The Crazy Testament

The Crazy Testament
Kekhawatiran


__ADS_3

Tepat jam 5 lewat Kirana terbangun saat mendengar azan subuh berkumandang di masjid-masjid terdekat, panggilan sholat tersebut sudah menggema seantero kota.


Kirana bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, setelah itu iapun larut dalam ibadah dan zikirnya merendah dan berserah kepada sang Maha Cipta dan Cinta, ia merasa lemah dan hina sebagai hamba yang tidak mempunyai kekuatan melainkan dari-Nya.


Kirana masih larut dalam doa dan pengaduannya ketika Rita mengetuk lembut daun pintu kamarnya, lembut suara ibunya memanggil dari seberang pintu


"Sayaang, Kiranaaa, Raaan...bangun nak subuh duluu" serunya, Kirana yang sudah selesai sholat pun berdiri dan membuka pintu, melihat Kirana dalam balutan mukena, Rita pun tersenyum


"Eh, anak ibu ternyata udah bangun dan sholat, Alhamdulillah kalau gitu, ibu kedapur masak dulu" sambil mengusap kepala Kirana, sepeninggal Rita kedapur ia pun kembali melanjutkan zikirnya.


Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, ia memutuskan melipat mukena dan turun kebawah dimana Rita samg ibu masih berkutat dengan peralatan masak. Kirana pun menghampiri Rita bermaksud menolongnya.


"Apa yang bisa Ran kerjain bu?" tanyanya saat Rita masih sibuk memotong bakso dan beberapa sayur seperti kentang, brokoli dan juga wortel, dan Kirana bisa menebak kalau ibunya ingin masak sayur sop


"Atur piring aja dimeja, sekalian ini telur oreknya masukin ke piring" arah Rita pada anak gadisnya, memang dari dulu urusan dapur Rita hanya menyuruh Kirana melakukan hal-hal kecil seperti menata piring di meja, jarang menyuruh Kirana memasak didapur, selagi menata piring di meja, Chiko datang membawa dokumen-dokumen perusahaan yang sedang dipelajarinya.


"Raan, ini laporan masalah proyek kemarin kok banyak salahnya ini?" tanya ayahnya yang membuat ibunya langsung kesal


"Ayah ini...dirumah juga malah bahas kerjaan, kan udah ibu bilang kalau dirumah jangan bahas kerjaan, sampai dikantor aja nanti bahas kerjaan, dirumah itu waktunya sama keluarga" seru Rita bersungut-sungut dan menatap suaminya geram


"Laah ibu ini toh, ayah kan cuma bertanya sebentar, karena laporannya mau ayah revisi, nanti siang mau ada rapat sama klien" ujar Chiko membela diri


"Ibuuuu....sudah, ini laporan Ran yang kerjain, Kalau banyak salah kan wajar ayah tanya sama Ran, sinii yah kita kerjain sama-sama, mungkin pas buat Ran lagi gak fokus" ucap Kirana lalu mengajak sang ayah keruang kerjanya, mereka bisa mendengar Rita ngedumel sendiri yang membuat mereka berdua senyam-senyum geli.


...****************...


15 menit kemudian Rita menghampiri suami dan anaknya bermaksud mengajak sarapan, karena makanan sudah siap dan tertata rapi diatas meja, mereka pun kompak mengiyakan ajakan wanita yang paling berharga di hidup mereka itu, agar mereka juga tidak mendengar omelan keluar lagi dari mulut wanita kesayangan mereka.


"Yaaah, Raan... udahan dulu kerjanya, yuk kita sarapan" ajak Rita disertai anggukan mereka berdua, mereka juga sudah siap mengerjakan berkas tadi.

__ADS_1


Selesai sarapan Kirana kembali masuk kamar mengecek jadwal apa saja hari ini, karena semalam dia tidak sempat memeriksanya, terdengar suara klakson mobil didepan, ia pikir itu hanyalah tetangga yang lewat, jadi dia melanjutkan melihat kertas yang tertempel di meja belajarnya, tapi tak lama kemudian ia mendengar ponselnya berdering dan dalam hati ia masih berharap itu Indra, eh malah lagi-lagi Dinda yang menelponnya pagi-pagi begini.


"Bisa gak sih, sekaliii...aja kamu yang nelpon aku pagi-pagi?" tanyanya kesal


Kirana tidak bisa menahan tawanya yang sudah meledak "kerjaan aku banyak kalau pagi, gak sempat pegang ponsel kayak kamu" alasannya masih tertawa


"Alaasan aja," ucapnya kesal diikuti tawa Kirana


"Ya dah jalan-jalan yuuk, aku udah didepan ini, lagi ngeteh bareng ibu" sambungnya lagi sukses membuat Kirana menganga dan tidak bisa berkata-kata.


Padahal Kirana sudah mengetahui tabiat sahabatnya ini yang muncul sesuka hati dirumahnya, mau dipagi butakah, siangkah maupun sore , bahkan pernah tengah malam ketika ia lagi perang kecil dengan papinya, rumah Kirana lah tempat pelariannya, ibu dan ayahnya pun tak pernah mempermasalahkannya mengingat Dinda juga sudah seperti anak kandung mereka.


"Ya Allah....jadi ibu dari tadi sama Dinda?" tanya Kirana kepada ibunya yang sedang duduk di teras rumah bersama Dinda, dua cangkir teh dan berbagai macam kudapan tersedia didepan mereka berdua.


"Iya, pas ayah berangkat kantor Dinda sampe ya ibu ajak ngeteh aja sekalian" ujar Rita


"Yoiii....kamunya aja yang dikamar mengeram, udah netas belom?" tanya Dinda kocak


"Yuuk jalan-jalan, gak ada jadwal kuliah kan kamu? Tanya Dinda


"Gak ada sih, cumaa....pagi ini rencana mau kekantor, siang nanti ada meeting sama klien bareng ayah" ujar Kirana sontak membuat Dinda memasang wajah murung dan cemberut.


"Laah....wajahnya kenapa langsung ditekuk gitu?" tanya Kirana lagi


"Aku tuuh..Mau ajak kamu jalan-jalan pake mobil aku"


Serunya sambil menaikkan dagunya menunjuk kearah sebuah mobil Pajero Sport miliknya yang sudah terparkir rapi didepan rumah, Kirana mengernyitkan dahi sambil ikut menatap kearah mobil tersebut


"Gak usah pasang wajah kayak orang penasaran aja deeh, jeleeek tau" sambungnya lagi membuat Kirana menatap tajam kearah sahabatnya itu

__ADS_1


"Tu..tungguu deh, ini gak mimpi kaaan? Jadi sekarang kalau kemana-mana gak pake kereta butut lagi? Yang katanya keretaaa kesayangaaaan....? Syukurlah" Seru Kirana mengejeknya, Dinda hanya mendelik mengangkat bahu


"Kaaan kamu yang nyuruh aku harus pake mobil biar mobilnya gak rusak, nah ini diaa...aku kan ngikutin saranmu, dah aah...cepat siap-siap, aku tunggu disini, gak lebih dari 10 menit." ujarnya


"Ogaaaahhh..... kalau gak mau tunggu setengah jam, mending pulaang sanaa" canda Kirana sukses buat Dinda kesal Setengah mati.


"Astagfirullah....ibuu liat itu Kirana..." ucap Dinda menatap Rita yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah dua gadis manis didepannya ini.


"Laah ngaduuu, childish banget siiih...." Ia menatap tajam kearah Dinda


"Kejamnya kamu Ran, aku tunggu 10 menit pokoknya, awas aja kalo telat" serunya gak mau kalah, Kirana hanya tersenyum lalu melangkah menuju kamar membersihkan diri dan bersiap-siap.


20 menit berlalu, Dinda sudah dari tadi menggerutu diluar sana, Kirana yang masih dikamar pun mendengar jelas gerutuuan gak sabaran Dinda, ia pun keluar kamar mendapati sahabatnya itu sudah rebahan di sofa sambil sibuk mendengar lagu Majimak *C*heorom nya Blackpink, Kirana tersenyum melihat Dinda yang sekali-kali menggerakkan badannya mengikuti irama musik itu.


...****************...


Mereka pun berangkat menuju pasar tradisional dekat pantai kota mereka, sekedar untuk memanjakan mata dan menghilangkan kejenuhan.


Tatapan Kirana kosong memandang keluar jendela mobil dan sepanjang perjalanan ia hanya diam, membuat Dinda heran dan mengernyitkan dahinya.


"Heiii....Kenapa melamun aja?" tanyanya masih tetap fokus menyetir, dibalas tatapan sendu dari Kirana


"Kamu kenapa sih Ran? Kamu lagi sedih, sedih kenapa? kalau ada masalah kamu kan bisa cerita sama aku, aku siap dengerin kamu 24 jam ..!!" sambungnya lagi yang disambut helaan nafas berat oleh Kirana


"Aku masih teringat sama Indra Din, dari kemarin pikiran ku gak fokus, karena mikirin dia terus, kan kamu tau dia udah 1 minggu lebih gak da kabar" ucapnya lirih, Dinda pun ikut sedih melihat sahabatnya begitu


"Aku tau kamu sangat khawatir sama Indra sekarang, aku juga begitu, tapi kamu juga gak boleh gini, kamu harus mikir keadaan kamu juga, aku sering kali lihat kamu, melamun gak jelas, kalau terus-terusan begitu, nanti berdampak sama kesehatanmu." Jawab Dinda sedikit menasehatinya, hingga Kirana tersadar bahwa yang dikatakan Dinda benar adanya.


Karena sibuk memikirkan Indra, Kirana sering kali kehilangan konsentrasi yang membuat kerjaannya banyak salah, saat kuliah pun ia sering melamun alhasil ia tidak mendengar sedikitpun penjelasan dari mata kuliah itu. Itu semata-mata karena ia selalu memikirkan Indra selama ini, entah kenapa ada rasa cemas, gundah, dan khawatir dilubuk hatinya sekarang ini, ia takut sahabat baiknya itu tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2