
Zian memasuki gerbang kantor dengan pikiran sedikit tidak enak. Berlaku kasar terhadap Karina membuat ia kepikiran. Jadi dengan sendu ia turun dari mobil melangkah masuk kedalam gedung kantor ZIHER Group.
Di lobi Zian bertemu Herry yang sedang berdebat dengan Dinda. Disamping mereka berdua berdiri Rifal yang berulang kali menepuk-nepuk jidatnya. Zian mendekati dua anak manusia yang masih berdebat itu. Ntah apa yang sedang mereka debat kan membuat Zian penasaran.
Suara Dinda dan Herry menggema di seluruh lobi kantor. Zian juga sayup-sayup mendengar apa yang mereka debat kan.
"Astaga Herry.... lu punya mata gak sih, lu nabrak gue, gue hampir terjengkang. Dan liat ini sepatu gue heels nya sampai copot"
Dinda menghentakkan kakinya kesal. Dia membuka sepatu high heels nya.
"Laah.... gue gak sengaja loh, gue gak liat lu lewat" Herry membela diri.
"Mata segede gaban gitu, gak nampak cewek cantik bak artis Korea kaya gue lewat.?"
Herry terperangah ketika Dinda dengan pedenya memuji diri sendiri. Rifal yang berdiri di samping Dinda tidak kuasa menahan tawa sampai menutup mulut dengan tangan.
"Artis Korea? artis Korea dari mana? muka aja gak da mirip-miripnya sama orang Korea, jadi pengen muntah gue dengarnya" sanggah Herry cepat sambil pura-pura ingin muntah.
"Idiih... Sirik aja lu sama orang cantik... Otw kemusuhan kita Her" geram Dinda yang disambut kekehan Herry dan Rifal, Zian pun mendekati mereka bertiga
"Ada apa sih?" Zian menimpali perdebatan gak jelas mereka berdua.
"Itu lagi berdebat masalah mata" Sahut Rifal
"Maksudnya? gak mudeng gue ni" Zian menggeleng geleng kan kepalanya bingung.
"Itu si Herry gak punya mata, jalan pake nabrak orang segala"
"Aku gak nabrak orang, cuma nabrak lu lah Din"
Tingkat kesabaran Dinda sudah habis, ia memukul jidat Herry dengan sepatu yang sudah tidak ada Heelsnya itu. Herry yang merasa kesakitan pun meringis.
__ADS_1
"Gila lu... Jadi cewek kok bar bar banget sih, mak lu ngidam apa sih pas hamil lu?" Dinda hanya menatap Herry datar.
"Mungkin ngidam makan orang. Orang menyebalkan kayak lu ini" gerutu Dinda manyun
"Ya Allaaah.... kalian berdua bisa gak, gak berantem atau berdebat kalau ketemu?"
Zian menghentikan perdebatan gak jelas dua anak manusia didepan nya ini. Rifal pun juga ikut menimpali.
"Ho oh... Gak capek apa, setiap bertemu selalu begini?"
Herry menarik nafas kasar. Menatap Dinda, Dinda juga menatap Herry balik. Jadilah mata mereka bertemu sesaat. Hati Herry berdesir, berdetak tak karuan. Dia tidak bisa membohongi bahwa hati memiliki rasa lebih kepada wanita bar bar dan bobrok di depan nya ini.
"Apa lu liat liat? jatuh cinta lu sama gue?"
Pertanyaan bar bar Dinda membuat Herry, Zian dan Rifal melongo. Herry mengerjap ngerjakan mata dengan polos. Sedangkan Zian melengos meninggalkan mereka bertiga. Dia memijat pelipis nya geram, bagaimana bisa istri dia punya sahabat sebegini pedenya.
"Tingkat kepedean lu luar biasa. Dasar cewek bar bar, bobroknya subhanallah" Zian pun beranjak meninggalkan mereka bertiga.
"Udah ah, gue mau masuk aja. Stres gue liat lu, ikut gak Fal? " ajak Herry, Rifal mengangguk. Herry pun berlalu pergi di ikuti Rifal
"Lucu" gumam Dinda terkekeh. Ia juga mengikuti dua sahabatnya dari belakang sambil membuka sepatu dan berjalan nyeker.
...*******...
Karina masih menangis sesegukan. Teguh sudah lelah menenangkan Karina. Chiko, Rita dan Kirana hanya bisa terdiam tak mampu mengatakan apa apa tentang apa yang sudah terjadi.
20 menit kemudian tangis Karina mereda. Ia memandang lekat ke arah Kirana yang duduk disofa berhadapan dengan nya.
"Apa Zian sangat membenci mama Ran?" Karina bertanya kepada Kirana dengan mata sayu.
"Zian tidak membenci mama, sedikitpun tidak" ucap Kirana, membuat Karina semakin sedih.
__ADS_1
"Kamu jangan bohong sama mama Ran, jangan menyenangkan hati mama" sergah Karina
Kirana menunduk sedih. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan jawaban dia tadi. Tapi Zian memang mengatakan padanya bahwa Zian tidak membenci Karina, Tapi Zian hanya sakit hati.
"Ran... Apakah Zian membenci kami berdua?" sekarang Teguh yang bertanya.
"Tidak pa, Zian tidak membenci kalian. Hanya saja Zian hati Zian yang tidak baik baik saja. Bagaimana pun, aku akui kalau tindakan mama sangat menyakiti hati Zian"
Penuturan Kirana membuat Karina menangis lagi. Teguh mengangguk tanda mengerti. Memang tindakan istrinya membuat luka yang membekas dihati Zian. Dan Teguh bertekat untuk memperbaiki hubungan Karina dan Zian agar bisa kembali seperti semula.
"Tenang lah sayang, kamu jangan menangis lagi. Aku akan berusaha membuat kalian berdua dekat lagi. Aku berjanji, kita akan berusaha mengambil hati Zian lagi"
Teguh menyakinkan Karina istrinya. Karina menatap Teguh sendu. Airmata sudah mengalir di kedua pipi Karina. Chiko dan Rita juga ikut menyakinkan Karina bahwa mereka berdua akan membantu.
"Bu Karin tenang saja, kami berdua juga akan coba membantu" ujar Chiko
"Ibu jangan menyerah, kalau Zian bersikap begitu, ibu harus dengan gencar terus mendekati agar hatinya luluh. Zian anak baik bu, aku yakin dia tidak akan bisa marah dan menyakiti hati ibu"
Penuturan dari Rita membuat Karina tersenyum cerah. Dia memang tau bahwa Zian adalah anak baik yang tidak bisa menyakiti hati siapapun.
"Mama na jangan menyerah dan tetap semangat, aku yakin Zian pasti akan memaafkan mama na. Dan aku juga yakin, sekarang Zian menyesali perbuatannya terhadap mama na tadi"
Semangat Karina kembali lagi. Dia bangkit memeluk Rita dan kemudian memeluk Kirana sambil bergumam mengucapkan Terima kasih.
"Terima kasih sayang... Maafin mama kalau ada salah sama kamu dan Zian. Maaf karena memaksa kamu dan Zian untuk segera berpisah. Sekarang mama akan terus mendukung kalian"
Kirana tersenyum hangat mendengar perkataan Karina, ia mengeratkan pelukan mereka berdua.
...*******...
...𝙄𝙖𝙢 𝘽𝙖𝙘𝙠.... 𝙎𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧𝙨 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙨𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙡𝙪𝙖𝙣 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙞𝙣𝙞. 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙠𝙪.𝙏𝙝𝙖𝙣𝙠𝙨 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙖𝙣𝙙 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣𝙩....
__ADS_1