The Crazy Testament

The Crazy Testament
Bukan Salah ku


__ADS_3

Suara burung berkicauan di luar jendela sebuah Club. Dua anak manusia yang semalam sudah melepas pakaian tanpa mengerti keadaan, masih terlelap tanpa terganggu dengan suara burung yang saling sahut bersahutan diluar kamar mereka.


Indra yang masih menutup mata pun perlahan membuka mata. Pusing melanda kepalanya karena terlalu banyak menenggak minuman haram itu. Begitupun Luna, ia mengerjap-ngerjap kan matanya untuk menetralkan pandangan yang mengabur.


Sama-sama memegang kepala yang dilanda pusing. Keduanya terpaku ketika atensi mereka saling menatap. Lama mereka terdiam untuk mencerna keadaan yang berada didepan mereka ini. Dalam hitungan detik keduanya pun berteriak lantang.


"Arrrghhhhhhh...... " serentak Indra dan Luna memekik


Indra berdiri tanpa sadar bahwa dia dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Luna ternganga ketika melihat keadaan Indra, ia juga membuka selimut yang membalut tubuh polosnya. Kemudian ia kembali berteriak.


"Kyaaaaaa...... " teriakan Luna membuat Indra menutup daun telinganya.


"Apa yang lu lakuin sama gue Ndra?" pekik Luna, Indra hanya terbengong tanpa mengeluarkan kata sepatah pun.


Indra mengambil celana yang berserakan di lantai, ia memakai celananya dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya berdenyut hebat setelah tersadar dari apa yang terjadi.


"Ki-kita... Apa yang kita lakukan? " dengan masih linglung Indra malah bertanya balik kepada Luna.


"Seharusnya gue yang nanya sama lu, lu apain gue?" Luna berusaha bangun dari ranjang, tapi dia merasakan perih di bagian sensitif miliknya.


Hingga spontas ia berteriak "Aakhhhh" lirih Luna


"Lu kenapa Lun?" panik Indra.


"Indraaaaa...... Apa yang telah terjadi sama gue haah? Apa yang sudah kita lakukan?" pekik Luna frustasi.


Isak tangis memenuhi kamar itu. Luna semakin kalut karena mereka telah melakukan hal yang tidak ingin Luna lakukan dahulu selain kepada suaminya kelak. Tapi harapan Luna pupus, merasakan sakit dan juga atensinya tak sengaja menangkap bercak merah di sprei yang ia duduki.


"Bagaimana ini Indra, kenapa lu lakuin ini sama gue?" Luna menggila, ia menarik-narik bahu Indra yang masih linglung.


"Gue juga gak ngerti Lun, yang gue ingat. Kita lagi minum-minum untuk menyusun rencana melancarkan aksi kita besok pagi. Tapi malah kita yang disini" sendu Indra menatap ke dalam manik coklat Luna.


"Hiks.... Hiks.... Lu merebut kesucian gue Ndra. Lu harus tanggung jawab! "


Luna menangis sesegukan, mengingat nasib diri yang sudah ternodai oleh teman sendiri. Begitu bodoh dirinya yang mabuk-mabukan berdua bersama seorang laki-laki tanpa memikirkan resikonya.


Melihat tangisan pilu Luna. Indra pun dengan tanpa dosa mengatakan bahwa itu bukanlah salahnya.


Kenapa Luna menangis, bukankah dia memang wanita panggilan. Pikir Indra.

__ADS_1


"Loh, lu kenapa menangis? Bukankah pekerjaan lu juga begini kan? Semua yang terjadi juga bukan kesalahan gue, lu juga salah. Kenapa lu gak cegah gue?"


Luna menatap Indra tajam. Indra masih mabuk kayaknya. Bagaimana Luna mencegah kalau dia saja dalam keadaan mabuk dan gak sadar diri. Hati Luna semakin tersayat ketika Indra menuduh nya sebagai wanita tidak baik.


"Sejahat apapun gue sama orang, gue gak pernah lakuin hal kotor kayak gini. Apa lu buta? Liat sprei nya ada bercak merah, itu artinya lu udah ngerenggut kesucian gue. Lu harus tanggung jawab Ndra" lirih Luna pilu, hatinya sakit mendengar ucapan Indra


Indra terdiam. Bukti menunjukkan kalau Luna masih suci dan ia merenggut nya dengan paksa. Ya, walau Indra tidak mengingat sama sekali. Tapi Indra tetap pemuda keras kepala yang egois tanpa memikirkan betapa hancurnya Luna.


"Terserah lah. Gue gak mau berdebat sama lu, lagian ini bukan kesalahan gue aja. Lu juga ikut andil, jadi gue gak mau tanggung jawab" Indra meraih baju yang tergeletak dilantai bermaksud memakainya.


Jedaaar.....


Hati Luna benar-benar tersayat mendengarnya, tidak sedikitpun Indra memikirkan bagaimana nasibnya kedepan. Luna benar-benar tidak tau dan tidak mengenal Indra sama sekali dan malah mau bekerja sama dengan nya.


"Gue gak nyangka lu sebejat ini Ndra. Bagaimana kalau gue sampe hamil? semua orang akan memandang gue kotor...Hiks....hiks.." seru Luna terisak


"Kalau lu hamil, ya tinggal gugurin lah. Ribet amat" Indra menarik nafas sejenak. "Di mata orang-orang mang lu tuh cewek gak bener. So, ngapain lu sampe mikirin pandangan orang ke lu" timpal Indra lagi yang bersiap memakai bajunya


"Mulut lu memang kejam Ndra, lu gak punya hati. Lu gak mikirin gue sama sekali... Hiks... " Luna frustasi ia mendekati Indra dengan susah payah karena berbalut selimut dan mencakar badan Indra yang belum sempat memakai baju.


Indra mendorong tubuh Luna hingga terjatuh di lantai. Kemudian berjongkok menatap tubuh berbalut selimut tersebut berseringai. Ia membelai pipi mulus Luna yang sudah basah dengan air mata, lalu memegang pipi Luna dengan keras.


"Gue udah bilang sama lu, gue gak mau tanggung jawab dan yang gue mau itu cuma Ran. KIRANA. Bukan lu cewek murahan" Indra menarik nafas kasar.


"Itu bukan kesalahan gue. Ya udah, nanti gue telpon lu" ucapnya lagi, ia memakai kemeja nya dan berlalu meninggalkan Luna yang masih menangis.


Luna kalap, ia mengamuk, meratapi kemalangan nya. Ia menghancurkan semua barang yang ada di kamar tersebut jadi berantakan semua.


"LU KEJAAAM NDRA.... GAK PUNYA HATIIII.... " teriak Luna lantang, hingga ia terjatuh bersimpuh dilantai menangisi keadaannya sekarang. Luna menarik-narik rambut panjang hitam legam miliknya karena frustasi.


...********...


Di pinggiran sebuah kota. Di rumah mewah milik Zian Avicena, terdengar candaan bahkan gurauan dari pemilik rumah dan juga semua yang berada disitu. Tentu saja yang menjadi pemeran utama gurauan mereka adalah Zian dan Kirana sang tuan rumah.


"Nah.... Zi, rumah baru udah ada, sama Ran juga udah tinggal bareng. Kapan ni punya Zian junior?" canda Herry sambil mengedip genit ke arah Zian dan Kirana.


"Nah iya ni, kalau ini ayah setuju banget sama kamu Her. Gak ada bantahan, ayah pengen nimang cucu juga" cengir Chiko.


"Bukan ayah aja, ibu juga udah nunggu lama loh. Kapan kalian berdua beri kami cucu?"

__ADS_1


Zian dan Kirana hanya tersipu malu. Membuat yang berada disitu semakin gencar untuk membuat Zian dan Kirana seperti kepiting rebus.


"Ayo Ran, Zi... Segera kasih aku ponakan yang lucu-lucu" pekik Herry senang bergaya bak cheerleader


"Ya Allah... lu malu-maluin tau Her" gerutu Kirana malu


"Loh kenapa Ran, udah bener kok kalau kami minta cucu dari kamu sekarang. Kalian kan udah setahun menikah" timpal Karina lembut.


"Iya... udah saatnya kalian membuat rumah ini ramai dengan suara tangisan bayi. Jadi, kapan ni? udah ada rencana belum?" senyum Teguh kepada kedua anak angkat mereka itu yang juga disambut senyuman malu dari Kirana dan Zian.


"Lah ditanya malah senyum-senyum gak jelas. Dijawab dong kalau ditanya orang tua" Dinda ikut berkomentar ketika baru muncul ntah darimana bersama Rifal.


Herry bingung melihat kedatangan Dinda dan Rifal yang barengan. Kenapa Dinda malah sama Rifal, darimana mereka berdua. Herry terus memandangi kedua manusia didepannya itu.


"Her, liatin Dinda sama Rifal jangan gitu donk. Sampe mata mau copot itu" tepuk Zian dipundak Herry. Sontak semua yang berada disitu beralih menatap Herry.


"Eh.... ngadi-ngadi... Siapa yang liatin Dinda. Aku bingung sama dia yang tiba-tiba muncul kayak dedemit" bela Herry.


"Padahal aku bilangnya berdua, kok cuma Dinda yg disebut?" sergah Zian bertanya. Herry terdiam menatap tajam kearah Zian. Zian jadi salah tingkah sendiri.


"Upss.... Sorry bro.. " Zian beralih menatap Kirana dan mengedik bahu sambil tersenyum konyol.


Kirana hanya tersenyum melihat tingkah lucu suaminya itu. Pemuda tampan didepannya ini sangat lah aneh. kadang cuek, kadang dingin, kadang gokil bahkan lucu menggemaskan seperti sekarang ini. Kirana tak menyadari kalau Dinda sudah memperhatikan tingkahnya yang terus menatap lekat kepada Zian. Hingga ide untuk menjahili Kirana muncul di otak bobrok Dinda.


"Haduuuh.... yang terus memandangi Hon.....da tercinta" tawa Herry dan Rifal sontak meledak. Bagaimana bisa Dinda menyamakan Zian dengan merk sepeda motor.


"Honda? Honda?" Kirana mengulang-ulang pertanyaan nya


"Ya kan? kemarin kamu panggil Zian Hon, Honda kan?"


Dinda benar-benar tidak tau atau pura-pura tak tau. Herry sama Rifal termasuk ke empat orang tua yang berada di situ tertawa terbahak-bahak.


"Aduuh ya Allah... Lu beneran gak tau? Atau gimana? Ogeb banget sih" ucap Herry diselingi tawa.


Dinda memandang Herry tajam. Ia bangkit dan menggetok kepala Herry dengan tangannya dan berlari menjauh. Semua yang berada disitu semakin menertawakan tingkah keduanya. Herry yang kena getok tak terima. Ia pun mengejar Dinda yang sudah melarikan diri setelah memukul Herry.


"Kapan lah mereka akur,?" ucap Teguh di angguki semuanya kecuali Rifal.


...*********...

__ADS_1


__ADS_2