The Crazy Testament

The Crazy Testament
Misi Three Musketeers II


__ADS_3

...Cinta bukan hanya untuk seorang kekasih. Tapi juga untuk orang-orang terdekat yang selalu ada untuk kita. Orang-orang yang mengenalkan kita arti Cinta betapa berharganya hidup kita....


...Hargai semua orang yang mencintai dan menyayangi kita, Selagi mereka masih bersama menghabiskan waktu bersama kita....


...******...


Dengan tergesa-gesa para sahabat Kirana menuju kerumah. Dengan wajah cemas dan khawatir Dinda hanya merenung, pikirannya jauh ntah kemana. Herry menatap heran kearah Dinda yang duduk di bangku penumpang. Rifal juga melakukan hal yang sama menatap Dinda dengan penuh kebingungan.


Dinda masuk kerumah Kirana tanpa memperdulikan panggilan Rifal dan Herry.


"Din woy Din... Yaak... Dindaa" teriak Herry


"Wah, si Dinda keknya gak punya telinga" ucap Rifal terkekeh


Mereka berdua mengikuti Dinda yang sudah duluan.


Setelah sampai di ruang tamu, mereka berdua malah dikagetkan melihat Dinda dan Kirana berpelukan sambil menangis. Apalagi melihat Rita ibu Kirana menangis.


"Ada apa ini.? " Herry bertanya dengan kening berkerut


Dinda memandang Herry dengan mata sendu, Kirana masih di pelukannya. Dinda melepas pelukan Kirana, menghapus air mata di pipi Kirana.


"Ada yang perlu kalian berdua ketahui" tatap sedih Dinda membuat Herry dan Rifal semakin penasaran.

__ADS_1


"Katakan apa yang harus kami berdua tahu!" tegas Herry


Dengan tatapan sedih Dinda menceritakan bahwa sekarang Kirana sedang mengandung dan usia kandungannya sudah menginjak bulan kedua. Kirana baru mengetahuinya tadi pagi setelah ia memeriksakan nya. Tepat ketika Zian berangkat kembali ke Swiss.


"Kita harus menelpon Zian dan memberi tahunya tentang kabar gembira ini Ran" ujar Rifal dengan raut wajah bahagia.


"Tidak ada yang boleh memberitahu lelaki penghianat sepertinya" ucapan Chiko membuat Rifal terhenyak kaget. Herry dan Dinda juga terkejut dengan ucapan Chiko yang sudah seperti orang tua bagi mereka.


Tidak terima sahabat nya di katakan penghianat, Herry mendekati Chiko, berlutut dan berbicara selembut mungkin.


"Yah, aku tau gimana Zian. Aku yakin Zian tidak mungkin menghianati wanita yang sangat ia cintai. percayalah sama Zian yah" Herry berkaca kaca ketika mengucapkan itu.


Rifal yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya dan mertua dari Zian itupun ikut berlutut.


Kirana hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia bangkit berjalan menuju kamarnya, sebelum kakinya menginjak anak tangga. Dinda berbicara dengan penuh kesedihan.


"Ran... aku dan dua curut ini akan buktiin sma kamu, kalau Zian tidak bersalah. Jadi aku mohon, tunggulah waktu itu. Jangan sampai ego membuat kamu menyesal Ran"


"Ego apa Din? ego apa yang harus aku pertahankan. Ini bukan ego Din, tapi perasaan yang telah terkhianati. Apa kamu lebih percaya orang lain yang baru kamu kenal daripada aku, Sahabat mu? " ucap Kirana dengan mata yang sudah basah.


"Bukan gitu Ran, coba kamu pahami lagi ucapan aku. aku hanya gak ingin melihat kamu di kemudian hari menyesal dengan keputusan kamu yang lebih mempercayai orang lain daripada suami kamu sendiri Ran" bela Dinda.


"Ran, aku tau kamu kecewa, marah, merasa di khianati. Tapi kamu tidak boleh menelan bulat-bulat apa yang kamu lihat. Zian itu suami mu, seharusnya kamu lebih mengenal dia daripada kami. Bukan malah lebih percaya sama yang dilihat daripada penjelasannya, sudah berapa kali Zian datang memohon untuk dipercaya. Tapi kamu nya mengabaikan, gak percaya dan malah mengusirnya" sambung Herry sudah mulai kesal,

__ADS_1


Kirana hanya bisa terdiam terpaku. Ia memijit keningnya yang sedikit pusing dan berdenyut. Apalagi dengan keadaannya yang lemah karena berbadan dua.


"Udah-udah... Kalian bertiga mending pulang dulu! Jangan buat Ran semakin bimbang dengan perkataan kalian, Ran memang lebih baik bercerai dari Zian. Saya dan istri saya akan menjaga Ran dan calon cucu kami dengan baik. Ada gak nya ayahnya" Chiko berdiri menarik Herry bermaksud mengusirnya.


"Yah. Aku bisa berjalan sendiri gak payah tarik-tarik gini" kesal Herry


"Ran... Kami bertiga berjanji akan mendapatkan kebenaran dan membuktikan kalau Zian gak bersalah dan dia bukanlah seorang penghianat, penzina dan juga tukang selingkuh seperti yang kamu bilang" ucap Herry sebelum beranjak keluar yang di ikuti oleh Rifal dan juga Dinda.


Sebelum pergi, Dinda memeluk Kirana dan mengusap perut Kirana sekedar menguatkannya.


"Selalu kuat. Dan percayalah kami akan membuktikannya. Dan juga, tanya hatimu! apa yang kami katakan ini benar atau tidak. Aku sayang kamu Ran" senyum Dinda dan melangkah keluar.


Airmata Kirana kembali tumpah ia berlari menaiki anak tangga dengan tanpa memperdulikan kalau saat ini dia sedang hamil. Chiko dan Rita berteriak khawatir dengan keadaan Kirana. Tapi Kirana mengabaikan teriakan itu.


Disisi lain, Zian menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran di depan rumah milik mommy dan daddy nya. Dia hanya pasrah dengan semua keadaan yang menimpa hidupnya dan cintanya.


"Didalam keramaian aku merasa sepi dan juga merasa asing bebyy, Aku rindu kamu sayang" Zian membatin dengan sedih


......*******......


...up dimalam tahun baru.. aku lama banget vakum nya.. tpi Terima ksih untuk yang setia membaca karya receh ni.. ...


...Thanks u😊...

__ADS_1


__ADS_2