
Kirana masih menangis dipelukan Dinda. Dinda bingung harus bagaimana.
"Kau menangisi apa sebenarnya? apa karena perceraian atau apa?" tanya Dinda akhirnya
"Aku pun tak tau Din, aku juga bingung" Hela nafasnya berat
"Aku bingung sama kamu Ran, kau tidak mencintai Zian, tapi kau sekarang menangis dan mengurung didalam kamar, sebenarnya apa mau mu?" katakan lah Dinda kejam sekarang, tapi ia sangat bingung dengan sikap Kirana.
"Aku masih ragu dengan perasaan ku Din, aku tidak rela kehilangan Zian, tapi aku belum tau apakah aku mencintai Zian atau tidak" Kirana menangis terisak isak di dekapan Dinda.
Mendengar Kirana mengucapkan masih ragu dengan perasaannya kepada Zian, Dinda melepas pelukannya lalu memegang pundak kirana.
"Kau egois Ran, tidak ingin melepaskan tapi ragu dengan perasaan, jangan bilang kau memang masih mencintai Indra?" tanya Dinda ragu
"Beri aku waktu Din, aku benar benar bimbang sekarang ini?" isak Kirana.
Dinda menarik rambutnya frustasi, frustasi melihat keadaan Kirana yang terlalu egois, bahkan perasaan sendiri ia masih bingung.
"Ya Allah Ran, kau jangan terlalu lama bimbang dan bingung dengan perasaan mu, pilihlah salah satu di antara mereka berdua yang selalu bisa membuat mu bahagia" saran Dinda
"Karena itulah aku bingung Din, aku tidak ingin menyakiti salah satu di antara mereka berdua." Kirana menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya.
"Jangan selalu terpaku pada masa lalumu Ran, kau lupa siapa yang selama ini membuatmu bahagia? yang selalu berada disampingmu walau selalu kau acuhkan? itu Zian Ran, Zian, tapi kau....Kau mengabaikannya" Bentak Dinda, ia tidak sadar dengan bentakannya, ketika sadar ia cepat cepat meminta maaf.
"Aku benar benar minta maaf, aku tidak bermaksud membentak mu, aku hanya kelepasan" sesal Dinda
Kirana hanya terisak, perkataan Dinda menohok dalam hatinya "Aku memang pantas dibentak Din, aku keterlaluan"
"Sekarang bagaimana? apa yang akan kamu lakukan? Zian sudah melaporkan perceraian kalian ke mahkamah agung, sebentar lagi pasti kau dipanggil untuk mengikuti sidang" ujar Dinda menatap sayu pada Kirana.
Kirana menatap Dinda dengan sorot mata sedih.
"Apa yang harus aku lakukan Din?" Lirihnya
"Berpikirlah, pilihlah salah satu dari mereka berdua, sholat Istikharah lah, agar kau bisa mengambil keputusan yang tepat, kalau memang Zian jodohmu, ia takkan pergi kemana, kalau Indra jodoh mu, berarti Zian harus berlapang dada" Nasehat Dinda.
Tapi jauh di lubuk hati Kirana, ia masih ingin Zian disampingnya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Indra juga berperan penting di hidupnya. Egois memang, Kirana hanya tidak ingin kehilangan mereka berdua, orang yang sangat penting di hidup Kirana.
...******...
Esoknya Herry datang kerumah orang tuanya Kirana, tujuannya untuk memberikan surat cerai dari Zian.
Tok.....tok....tok
Ceklek .....
__ADS_1
Rita berdiri didepan pintu tersenyum kepada Herry, ia tidak tau sama sekali tujuan pemuda bule didepannya ini datang untuk apa.
"Nak Herry, masuk sayang " sebelum Herry masuk, tiba tiba Indra nongol ntah darimana.
"Ngapain lu kesini Her?" Herry berbalik menatap Indra dengan sorot mata kebencian.
"Gak da urusan sama lu, gue cuma mau ketemu Kirana, ada hal yang mau gue sampein ke dia" ketus Herry,
Indra tersenyum mengejek "Hal penting apa? kasih tau gue aja, gue calon suami dia"
Perkataan Indra membuat Rita terkejut, ia tak menyangka Indra senekat itu mengklaim Kirana calon istrinya, Kirana sendiri belum mengiyakan, bahkan Zian dan Kirana masih berstatus suami istri.
"Nak Indra, apa yang kau katakan, jangan sembarangan kalau berbicara, Zian dan Kirana masih sah suami istri"
"Bentar lagi mereka juga cerai kok bu" Mendengar ucapan Indra, emosi Herry langsung melonjak ke ubun ubun, tanpa sadar ia sudah melayangkan beberapa pukulan ke wajah manis Indra.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Ketika Herry ingin melayangkan satu pukulan lagi, tangan Herry dapat di tepis oleh Indra. Dan ia langsung berteriak tak terima.
"Apa apaan kau ini hah? kau sudah gila?" Bentak Indra
Herry menangis, ia meneteskan airmatanya, ia tak pernah menangis, tapi hari ini airmatanya jatuh karena membela Zian. Rita juga sudah menangis mendengar menantunya menderita sekarang.
Indra hanya diam mematung tanpa mengatakan apa apa, Herry kembali berucap sendu, sorot matanya sarat akan kesedihan.
"Kau berubah Ndra, kau seperti manusia yang sangat kejam, kau tak pantas mendapatkan cinta Kirana, tapi bodohnya Kirana lebih mencintaimu daripada suaminya sendiri, ciiih..." Decih Herry.
Mendengar Herry mengatai Kirana bodoh, Indra ingin membela Kirana.
"Kau tak seharusnya---" tapi ucapannya langsung dipotong Herry.
"Aku kesini tak ingin mendengar suara mu, bahkan aku sangat muak melihat wajahmu. Bu, berikan surat cerai ini untuk Kirana, Zian yang mengirimkannya, pastikan Kirana menanda tanganinya, karena Zian sudah menanda tanganinya. Kalau begitu aku permisi. Assalamualaikum"
Herry beranjak pergi meninggalkan Rita yang langsung terduduk di sofa menatap sendu kearah map yang di pegangnya. Dan Kirana, ia juga sudah sesegukan di lantai atas, karena sedari pertama Herry menginjakan kakinya keruang tamu, ia mendengar semua perkataan Herry termasuk pertengkarannya dengan Indra.
"Apa yang telah aku lakukan....hiks...hiks...Zian, maafkan aku, kamu dimana sayang..aku gak mau cerai darimu" lirihnya dengan airmata berlinang
...*****...
Zian sedang duduk di sebuah bangku didepan kolam renang rumahnya. Sendirian. Ia sedang memetik gitar mengalunkan sebuah lagu dari sebuah Grub Band lama, lagu Pujaan Hati dari Grub Band Kangen Band jatuh menjadi pilihannya, karena ia pikir lagu itu sangat cocok dengan perasaan nya saat ini.
__ADS_1
Ia menutup matanya dan mulai memetik senar dari gitar tersebut. Dan ia mulai melantunkan suaranya dengan lembut.
Hey Pujaan hati apakabar mu?
Ku harap kau baik baik saja
Pujaan hati andai kau tau
Ku sangat mencintai dirimu
Hey Pujaan Hati setiap malam
Aku berdoa kepada sang Tuhan
Berharap cintaku jadi kenyataan
Agar ku tenang meniti kehidupan
Hey pujaan hati, pujaan hati, pujaan hatiii....
Mengapa kau tak membalas cintaku?
Mengapa engkau abaikan rasa ku?
Ataukah mungkin hatimu membeku
Hingga kau tak pernah pedulikan aku
Suara Zian langsung tercekat, airmata nya kembali luruh. Cengeng memang, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang berada di hatinya ini. Sangat sakit ketika kita mencintai tapi tak pernah mendapat balasan cinta dari orang yang kita cintai.
Kata orang kita akan bahagia melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang yang ia cintai, asal ia bahagia. Tapi Zian tidak munafik, ia merasa sakit tatkala Kirana memikirkan Indra, apalagi ini, Indra sudah kembali. Bukan ia tak senang Indra kembali. Ia bahkan sangat bahagia. Tapi ia terluka, karena Kirana gadis yang sangat ia cintai, tidak pernah mencintainya bahkan setelah setahun bersama.
Ia menangis pilu dengan memegang dadanya yang sesak dan nyeri. Tanpa sadar bahwa dibelakangnya sudah berdiri dua orang yang juga ikut menangis melihat pemandangan yang menyayat hati didepan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Dinda dan Herry. Mereka adalah saksi bagaimana rapuhnya seorang pemuda dingin karena Cinta.
"Aku gak sanggup liat Zian begini, aku juga gak sanggup liat Kirana menderita, mereka harus bersatu, pokoknya harus" tekat Dinda dengan sorot mata sendu.
"Aku akan membantu kalian" ucap salah seorang yang ternyata berdiri dibelakang mereka berdua sedari tadi.
"Rifal?" gumam Herry
"Iya, ini aku, aku akan membantu kalian" ucap Rifal dengan mata berkaca kaca menatap Zian yang sedang menangis.
"Ayo...kita bantu mereka" mereka pun saling mengangguk dan bertos.
...******...
__ADS_1
Disarankan pas baca Zian nyanyi dengerin lagunya kangen band, pasti nangis...😁
Terima kasih telah membaca dan mendukung karyaku ini, aku harap kalian selalu mendukung ku, dengan like, favorit and koment. Thanks u.