana, Kirana mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Zian.


"Jadi kalau kamu setuju dengan pernikahan ini, aku ingin membuat sebuah kesepakatan dengan mu, kesepakatan yang saling menguntungkan dikedua belah pihak, antara kau dan aku" jelasnya membuat Kirana melongo tak percaya


"What the f**ck, maksud lu kayak pernikahan kontrak gitu?" umpat Kirana membuat Zian kaget tak menyangka gadis didepannya ini bisa juga berbicara kasar. apalagi panggilan berubah dari aku-kamu, jadi lu-gue.


"ternyata kamu bisa berbicara kasar juga" sindirnya kepada Kirana, Kirana hanya menatapnya tajam tanpa berniat membalas sindirannya


"lu setuju gak? kalau gak, gue gak jadi nikahin lu, biarkan saja wasiat Indra terabaikan, lagian kasih wasiat bikin gila aja" decak Zian, Kirana hanya menatap Zian malas.


"oke, aku setuju, apa kesepakatan dan syaratnya" pasrah Kirana, lagian ia juga diuntungkan pikirnya.


Menikah dengan orang yang tidak kita cintai sama sekali, bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi Cintanya sudah sepenuhnya untuk Indra. Jadi, membuat sebuah kesepakatan adalah hal yang wajar pikirnya lagi.


"Oke, dengerin gue baik-baik, kita memang akan menikah, tapi kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing, dan gue harap lu gak bakalan jatuh cinta sama gue, karena gue juga gitu, gak bakalan jatuh cinta sama lu. ingat pernikahan kita hanyalah untuk menunaikan wasiat dari seorang sahabat, kita nikah untuk satu tahun atau dua tahun saja, setelah itu gue akan menceraikan lu dan kembali ke negara gue setelah itu urusan kita selesai, Done. Yang penting kita sudah menunaikan wasiatnya Indra kan, gimana? lu ada hal yang mau lu sampaiin?"


Kesepakatannya tidak buruk juga pikir Kirana, jatuh cinta dengan pemuda dingin seperti Zian tentu tidak mungkin pikirnya lagi. Lagian dia mencintai Indra.


"Okee,..gue setuju banget, tapi ada syarat lain lagi, setelah kita menikah, kita tidak tidur sekamar, pisaaah...dan tidak ada yang namanya sentuh-sentuhan, dan lu bener-bener gak boleh sama sekali mencampuri urusan pribadi gue, karena gue memang gak bakalan ikut campur urusan lu" timpal Kirana yang disetujui oleh Zian.


"Nanti gue bakalan buat dokumennya biar elu tanda tangan" ucap Zian dan diangguki setuju oleh Kirana.


Kesepakatan mereka di akhiri dengan jabat tangan diantara keduanya, tanpa mereka sadari bahwa cinta itu sangatlah mudah bersemayam tatkala dua insan sudah terbiasa bersama. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya, apakah mereka memang akan berpisah atau akan terus bersama.

__ADS_1


...******...


__ADS_2