
...Ketika rumah kedua sudah tak lagi mengharapkan kita, apakah kita masih harus mengharapkan nya? atau kita berpaling mencari rumah kedua yang lain. Tak semudah itu harus menukar rumah yang selama ini menjadi tempat melepas rindu, dan juga lelah yang menghampiri diri....
...Zian Avicena...
...****************...
Sesosok pemuda manis sedang melangkah menuju gerbang sebuah rumah nan sederhana didepannya. Setelah mendekati pintu rumah tersebut ia maju mundur ragu-ragu ingin mengetuk daun pintu berwarna cream.
"Apa yang merasuki otak gue, kenapa gue sudah berada disini?" monolog nya yang tak lain Indra Karina Teguh Jaya
Indra berjalan mundur bermaksud meninggalkan rumah itu, tapi seseorang telah membuka pintu. Mungkin tuan rumah ingin pergi ke suatu tempat, dan matanya menangkap sosok pemuda tak dikenal ingin keluar dari pekarangan rumahnya. Ia pun menegurnya.
"Maaf, anda mencari siapa ya nak?" Leni pemilik rumah menyapa Indra.
Indra yang mendengar suara Leni pun berbalik dan tersenyum ramah.
"Saya mencari Luna Bu, apa dia ada dirumah?" tanya Indra ramah.
"Oh. Luna nya sudah keluar nak, dia lagi dikantor" jawab Leni tak kalah ramah. Tapi sejurus kemudian dia bingung pemuda didepannya ini siapa sehingga dia kembali bertanya.
"Kalau boleh tau, anda ini siapa ya nak?" tanya Leni.
"Saya temannya Luna Bu, sudah lama saya tidak mendengar kabar Luna, makanya saya datang kemari" jelas Indra.
__ADS_1
"Oh temannya Luna, Luna sedang berada di luar nak, hubungi Luna dulu kalau mau menemui nya nak" lembut suara Leni membuat hati Indra terasa hangat.
Setelah berbasa basi sebentar dengan Leni ibunya Luna. Indra meminta izin pulang. Dia beralasan banyak kerjaan dikantor dan akan datang berkunjung lagi. Dasar Indra, pergi kekantor saja dia tidak pernah.
...****************...
"Ran, oh.. disini ternyata, ibu dari tadi mencarimu. Kita makan siang dulu sayang"
Rita menghampiri Kirana yang sedang menatap sayu ke arah kolam renang dan pohon-pohon hijau di depannya. Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Rita sangat khawatir dengan keadaan Kirana yang semakin hari semakin murung, tubuhnya mulai mengurus. Dengan keadaan berbadan dua ditambah selera makan yang begitu menurun.
Kirana hanya murung dan melamun setiap waktu, dia seperti kehilangan tumpuan hidup. Rita sering sekali mendapati Kirana melamun bahkan tersenyum sendiri. Hal itu lah yang membuat Rita sangat khawatir dan takut.
"Sayang, Ran. ayo kita makan dulu, kamu gak dengar ibu ngomong hum?" Rita kembali memanggil Kirana setelah tak ada respon sama sekali dari Kirana.
Kirana menarik ujung bibirnya mencoba untuk tersenyum. Dia mengangguk dan bangkit dari duduknya ingin melangkah pergi. Tangan Rita dengan cepat menahan tangan Kirana sehingga Kirana berhenti sejenak.
"Kamu baik-baik saja nak?" Rita terkejut tatkala melihat punggung Kirana yang posisi membelakangi Rita bergetar. Dengan cepat Rita berdiri menarik bahu Kirana dan memeluknya. Mengusap lembut punggung anak tercinta.
"Aku merindukan nya Bu, sangat merindukan nya. Ran ingin sekali memeluk Zian. Ran merindukan rumah kedua Ran Bu" Isak tangis Kirana sangat memilukan, membuat Rita ikut meneteskan airmata.
"Apa kamu tidak berniat bertemu dengan Zian nak?" tanya Rita. Tapi Ran dengan cepat menggeleng kepala.
Merasakan gelengan dari Kirana, Rita melepas pelukannya dan menatap Kirana bingung "Loh kenapa? seharusnya kamu menemui Zian kan? dan memaafkan segala kesalahannya kalau kamu merindukannya"
__ADS_1
"Aku masih sangat membencinya, aku memang merindukan Zian, tapi untuk bertemu Ran belum siap Bu" jawab Kirana berbalik beranjak pergi, Kirana meninggalkan Rita yang masih bingung dengan sikap anaknya itu.
"Ran, mau sampai kapan kamu membenci suami mu itu" lirih Rita
...****************...
Zian sedang asik memetik apel bersama Claire dan juga Diego. Panen kali ini sungguh membuat Claire dan Diego kewalahan. Walaupun banyak yang membantu tetap aja mereka kewalahan dalam memanajemen semua hasil panen melimpah ini.
Alhasil Zian ikut turun tangan untuk membantu Daddy dan mommynya. Untunglah Zian seorang anak pekerja keras semenjak muda. Berubah jadi seorang CEO tidak membuat dia cuma ayun-ayun kaki saja melihat kesibukan orang tuanya, ia malah sangat cekatan membantu semua pekerjaan itu.
"Zi, kamu tidak beristirahat dulu? dari tadi kamu sudah sangat membantu Daddy dan juga para pekerja, lebih baik kamu istirahat renggangkan otot-otot mu, sekalian mengisi perut atau minum dulu" saran Diego kepada jagoannya. walau bukan darah dagingnya, Diego sangat menyayangi putra tirinya itu.
"Sebentar lagi Dad, masih nanggung banget ni" jawab Zian sambil tersenyum
"Zi, istirahat dulu, tadi mom bawa kamu makanan, ada Pai apel dan juga makanan lainnya" ucap Claire tanpa melihat Zian karena dia sibuk memilah apel-apel yang akan di muatkan kedalam truk muatan.
"Haduuh, dua orang tua ini benar-benar sangat cerewet. Bisakah aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu baru aku makan?" Zian melirik satu persatu Daddy dan Mommynya dengan memasang muka manyun "Lagian kalian berdua juga tidak makan, aku mau makan bersama kalian" Zian masih memanyunkan mulutnya.
Diego yang melihat tingkah Zian pun tertawa.
"Hahaha....Ya sudah, kamu selesaikan yang di keranjang ini setelah itu kita sama-sama beristirahat" ucap Diego masih dengan tawa. Tangan Diego terulur mengelus puncak kepala Zian.
Claire diam-diam tersenyum melihat tingkah kedua laki-laki kesayangannya yang sekarang begitu akrab. bak ayah sama anak kandung. Claire selalu bersyukur menikah dengan laki-laki yang lembut dan penyayang seperti Diego. Walau dalam pernikahan mereka tidak di karuniai seorang anak, Diego pernah bilang kalau Zian sudah cukup baginya.
__ADS_1
...****************...