
Melihat ekspresi wajah Kirana kebingungan, Chiko menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Ia berpikir keras, apa yang akan ia katakan terhadap pemuda didepannya ini. Sadar bahwa pemuda itu saat ini menunggu sebuah jawaban, Chiko berusaha menjawab selogika mungkin.
"Begini...nak Zian..? (Dibalas anggukan Zian)
Saya tau, anda datang kesini memang bermaksud baik, akan tetapi, saya dan istri saya bahkan Kirana sendiri..(sambil melirik kearah Kirana) masih bingung dengan situasi ini" ucap Chiko tegas
"Saya tau pak, saya juga sebenarnya gak yakin, apakah keputusan saya ini tepat, kalau bukan karena Indra, saya tidak mungkin disini sekarang, dan saya juga membawa surat wasiat Indra untuk Kirana,"
Zian pun merogoh ranselnya dan mengambil sebuah surat dan menyerahkannya kepada Chiko, Chiko membuka dan sekilas membacanya, kemudian atensinya menatap Kirana dalam.
"Nak Zian, kami akan memdiskusikannya dulu bersama, setelah Kirana membaca surat ini dan memutuskannya" pandangan teduh Chiko membuat pemuda blasteran bak seorang aktor itu mengangguk dan memutuskan pamit dan akan kembali 3 hari lagi.
Kirana hanya bisa tertegun ketika Chiko mengatakan sesuatu yang membuat ia tak akan bisa tidur selama 3 hari kedepan.
"Kirana sayang, ini adalah pilihan sulit yang akan kamu ambil, jadi ikuti kata hatimu, jangan sampai mengambil keputusan yang salah hingga membuat mu tidak bahagia, karena keputusan mu itu juga yang akan menentukan nasib mu kedepannya, ayah sebagai orang tua hanya ingin kamu mengambil keputusan yang tepat, ayah hanya ingin kebahagiaan untuk Ran, pikirkanlah dengan matang nak, kami berdua tidak akan memaksa mu, dan ayah akan selalu menghormati apapun keputusanmu" nasihat Chiko yang sukses buat mereka bertiga mengerutkan dahi karena tidak mengerti.
"Ran...baca dulu suratnya, entah apa yang disampaikan Indra disitu, setelah itu Ran bisa ambil keputusan yang terbaik menurut Ran " ucap Rita dan dibalas anggukan Kirana tanda setuju.
...***...
(pov Kirana)
Aku masuk kamar dalam keadaan stres dan bingung, Dinda dari tadi hanya menatap ku iba, setelah lama berbincang-bincang Dinda memutuskan pulang kerumah, katanya dia tidak ingin mengganggu konsentrasi ku dalam berpikir, apalagi ini adalah keputusan sulit sepanjang 23 tahun hidup ku.
Aku masih tidak percaya, sahabat yang sangat aku sayangi meninggalkan ku secepat ini tanpa meninggalkan jejak. Dan tiba-tiba pemuda yang entah dari mana datangnya ingin menjadi suami ku, rasanya ingin menghilang saja dari bumi .
"Ah...aku ingat, dia kan yang ikut tahlilan dirumah Indra kemarin bareng Mr. Kuba Smith?" Kirana bermonolog sendiri.
Pelan-pelan ku buka surat dari Indra, jantungku deg-degan dan harap-harap cemas. Ada selembar kertas putih dan sebuah foto, foto Indra bersama Zian dan 2 orang pemuda yang tak kukenal, aku membalik foto tersebut dan menemukan nama-nama mereka, Zian Avicena si pemuda berwajah dingin itu, Rifaldi Badruzzaman dan juga Herry Edward.
To Kirana sahabat jeleek ku
...Hai bocah jeleek, apakabar selama ini? Yaa..mudah-mudahan baik-baik saja,..gue rindu banget sama lu...rindu jahilin lu, rindu liat wajah kesel lu, ah semoga lu beneran baik-baik aja....
Aku menarik nafas dalam, sebutir bening sudah menetes dari mataku, aku melanjutkan lagi dengan beberapa kali menarik nafas dan membuangnya berat.
...Kirana, mungkin setelah lu menerima kertas yang dinamakan wasiat ini, gue udah gak ada lagi didunia ini....
...Why...? Karena...kertas ini adalah sebuah surat wasiat yang wajib ditulis oleh setiap pegawai yang bekerja di lab chemistry project ini, kalau kami setuju bergabung, juga harus setuju dengan apapun resikonya, karena setelah gue menyatakan setuju dengan project ini, gue tau, hidup gue dipertaruhkan disini dan bayang-bayang kematian selalu mengikuti gue....
...Maka dari itu, setelah menulis surat untuk orang tua gue, gue juga tulis untuk lu....
__ADS_1
...lu juga pasti mengutuk gue sekarang dengan berlinang airmata dan ingus yang membanjiri hidung lu, ahaha......
...lu pasti bilang "Indra gila, teungik, udah tau berbahaya, kenapa masih terima project berbahaya, kenapa masih kerja disitu, dari dulu udah gue bilang, pulaang...cari kerja yang lain," lu pasti bilang itu sekarang...ahahaha...dan sekarang gue malah tertawa sendiri membayangkannya....
"Lu benar-benar gila Ndra, lu masih bisa tertawa membayangkan gue,...gue rindu lu Ndra" batin Kirana, meski terisak ia pun terus melanjutkan bacaannya.
...Oiya Ran, lu tau, gue juga menyelipkan sebuah foto postcard tuk lu, foto gue dan juga tiga orang pemuda lainnya, mereka tampan-tampan kan gak kalah sama gue, tapi tetap aja yang paling tampan itu gue donk..hehe😊...
Kini aku tersenyum getir ketika membaca surat indra ini. Lalu ia melanjutkan bacaannya.
...Lu pasti protes sekarang, udah akui aja gue yang paling tampan,. Oiya..mereka beda-beda negara, Zian dari Malaysia tapi udah lama tinggal di Switzerland,...
...Rifaldi dari Malaysia juga, dan Herry dari london...gue menyayangi mereka selayaknya saudara kandung terutama Zian. Dia sangat baik, walaupun 11 12 sama gue yaitu keras kepala dan egois. Tapi gue jamin dia anak yang sangat baik....
...Ran sahabat gue yang paling jelek dan juga paling gue sayangi sampai maut memisahkan kita.kalau gue udah gak ada, udah gak bisa menepati janji gue tuk jaga lu, gue mau lu sama Zian menikah,.....
...gue mau lu sama Zian hidup bersama dalam ikatan pernikahan, gue mau Zian ngejaga lu gantiin gue,.itu keinginan terbesar gue agar gue bisa hidup tenang. Tanpa wasiat inipun sebenarnya gue ingin kalian bertemu....
...Hmmm...Tentang cinta..?...
...Gue tau susah mencintai orang yang baru kita temui. Tapi gue yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, gue yakin lu pasti akan bahagia bersama Zian.....
...la**kukanlah permintaan gue ini Ran,...
^^^Indra Karina Teguh Jaya sahabat lu.^^^
^^^(Pov end)^^^
Deg.......
Jantung Kirana seakan berhenti berdetak, ia hanya bisa menatap surat itu dengan pandangan nanar, pikirannya berkecamuk kalut, seperti benang kusut terjalin di otaknya sekarang.
Kirana tak habis pikir, kenapa Indra begitu yakin bahwa ia akan bahagia kalau menikah dengan Zian, bagaimana kalau Zian adalah laki-laki yang punya pribadi aneh, arogan dan cuek, apalagi kemarin Kirana melihat wajahnya yang dingin dan datar tanpa senyum sekalipun..
"Argggghh....kenapa harus ada wasiaat gilaa kek ni siih?" ujarnya sambil menarik rambut nya frustasi, ia pun menelungkupkan kepalanya kelutut dan alhasil ia pun kembali menangis.
Setelah puas menangis, dalam keadaan masih linglung kirana bangun dari tempatnya menuju kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, menunaikan kewajibannya sebagai hamba dan juga berharap mendapat petunjuk atas keputusan yang akan dia ambil, dan juga berdoa berharap Indra masih hidup dan baik-baik saja.
...****...
Kirana keluar kamar menuju dapur, sedari tadi kerongkongannya kering sekali, ia lelah setelah menangis dan semua gejolak yang ada di otaknya memaksanya terus berpikir.
__ADS_1
Ia masih bingung harus bagaimana, dan ia juga masih merutuki kebodohan Indra yang mengirimi ia wasiat segala
"wasiat gila yang menyusahkan" batin nya.
Kirana membuka kulkas mengambil air dingin yang dirasa cukup menyejukkan hati dan otaknya, tapi karena ia masih berpikir dan melamun, air yang di isi kegelas pun tumpah karena kepenuhan.
Rita menghampiri Kirana yang masih melamun, ia dikejutkan suara ibunya yang kaget.
"Ya Allah Raan, airnya tumpah tuh Ran" sambil menepuk pundak Kirana, sehingga Kirana terlonjak kaget
"Astagfirullah....aduuh basaaah semuaa..." Kirana pun memandang meja dan lantai frustasi.
"Kamu kenapaa?? Masih mikirin masalah surat tadi pagi?" tanya Rita khawatir
Kirana memandang Rita dengan mata berkaca-kaca sembari duduk dikursi
"iya bu, apa yang harus Ran lakuin? Ran bingung banget" ujarnya memasang wajah sedih
Rita sang ibu juga ikut duduk disamping Kirana, keningnya berkerut seolah berpikir apa tindakan yang harus diambil dalam masalah anak gadisnya ini.
"Kamu udah baca surat wasiat dari Indra itu?" Kirana pun mengangguk,
" kalau gitu, besok kita kerumah orang tua Indra, kita cari solusi bersama" sambung Rita lagi, semakin membuat ia bingung.
"Maksud ibu? Ran makin bingung, untuk apa ibu mau ketemu orang tuanya Indra dan mencari solusi bersama, inikan masalah Ran," sahut Kirana
"Gini loh Ran, masalah ini bukan cuma masalah Ran aja, tapi ini sudah menyangkut Indra, ibu sama ayah juga perlu mengambil tindakan atas ini semua. Lagian Indra punya wasiat kok gak masuk akal begini loh,.ibu tau kalian sudah dekat dari kecil, tapi Indra juga gak berhak ngatur hidup Ran harus menikah dengan siapa,. Ran itu anak ibu, ibu sama ayah aja gak pernah ngatur Ran harus menikah dengan si ini atau dengan si itu"
ungkapan Rita yang panjang lebar membuat hati Kirana sedikit mencelos, ia memang sempat berpikir kalau Indra gak ada hak ngatur ia harus menikah dengan siapa.
Tapi Indra adalah seseorang yang sangat berharga dihidupnya, apalagi mengingat semua kebaikan Indra dan kedua orang tuanya, Kirana semakin tidak tega menolak permintaan dan wasiat Indra ini.
"Buu....kenapa ibu bisa ngomong begitu sih? Apa ibu sudah lupa bagaimana kebaikan Indra dan kedua orang tuanya sama kita?, Indra lah yang selalu menolong kita saat kita butuh bantuan, biaya operasi Kirana dulu juga orang tua Indra yang lunasin, perusahaan ayah juga mereka yang bantu tanam saham, orang tua Indra juga selalu ada buat ayah dan ibu ketika butuh pertolongan, dan kita sudah selayaknya keluarga, jadi kenapa sekarang ibu bisa ngomong seperti itu,? Memang... Indra gak ada hak sedikit pun mengatur Ran harus menikah dengan siapa, Bukankah seharusnya ibu memberi solusi, bukan malah berbicara sarkas begini, kalau begini Ran semakin bingung dan bimbang jadinya"
ucap Kirana memandang Rita sedih, orang yang dipandang pun merasa sangat bersalah.
"Ibu dan ayah juga pernah berkata sama Ran, bahwa mereka adalah keluarga yang gak bisa digantikan dengan emas atau berlian sekalipun, apa ibu lupa?" lanjut Kirana lagi, yang sukses membuat Rita terdiam dan sebening airmata jatuh mengalir dipipinya.
"Apa yang dikatakan Ran itu benar bu, walaupun Indra bukan darah daging kita, tapi Indra sudah seperti anak pertama bagi kita, dia seperti kakaknya Ran yang selalu melindungi Ran seperti ayah yang selalu jaga Ran" Chiko menyela, ternyata dari tadi ia mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut.
"Ya Allaaah....apa yang telah merasuki pikiran ibu hingga sanggup mengeluarkan kata-kata buruk untuk anak sebaik Indra, apalagi kita telah kehilangan anak baik itu" ucap Rita, tangisnya sudah pecah sedari tadi, ia pun beranjak memeluk putrinya yang juga sudah meneteskan airmatanya.
__ADS_1
"Ya sudah...begini saja, yang ibu bilang tadi tuk kita cari solusi bersama dengan orang tuanya Indra itu memang harus kita lakukan, karena ini adalah permintaan Indra dan Ran pun sudah seperti anak mereka juga, mereka berhak tau. Dan siapa tau ada solusi dari mereka" ucap Chiko yang disetujui oleh Rita dan Kirana.
...***...