
Indra selesai mandi, ia bergegas memakai baju. Setelah siap ia menatap nampan yang berisi sarapan untuknya itu. Ia meraih dan melahap dengan nikmat.
"Enak, apapun makanan yang dikasih mama pasti enak. Aku rindu mama"
Seketika airmata luruh di pipi Indra. mengingat terlalu banyak rasa sakit yang ia torehkan kepada kedua orang tua nya. Ia juga tidak menginginkan itu, hanya saja ia masih egois. Egois untuk memiliki Kirana walau tau Kirana tak sendiri lagi.
"Maafin Indra ma, Indra tidak bisa menyerah dan Indra tak ingin mengalah" sendunya bermonolog.
Setelah sarapan, Indra turun kebawah dan menemukan kedua orang tua nya yang sedang sarapan dimeja makan. Teguh langsung menegur Indra yang memangs sudah rapi dengan pakaian casual nya.
"Mau kemana kamu sepagi ini? kerja cuma keluyuran" tegur Teguh ketika Indra baru mau melewati mereka berdua.
"Aku mau keluar sebentar, kenapa melarang ku? aku tidak butuh itu"
"Kau...."
Suara Teguh meninggi, dia tidak habis pikir dengan kelakuan anak nya itu. Indra mengacuhkan Teguh dan melengos meninggalkan kedua orang tua nya yang tertegun.
"Aku pergi"
Indra pergi tanpa mengindahkan Teguh yang terus berteriak memanggil namanya. Teguh tidak habis pikir dengan perubahan sikap anak semata wayangnya ini. Dia benar benar geram.
"Indra.....Indra...Berhenti kamu.!" teriak Teguh dengan amarah membuncah.
"Kamu lihat anak mu ma, tidak punya sopan santun sekarang"
Teguh benar benar geram, ia menarik nafas kasar. Memandang istri yang sudah menangis sesegukan. Lelaki paruh baya itu mendekati sang istri menariknya kepelukan.
"Hmm...Sudah kamu tidak perlu memikirkan dan menangisi anak yang sama sekali sudah tidak memiliki perasaan itu"
__ADS_1
Lembut suara Teguh menenangkan Karina, hanya saja hati Karina tercubit ketika mendengar Teguh mengatakan untuk tidak memikirkan Indra. Karena bagaimana pun Indra adalah anak semata wayang dan kesayangan nya.
"Walau bagaimana pun, dia tetap anak kita pa, aku yang mengandung dan melahirkan dia, sikap dan kelakuan dia yang berubah membuat hatiku sakit. Aku merasa gagal mendidik anak pa" ujar Karina sedih. Ia kembali menangis.
Hati Teguh terasa sakit, dia juga merasa seperti seorang ayah yang gagal mendidik anak. Buktinya Indra menjadi pribadi yang egois dan keras kepala. Teguh menghembus nafas berat.
"Kita berada diposisi sama sayang. Aku juga merasa gagal jadi seorang ayah. Tapi kita jangan menyerah, kita akan berusaha membuat Indra kembali ke jalan yang benar. Insya Allah"
Teguh meyakinkan Karina yang masih setia didalam dekapan nya. Teguh merasakan kalau Karina mengangguk. Ia pun mengurai pelukannya dan menatap manik coklat milik sang istri.
"Bagaimana kalau kita ketemu Zian sekarang. Bukan kah semalam kamu bilang, kamu Rindu Zian.? Ayo kita temui dia!" Ajak Teguh dengan wajah sumringah.
Teguh hanya ingin menyenangkan sang istri sekarang ini. Walau dia tidak yakin apakah istri nya mau tau tidak. Tapi ternyata Karina menyetujui ajakan Teguh.
"Oke...Aku setuju, ayo kita siap siap!"
Mendapat persetujuan dari Karina, Teguh tersenyum senang. Dan menarik tangan istrinya untuk bersiap siap.
...******...
tak lupa daun selada beserta tempe orek plus tahu goreng. Lengkap sudah.
Rita sengaja memasak nasi goreng karena Zian menginap semalam. Jangan tanyakan bagaimana senangnya hati Rita terutama Kirana. Bahkan sekarang sambil menggoreng kerupuk. Kirana senyam senyum sendiri mengingat kejadian semalam.
(Flashback On)
Kirana masuk kerumah dengan masih terisak, walau ia sudah mencoba untuk tidak lagi meneteskan airmata. Tetap saja airmata nya mengalir sendiri.
"Loh... Kok masih saja menangis? kenapa lagi hum?"
__ADS_1
Zian yang melihat Kirana menangis bertanya, tapi yang ditanya malah semakin sesegukan. Chiko dan Rita pun menyarankan Kirana dan Zian naik ke atas ke kamar mereka saja.
"Ya udah Zi, kalian masuk kamar aja gih. Kayaknya Kirana udah capek" ujar Rita
"Iya Zi, dan kayaknya kamu malam ini harus puasa deh" goda Chiko membuat Zian tersipu malu sedangkan Kirana memekik kesal.
"Ayaaaaah" pekik Kirana yang disambut kekehan dari Chiko dan Rita.
"Udah yah, jan diganggu mereka berdua" ujar Rita masih terkekeh
"Oke...kita juga. Ayo tidur.!"
Chiko menarik tangan Rita dan berlalu meninggalkan Zian dan Kirana. Duh...apa yang harus dilakukan, itulah pikiran dalam kepala Zian maupun Kirana sekarang.
Kirana dan Zian pun naik kekamar. Sampai dikamar Zian berinisiatif bertanya pada Kirana atas dasar ia yang selalu menangis
"Kenapa kamu selalu menangis hum?" tanya Zian
"Aku hanya khawatir pada keadaan mu" jawab Kirana
"Kenapa khawatir? bukankah aku hanya seseorang yang tidak berarti untuk mu?" tanya Zian membuat Kirana menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak, kamu adalah orang yang berharga untuk ku sekarang"
Kirana mendekat, memeluk Zian dan Zian pun membalas. mereka pun larut dalam ibadah malamnya.
^^^(Flashback End)^^^
...******...
__ADS_1
BERSAMBUNG DULU. 😂