The Crazy Testament

The Crazy Testament
Ijab Kabul


__ADS_3

Hari yang dinanti telah tiba, dimana Kirana akan melepas masa lajangnya, saat ini ia hanya duduk didepan meja riasnya memandang kosong kedepan.


Ia berpikir apakah tindakannya menikah dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali adalah hal yang tepat?, bahkan ia tidak tau menahu bagaimana sifat calon suaminya ini. Ia berkali-kali menarik nafas dalam.


Disisi lain, dikamar Indra, pemuda itu gelisah, ia juga berjalan mondar mandir diruang tersebut, bahkan sahabat baiknya Herry sudah menatapnya geram.


"Kau ini seperti taxi yang sedang mencari penumpang saja" kesalnya, ia sudah sakit kepala melihat Zian mondar mandir tidak jelas dari tadi.


"Aku sangat gugup dan gelisah sekali, tidak bisakah kau menghiburku?" Zian mengerucutkan bibirnya kesal.


Herry menarik nafasnya berat "aku tidak bisa menghiburmu, aku tak tau harus berkata apa" ucapnya kepada Zian.


"Ck...kau sama sekali tidak bisa diandalkan" decak Zian kesal. Herry hanya memijit pelipisnya pusing.


"Lebih baik kau bersiap-siap, kata mama sebentar lagi kita berangkat, mama sama papa dan yang lain sudah siap" suruhnya kepada Zian, ia lalu bangkit untuk keluar. tapi sebelum itu ia menanyakan sesuatu pada Zian


"Zian, apakah kau yakin akan mengikuti semua permintaan Indra?" Herry menatap Zian intens


" Wo..wo..wo kenapa kau menatap ku seperti itu, itu sangat mengerikan," Zian malah tidak menjawabnya, membuat Herry semakin melototkan matanya


"Oke...oke....actually, i dont know...cuma aku hanya ingin menyenangkan Indra tuk yang terakhir kalinya, " ada jeda dalam perkataanya, tapi mungkin inilah yang terbaik pikirnya.


"Hmm....oke bro, kau adalah sahabatku, dan juga saudaraku, kalau kau butuh apa-apa, katakan saja padaku, kalau aku bisa pasti aku bantu" senyumnya kepada Zian, Zian hanya mengangguk.


"ya sudah, aku tunggu kau diluar" sambung Herry lagi, ia pun keluar.


...***...

__ADS_1


Rombongan pengantin pria baru saja menginjakkan kaki di rumah pengantin wanita, rumah Kirana sang pengantin wanita sudah disulap seindah mungkin, walaupun dengan dekorasi pesta sedikit sederhana. itu karena Zian dan Kirana tidak mau terlalu mewah. tapi syukurlah semua keluarga menyetujuinya.


Mereka sedang menunggu penghulu datang, jadi dengan rapi mereka duduk dalam diam dikarenakan penghulu belum datang, Zian duduk disamping Herry sekarang ini. ia sedih, hanya Herry yang datang kepernikahannya, sedangkan Rifal salah satu sahabatnya, belum juga muncul dihadapannya.


Jangan tanya orang tuanya, bahkan daddy dan mommynya tidak mengangkat telpon ketika ia menghubungi mereka. memang semenjak orang tuanya bercerai, Zian seperti anak telantar. Walau tinggal bersama sang mommy, ia kekurangan cinta dan juga kasih sayang.


Hingga ia memutuskan pergi dari rumah dan tinggal bersama daddynya, namun tinggal bersama daddy dan ibu tirinya membuatnya menderita, ia menuju Texas karena kuliah sampai ia mendapat pekerjaan dan dipertemukan dengan Indra dan dua sahabatnya lain yaitu Herry dan Rifal.


"Her, Rifal kenapa tidak datang, padahal aku rindu padanya" tanya Zian di sela kegugupannya, tanpa sadar suaranya sedikit bergetar


"Ahahahahahaha...." tawa Herry menggelegar, semua para undangan menoleh dan memperhatikannya penuh tanda tanya. Zian menjitak kepalanya.


Plak.....


"Uppsssss......iam sorry guys, ada kesalahan teknis disini" serunya sambil terkekeh, pipinya merona menahan malu.


"Lu kenapa jadi malu-maluin sih,?" bisik Zian, karena kesal dia jadi mengubah panggilan jadi lu-gue.


"Kapan gue mau nangis? sok tau lu?" sungut Zian menahan kesal.


"Alaaah, lu tu sohib gue, gue tau lu mau nangis tadi pas nanya Rifal" jawab Herry enteng. Zian hanya menggertakkan giginya kesal.


Ingin sekali ia mencabik mulut combreng sahabatnya ini


"Up to you laah.." desahnya kesal, setelah itu seorang laki-laki tua masuk dengan asistennya disamping, sepertinya itu adalah penghulunya.


Mereka yang berada disitu semua berdiri, bersiap untuk melaksanakan ijab kabul. Pak penghulu juga meminta pengantin wanita segera keluar. Zian semakin gugup, ia menggigit bibir bawahnya. Herry hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat baiknya ini.

__ADS_1


...***...


Ketegangan benar-benar melanda Zian, ia duduk diam tanpa menoleh kearah Kirana sama sekali, ia masih menghafal setiap kata untuk Ijab Kabulnya nanti.


Penghulu pun mengangguk kepada Chiko ayah Kirana bahwa ijab kabul sudah boleh dilaksanakan, jadi penghulu, Chiko serta para saksi sudah boleh mengambil posisi masing-masing. (kek mau naikin bendera aja ambil posisi...kekeke)


"Sudah siap nak Zian? apa boleh kita mulai sekarang" kata pak penghulu lembut


Sebenarnya ia cuma akan menjadi penuntun untuk Chiko ayah Kirana, karena yang akan menikahkan Kirana Chiko sendiri sebagai ayah pengantin perempuan.


"Sudah pak.." jawabnya semakin gugup


"Ahaha....kau gugup ternyata,? tariklah nafas dulu, tak perlu gugup, kalau gugup seperti ini bagaimana nanti malam" semua yang hadir disitu pun senyum-senyum malu, termasuk kedua sahabat Zian dan Kirana, siapa lagi kalau bukan Dinda dan Herry.


Penghulu gak ada akhlak ini, Zian makin misuh-misuh dibilang seperti itu, Kirana pun juga ikut gelisah. mereka hanya tersenyum canggung. Zian pun menarik nafas dan membuangnya.


"Oke Zian, kau ikuti kata pak Chiko" sambung penghulu lagi.


Chiko pun menjabat tangan Zian, tangan Zian dingin ketika menyentuh tangan mertuanya. Chiko hanya tersenyum tipis.


"Saudara Zian Avicena, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Kirana Richita binti Chiko Wardhana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas dibayar tunai." ucap Chiko sambil menghentakkan tangan Zian memberi tanda


"Saya terima, menikah dan kawinnya dengan putri bapak, Kirana Richita binti Chiko Wardhana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas, dibayar tunai." sekali tarikan nafas Zian mengucapkannya tanpa kesalahan sedikit pun.


Setelah kedua saksi mengucapkan sah, semua yang berada disitu serentak mengucapkan sah dan disusul dengan Hamdallah. Doa pun dipanjatkan oleh penghulu.


Kedua orang tua Kirana dan Indra bernafas lega, akan tetapi Zian dan Kirana menarik nafas berat, seakan kehidupan yang mencekam akan mendatangi dan menggerogoti mereka berdua. Melihat muka Zian dan Kirana yang nampak tak senang, Dinda menatap mereka sendu.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi setelah ini?" gumamnya bersamaan dengan seseorang yang disampingnya. mereka saling memandang. Suram.


...***...


__ADS_2