
"Menurut lu, Siapa yang menyuruh mereka Her?"
Zian yang tak tahan menyimpan kecurigaan pun membuka mulut dan bertanya pada Herry yang memang tidak fokus kejalanan.
"Gue juga gak yakin sih Zi. Tapi ada satu nama dibenak gue sekarang ini" jawab Herry
"Apa lu juga berpikir dia yang melakukan ini pada gue Her?"
Sendu Zian, dia sangat tidak ingin bahwa orang yang di pikiran dia yang sudah menyuruh orang orang tersebut.
"Mudah mudahan bukan dia Zi, gue yakin dia masih punya perasaan. Tapi kalau memang dia yang melakukannya, gue orang pertama yang bakalan hancurin hidup dia"
Herry bersmirk, sejauh Zian mengenal Herry. Zian tau betul sifat sahabatnya ini, kalau dia tidak main main dengan perkataannya.
"Heh...Markonah, jan macem macem lu, itu lisan dijaga sikit. Kalau memang dia yang melakukan itu sama gue, gue yang akan beri dia perhitungan, lu gak usah ikutan"
"Heh...Maemunah, lu sama gue ini sahabatan bahkan udah kayak saudara, lu sakit gue sakit, lu senang gue senang, dan lu sekarang lagi dalam bahaya, jadi gue patut ngelindungi lu dari orang orang yang berencana busuk dan jahat sama lu"
Penuturan Herry membuat Zian cukup terharu, dia pun menggeser duduknya lebih dekat dan merangkul Herry dari samping, Herry yang sedang menyetir jadi geli sendiri dibuat Zian.
"Hey....lepasin gue, gelii gue Bambaaang" pekik Herry, Zian hanya terkekeh.
Zian melepas rangkulannya, dengan terharu dia pun berkata
"Thanks udah selalu ada saat gue dalam bahaya dan selalu gercep disaat gue terluka"
Sedih Zian, ia mengingat bagaimana Herry selalu menyelamatkan nya dari bahaya, seperti di Texas dulu.
"Gak cocok lu sedih sedihan gitu, biasanya tampang Kulkas juga"
Zian langsung terkekeh mendengar perkataan Herry. Dia memijat pelipisnya pusing.
"Kenapa lah Dinda panggil gue cowok dingin, cowok es, cowok kulkas" geleng geleng kepala Zian dengan label panggilan itu.
"Lah....memang kenyataannya begitu, udah lah gue mau nyetir dengan tenang, biar cepet sampai ke Apart gue"
20 menit kemudian mobil Zian yang dikemudikan Herry memasuki parkiran bawah tanah Apartemen Herry. Mereka berdua bergegas masuk ke lobi menuju kamar Herry berada. Saat di koridor Herry berteriak sambil menepuk jidat.
"Aseem....Bro, gue lupa kasih tau Dinda tentang lu. karena tadi dia nelpon gue dan dia tau lu lagi berantem," Merogoh ponsel di saku
"Pantesan tadi pas denger nama Dinda gue merasa ada sesuatu, dan lagi istrimu udah dikasih tau?" sambung Herry lagi
__ADS_1
"Astagfirullah, iya... gue juga lupa telpon Ran" pekik Zian
"Ya udah tunggu apa lagi, lu telpon Ran, gue telpon Dinda"
Mereka berdua saling mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
...******...
Kirana masih memikirkan Zian tatkala gawainya berbunyi, ia sengaja mengaktifkan ringtone agar bisa mendengar suara ponsel kalau kalau ada yang menghubungi seperti saat ini.
"Assalamu'alaikum Ran, eeung---" Belum habis Zian berbicara Kirana langsung membombardir dia dengan bertanya.
"Hon, kamu dimana sayang, dimana kamu sekarang?" panik Kirana dengan meninggikan suaranya.
"Hmm...a-aku..."
Mendengar suara panik Kirana, Zian jadi hilang kata kata. Kenapa Kirana sangat panik begini, bahkan dia mendengar isak tangis Kirana.
"Eh...eh... Kamu kenapa, aku sekarang lagi d Apart Herry" ucap Zian
"Kalau begitu aku akan kesana"
"T-tapi---"
Kirana memutuskan sambungan telpon sepihak, Zian hanya menatap ponsel dengan mengernyit dahi.
"Ya Salam, belum juga ngomong udah dimatiin aja" sebal Zian
Herry melihat wajah sebal Zian pun bertanya
"Ada apa?"
"Ini loh, Ran.. belum juga kita jelasin udah dimatin ponselnya dan mau kesini"
"Ooh itu, tadi Dinda telpon Ran dan kasih tau dia bahwa kamu berantem sama preman. Naah... Ran dan kedua mertua kamu itu panik dan menghawatirkan kamu, terutama istri kamu itu"
Zian terdiam, apa mungkin Kirana mencemaskan dia. Dia menggeleng gelengkan kepala, mana mungkin.
"Ran khawatir sama gue? gak caya gue"
"Ya udah kalau lu gak percaya, terus aku harus bilang wow gitu?" canda Herry, Zian terperangah dan kemudian mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Zian dan Herry sampai didepan kamar Apartemen Herry. Setelah memasuki kode pintu, Herry dan Zian masuk lalu merebahkan badan mereka kesofa ruang tengah Apart Herry.
Jam sudah menunjukkan angka 00.30 malam, menandakan bahwa malam semakin larut. Zian lelah sekali, mengingat hari ini dia belum beristirahat sama sekali. Bahkan ia merasa badannya remuk semua.
Herry beranjak dari sofa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia melihat ke arah Zian yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya.
Herry berniat membangunkan Zian untuk membersihkan diri dan mengobati luka yang berada di pipinya dan kemudian pindah tidur di kamar.
"Zi, Zi...heh...Bangun, ya ampun tidur kek orang mati"
sarkas Herry
"Lu doain gue mati Her"
Tiba tiba Zian membuka matanya menatap tajam ke arah Herry setelah mendengar perkataan Herry tadi.
"Astagfirullah, terkejut gue. Gue pikir lu tidur" ujar Herry terkekeh
"Ah banyak alesan lu, lu--" belum habis Zian bicara suara bel berbunyi.
Ting tong....Ting tong....
"Eh, jangan jangan Ran atau Dinda"
Tebak Herry, mereka berdua pun beranjak menuju ke depan, Herry membuka pintu sedangkan Zian berdiri disamping Herry.
Ketika pintu terbuka, hal yang pertama mereka liat adalah Kirana yang sedang menangis dipelukan Dinda, dengan Dinda yang seperti menenangkan Kirana. Setelah melihat Herry dan Zian didepan pintu, Kirana langsung menubruk Zian berpelukan.
Bugh.....(anggap aja suara pelukan)
"Hiks....hiks...hiks....Alhamdulillah, kamu gak pa pa"
"Hey....kamu kenapa menangis hum? aku gak pa pa, tenang lah" ucap Zian mengelus surai panjang Kirana.
"Aku takut, sangat takut" jawab Kirana masih terisak dipelukan Zian, bahu Zian sudah basah dengan airmata Kirana
"Its okey, iam okey right now...Kamu takut kenapa hum?" tanya Zian penasaran.
"Aku...aku hanya takut kehilangan mu" tutur Kirana, Zian terharu, ia mengeratkan pelukan mereka.
Sedangkan semua anak manusia yang berada disitu hanya menatap haru atas kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.
__ADS_1
...******...