
...Semua sungai ada ujungnya, semua lembah ada dasarnya, semua Laut ada pantainya, setiap rasa sakit ada penyembuhnya. Begitupun setiap masalah pasti akan ada penyelesaian nya. Seperti kata orang "Mana hujan yang tidak akan berhenti, pasti akan berhenti juga. Karena dari gelap pasti terbitlah terang"...
...Rifaldi...
...****************...
Drrttttt.......Drrttt......
Getaran disusul Deringan gawai seseorang pun terdengar, dengan tergopoh-gopoh pemuda tampan itu berlari menuju letak gawainya itu.
"Assalamualaikum, iya ada apa?" Herry yang masih berbusa sabun dengan handuk melilit dipinggang menerima panggilan dari seberang.
"Yo man, whats up" suara semangat diseberang sana membuat Herry geleng-geleng kepala.
"Salam dulu ogeb, hadeeh....gak ada Sopandi nya jadi manusia" Herry geram dengan sikapnya Dinda, tapi dalam diam dia tersenyum.
"Sopandi warga daerah mana tuh? kok disebut-sebut?" Dinda terkekeh. Dan dia melupakan perihal apa yang membuat dia menelepon sahabat nya ini.
"Itu yang jualan siomay depan kantor...hehe" Herry juga terbawa suasana berbicara dengan Dinda.
Dinda asik ngalor ngidul dengan Herry sampai melupakan tujuan utamanya, Sampai Rifal menegur.
"Din, kenapa pembicaraan kalian jadi kemana-kemana kek bajai cari penumpang?" tanya Rifal. Herry yang mendengar suara sahabatnya itu pun heran.
"Loh kok ada curut Rifal disitu?" bingung Herry.
Dinda tanpa sadar menepuk jidatnya sendiri dan terkekeh.
__ADS_1
"Aduuh Her, gue jadi lupa tujuan gue nelpon lu, lu lagi dimana? gue sama Rifal da kabar penting ni, lu cepetan ke cafe dekat kantor" ucap Dinda.
Herry masih penuh tanda tanya. Kenapa mereka berdua bersama, apa yang mereka bicarakan tanpa ada dia. Kemudian dia sadar kalau dia masih berbalut handuk dan berlumuran sabun.
"Her, Herry....masih hidup kah?" Panggilan Dinda membuat Herry tersadar.
"Kenapa kalian gak kerumah Zian aja, gue semalam nginap disini"
"Eh, lu ngapain nginap disitu? pantesan Rifal ke apart lu, lu nya malah kagak ada" Tanya Dinda
"Guee....Dah lah, gue mau lanjut mandi. Gue tunggu kalian disini"
Herry menutup gawainya dan berlari ke kamar mandi, tapi tanpa hati-hati. Alhasil dia terpeleset dan terjengkang dengan kaki di atas.
"Astaghfirullah..... Benar-benar sial. Hiks..sakit" rengeknya sambil menarik handuknya yang sempat longgar.
Dengan hati-hati Herry berjinjit melangkah dengan pelan ke kamar mandi. Salahnya yang telah membuat kamar di rumah Zian yang sudah jadi miliknya itu basah dengan tetesan air dan sabun dari tubuhnya sendiri.
"Gimana Din? Herry bakalan datang gak" tanya Rifal
"Dia malah nyuruh kita kerumah Zian" Ujar Dinda masih fokus mengotak-atik gawainya.
"Hah? gue ke Apartnya dia malah kerumah. Ya udah kita kesana aja, tapi tunggu teman gue datang dulu" Ujar Rifal.
15 menit kemudian, seseorang menghampiri Rifal dan Dinda yang sedang sibuk dengan gawai mereka. Pria berjaket hitam dan bertopi itu menyapa Rifal.
"Bro, sudah lama menunggu kah?" sapa pria tinggi tegap itu.
__ADS_1
"Oh Nando, akhirnya lu datang juga. Gue udah tunggu lu dari tadi. Ayo duduk dulu!" Rifal menyambut pria tinggi tegap yang bernama Nando itu dengan ramah.
"Sorry bro, banyak tugas gue hari ini. Apalagi yang lu suruh ini sungguh menyita waktu gue, tapi untungnya banyak yang bantu, jadi lumayan dapat petunjuk" ucap Nando serius.
"Mank lu benar udah Nemu titik terangnya?" tanya Rifal dengan mimik penasaran.
"Gak semua sih. Tapi kita bakalan ngumpulin satu persatu petunjuk nya" senyum Nando di akhir.
"Kalian berdua dari tadi ngomongin apa sih?, gak da kah yang kasih penjelasan ke gue gitu?" Teguran Dinda membuat Rifal terkekeh dan ia meminta maaf karena lupa akan hadirnya Dinda diantara ia dan Nando.
Rifal menjelaskan kepada Dinda apa yang sedang ia rencana kan. Ternyata selama ini Rifal meminta pertolongan temannya Nando yang berprofesi sebagai Detektif untuk menyelidiki kejadian yang menimpa Zian.
Dan Nando pun menceritakan apa yang sudah ia temui didalam penyelidikan nya itu. Yang membuat mulut Dinda ternganga Dinda tidak percaya bahwa Rifal ternyata sampai menyewa Detektif untuk masalah ini. Dinda diam-diam mengagumi sosok Rifal yang cekatan dalam mencari petunjuk masalah Zian. Walaupun harus ada ikut campur tangan orang lain.
"Loh Din, kenapa malah cengengesan sendiri?" tanya Rifal setelah melihat perilaku aneh Dinda yang senyum-senyum sendiri.
"Gue lagi main game, ada yang lucu makanya ketawa" Dalih Dinda, dia tidak mau ketahuan karena senyum-senyum mikirin Rifal. Gengsi dong.
"Ya udah bro, gue permisi dulu. Nanti kalau ada perkembangan lagi, gue calling lu. Gue lagi ada urusan di kantor"
Nando meminta izin untuk duluan, karena ada kerjaan. Sedangkan Rifal dan Dinda juga ikut meninggalkan cafe menuju kerumah Zian dimana Herry berada disana.
Mereka ingin memikirkan langkah selanjutnya yang harus di ambil. Terlalu lama sudah masalah ini berlalu tanpa adanya titik terang sedikitpun. Kasian Zian, yang sudah lama sekali berpisah dari Kirana. Dengan kondisi Kirana yang sedang hamil membuat tekat mereka menemukan biang keladi yang sudah merusak rumah tangga sahabat mereka itu semakin kuat.
Didalam perjalanan untuk bertemu Herry, Dinda berucap lirih.
"Gue mau semua masalah Zian dan Kirana selesai dengan cepat. Gue mau Kirana sadar kalau semua ini benar adanya sebuah jebakan semata. Gue berharap semuanya lancar dan Zian kembali kepelukan Kirana"
__ADS_1
Harapan Dinda di aminkan oleh Rifal yang fokus menyetir. Ia sempat menatap Dinda dengan tatapan sedih. Sebelum melaju dengan kecepatan pelan. Biarkan jalan pelan yang penting sampai dengan selamat.
...****************...