
Setelah acara lamaran dan pertunangan mendadak semalam, saat ini Kirana sedang menunggu jemputan Dinda, mereka akan menemui Zian untuk mempersiapkan acara pernikahannya, dan Dinda sebagai sahabat juga ikut membantu Kirana.
"Tumben banget ni anak telat, biasanya cepet banget jemputnya, ketidurankah?" Kirana resah menunggu Dinda tak kunjung datang, sudah hampir setengah jam ia menunggu.
Tiiiiid....tiiid...(anggap aja suara klakson mobil)
"Astagfirullah,.kenapa malah ngeklakson gitu, biasanya juga masuk dulu, makan dulu," omel Kirana ketika ia tiba didepan mobil. tapi setelah melihat muka Dinda yang berantakan, ia langsung terdiam.
"Muka mu kenapa, mata juga sembab? gak tidur apa gak mandi?" Canda Kirana terkekeh ia pun menutup mulutnya menahan tawa yang lebih kencang.
"Dua-duanya," ketus Dinda, ketika Kirana sudah duduk disampingnya dalam mobil, Dinda pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Kirana.
"Loh why? kamu kenapa sih? kasih tau aku donk" tanya Kirana dengan suara imut plus bergelayut dilengan Dinda. Dinda langsung memasang mukanya datar.
"Kamu nanya lagi, kamu mau nikah Raan, nikaaah... terus dengan orang yang gak kamu cinta sama sekali lagi, bisa dibilang nikahnya karena terpaksa, pleaseeee....jangan bilang kamu dalam keadaan baik-baik saja" seru Dinda membara. cukup sudah ia menahan diri.
"terus aku harus gimana gitu? adakah pilihan lain selain menikah Din?" lirih Kirana, Dinda pun bungkam.
Sakit melihat sahabat kita akan menikah tapi bukan dengan pilihannya, Dinda takut melihat Kirana menderita. ia pun menepikan mobilnya dan menatap Kirana sendu.
"Aku takut Ran, hiks... aku takut kamu menderita" suara Dinda bergetar ia sudah mengeluarkan airmata.
Kirana kaget, ia tidak menyangka sahabatnya yang tangguh ini malah rapuh karena memikirkannya.
"Din, pleasee jangan menangis, kalau kamu nangis gini, siapa yang bakal nguatin aku, aku butuh kamu untuk bisa nguatin aku," ucap Kirana juga sudah menangis.
Dinda menghapus airmatanya kasar, ia menatap Kirana sekilas lalu memeluknya erat.
"Aku gak bakalan ninggalin kamu, kapanpun kamu butuh aku, hubungi aku, kasih tau aku, cerita sama aku, aku akan selalu disamping kamu" tegas Dinda mengultimatum layaknya seorang kakak kepada adiknya ketika rapuh.
Tapi Kirana diam seribu bahasa, ia bingung memikirkan kata-kata Dinda, apakah ia akan menceritakan masalah kesepakatan itu sama Dinda atau menyimpannya sendiri. ia menetralkan dirinya dan melepas pelukan Dinda.
"Din...kalau kamu nangis gini, kamu makin jelek ternyata" ucapan Kirana sukses membuat Dinda kesal, ia memoutkan bibirnya maju 5 centi kedepan, Kirana pun tertawa terpingkal-pingkal. Hufft...Kirana lega.
__ADS_1
"lucu banget kamu gitu..ahahah...aduh perut ku sakit...ahahaha" Kirana memegang perutnya sambil masih tertawa, Dinda hanya tersenyum tipis melihat sahabatnya sudah bisa tertawa ceria seperti itu. ia masih ingat bagaimana terpukulnya Kirana ketika kehilangan Indra. ia bersyukur Kirana sudah ceria kembali.
Dinda pun menginjak gas untuk melajukan mobilnya, membuat Kirana tersentak kaget, ia memegangi dadanya yang berdetak kencang...ia kesal dan menjitak kepala Dinda, Dinda mencibir kearahnya. mereka berdua pun berdebat panjang didalam mobil.
'suatu saat nanti aku akan cerita Din, tapi bukan sekarang, aku masih butuh waktu' batin Kirana tersenyum tipis kearah Dinda.
...***...
Disebuah Restoran
"Kemana sih mereka lama sekali, katanya jam 9, ini udah hampir makan siang belum juga kelihatan batang hidungnya" rutuk Zian, ia terus memandangi jam tangannya.
Dari arah pintu restoran Zian melihat dua orang perempuan masuk dengan ceria, kelihatannya mereka sedang bergurau senda. Ia teringat ketika masih di Texas, ia juga sebahagia itu dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya termasuk Indra.
"Apa aku telpon mereka berdua untuk datang ke pernikahan ku?" monolognya sendiri. Kirana dan Dinda mendekat dan langsung duduk di meja Zian, Zian hanya menatap tanpa ekspresi.
"Ceileeeh tu muka masam banget kayak jeruk nipis" kekeh Dinda ketika menatap Zian, Zian ingin ketawa tapi sekuat tenaga ia tahan.
"kkkkk....apa-apaan sih Din, samain orang sama jeruk nipis" kekeh Kirana, ia gak habis pikir sama kekonyolan sahabatnya ini.
"isshh....baru juga duduk udah di bombardir aja" sahut Dinda, Kirana hanya menatap tajam kearahnya.
"Why?...oke-oke aku diam" Dinda mengzip mulutnya tanda diam
"Sorry Zian, tadi ada makhluk astral yang terlambat menjemputku" orang yang dibilang makhluk astral langsung melongo tak percaya
"Ya Allah kejamnya kamu Ran, aku dibilang makhluk astral" rengek Dinda sukses membuat mereka berdua terkekeh.
Untung ada Dinda yang bisa mencairkan suasana, mungkin kalau tidak ada Dinda, mereka berdua akan mengalami rasa canggung luar biasa. mendengar kekehan mereka berdua. Dinda duduk tegap.
"Udah lupakan, kita fokus ke rencana persiapan pernikahan, jadi mau pake konsep apa kalian berdua?" tanya Dinda lagi, ia sekarang bersikap normal. membuat Zian melongo, dalam sekejap mata Dinda bisa serius begitu.
"Gue terserah kalian saja, kalian tau kalau gue gak bakalan ngerti masalah konsep pernikahan, jadi gue ngikut aja" jawab Zian
__ADS_1
"Sejak kapan ngomongnya pake lu-gue? oke boleh juga biar enak" ucap Dinda, Kirana hanya menjadi penyimak. Dinda pun menatap Kirana mencari jawaban.
"Oke...aku mau pernikahan sederhana aja, Undangannya juga orang-orang terdekat aja, aku gak mau rame kali" ungkap Kirana, lagian dia berpikir untuk apa pesta besar, dengan pernikahan palsu seperti ini.
Zian dan Dinda sangat mengerti kenapa Kirana tidak ingin pesta besar, jadi mereka mengangguk mengerti.
"Oiya Zian, lu ada yang mau di undang? berapa orang? biar kita pasti untuk memesan undangan" tanya Dinda membuat Zian bingung, matanya langsung sendu.
"I dont know, gue gak tau harus ngundang siapa, karena yang urus semua mama sama papanya Indra," ucapnya sendu.
"orang tua lu, sama teman-teman lu?" tanya Dinda jadi penasaran, bukan hanya Dinda, Kirana pun ikut penasaran.
"Ah mereka, mungkin gue akan mengundang dua sahabat gue, untuk orang tua gue gak yakin." senyum tipis Zian.
"Lah kenapa memang, apakah mereka terlalu sibuk bekerja?" tanya Dinda lagi
"Ya begitu lah, mereka terlalu mencintai pekerjaan dari gue" bohong Zian
"Yaaah, gue ngerti perasaan lu, gue juga mengalami itu" ucap Dinda sendu, mereka dari tadi berbicara mengabaikan Dirana yang hanya menatap mereka berdua sendu.
"Bisakah kita kembali ke topik pembicaraan, kenapa kalian malah jadi curcol begini" pertanyaan Kirana membuat mereka berdua menatap Kirana terkejut dan langsung terkekeh. Kirana hanya memijit pelipisnya geram.
Setelah berdiskusi panjang tentang persiapan pernikahan dan juga makan siang bersama, mereka memutuskan kembali, Kirana dan Dinda undur diri untuk berangkat kuliah, sedangkan Zian kembali kerumah Indra.
...***...
Rumah Sakit Texas
"Still as usual? no progress at all? (masih seperti biasa? belum ada kemajuan sama sekali?) "
"Yes sir, I see, are we still maintaining it? It's been almost 2 months he's still like that. (Ya pak, begitulah, apakah kita masih mempertahankannya? sudah hampir dua bulan dia masih seperti itu)"
"Let's see how it develops first. (kita lihat perkembangannya dulu) "
__ADS_1
"Oke sir" mereka akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
...***...