
Sinar matahari pagi menyapa wajah teduh dan tampan milik pemuda blasteran Malaysia Switzerland itu, ia membuka matanya malas, merenggangkan setiap sendi tubuhnya yang atletis, setelah itu ia akan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini adalah hari kedua ia di Indonesia, ia berencana untuk keluar dari hotel sekedar mencuci mata dengan berwisata berkeliling kota.
"Aah, i'am so hungry...aah makan apa ya?" ucapnya bermonolog, sejurus kemudian ia membuka kulkas dan hanya menemukan buah dan minuman.
"Kayaknya emang harus keluar" gumannya lagi dan bergegas kekamar mandi.
Setengah jam kemudian...
Zian sedang digerbang hotel menunggu taksi yang ia pesan melalu online, begitu taksinya sampai ia menyuruh sang supir untuk kesebuah cafe sekitar hotelnya, sebelum berkeliling kota ia ingin mengisi perut dulu dengan makanan mengenyangkan.
Ia membuka pintu sebuah cafe di pinggir jalan kota tersebut, ia melihat ke kiri dan kanan mencari sebuah kursi kosong untuk ia tempati, ternyata ada sebuah kursi kosong dipojokan, ia pun menuju kesana, sambil menunggu pelayan cafe datang ia lantas membuka ponsel miliknya, sampai sebuah suara yang sangat familiar di telinganya terdengar.
"Whaaat??? Kamu gak lagi mabuk kaan?" teriak seseorang yang terasa tidak asing di telinga Zian
"Ya gaak lah, kamu pikir aku pemabuk? Bisa di smackdown sama ibu dan ayah" ucap gadis bermata bening itu,
"Terus kenapa kamu setuju gitu aja? Gila benar anda wahai saudara ku" seru seorang gadis lagi, pemuda itu sedikit terkejut mendengar kata teman gadis itu, hingga seorang pelayan cafe menyadarkannya
"Maaf tuan, mau pesan apa?" ucap pelayan tersebut
"Oo ooh...sorry, saya pesan sandwich and jus alpukat." ujarnya sedikit gelagapan yang disambut anggukan sang pelayan, pelayan pun meninggalkan Zian.
Zian kembali melihat kedua gadis yang masih berargumen tadi, dan Zian sekarang mengerti, apa yang dibicarakan mereka berdua.
...***...
Zian berjalan menyusuri jalanan disebuah taman dikota itu, ia masih memikirkan pembicaraan kedua gadis yang tak lain adalah Kirana calon istri wasiatnya dan juga temannya Dinda.
(Flashback on)
"Aku gak tau harus gimana Din, selain setuju dengan wasiatnya Indra" ucap Kirana
"Gak gini juga kali Ran, masalahnya kamu gak tau siapa cowok es itu" seru Dinda
"Ntah lah, tapi Indra yakin kalau aku bakalan bahagia sama tu cowok" sendu Kirana
"Aah....bisa gila aku mikirin masalah kamu ini, baru juga 23 tahun udah stress gak ketulungan aku" ucap Dinda frustasi,.
__ADS_1
"Hufttt...." Kirana hanya menarik nafas berat
^^^(Flashback end)^^^
"Arghhh....kenapa dia malah setuju siih, padahal aku berharap ia menolak, jadi ada alasan bahwa wasiat gak bisa dilanjutkan, karena salah satu menolak, tapi aku gak mau, aku yang nolak karena bisa mengingkari janji, aaah....its so crazy."
Zian terus bermonolog sendiri, terkadang ia akan mengusap wajahnya kasar, menjambak rambutnya, sampai orang sekitar kebingungan melihat tingkah aneh pemuda didepan mereka itu.
Sadar diperhatikan, Zian cuma cengengesan tidak jelas dan memutuskan meninggalkan taman tersebut.
...****...
"Kenapa melamun?" tanya Dinda ketika mereka sedang berada didalam mobil menuju kampus, setelah tadi sempat berhenti disebuah cafe untuk sarapan.
"Ntah laaah, masih pusiing aku Din, lama-lama gila juga aku kayak gini" ujar gadis yang sedang dilema itu
"Laah, kenapa lagii?? Kan kamu udah setuju, walau gak mikir panjang, langsung setuju pas mama sama papanya Indra memohon buat terima permintaannya Indra" ucap Dinda kesal.
(Flashback on)
"Mama mohon Ran, kamu terima aja lamarannya Zian, mama liat Zian anak yang baik" ucap Karina
"Kenapa mama seyakin itu kalau Zian anak yang baik" ujar Kirana penasaran
"Gini bu Rita, pak Chiko, Zian dari pertama datang mengabarkan Indra mengalami kecelakaan sampai tahlilan hari ketujuh, dia sama sekali gak bergeming, dialah yang membantu semua keperluan kami, dia juga selalu menawarkan bantuan ketika kami butuh, sampe selesai tahlilan dan keluarga pada balik kampung, ia masih tinggal bersama kami, dan sebelum ia balik ke Texas ia sempat berbicara sama kami masalah surat wasiat Indra itu" jelas Teguh panjang lebar
"Dan kemarin dia datang kerumah kami dan mengatakan maksud kedatangannya yang ingin memenuhi wasiat Indra dan ia meminta pendapat kami dan kami berdua menyetujuinya, maka dari itu Ran, mama mohooon,...terima lah lamaran Zian, memang mama masih meyakini bahwa Indra masih hidup, tapi mama juga tidak bisa memungkiri kalau Indra..hiks..benar- benar sudah tiada, apa yang bisa mama lakukan, mama hanya bisa memenuhi permintaan terakhir dia, yaitu ingin melihat kamu bahagia" ujar Karina dengan sudah berlinang air mata. Kalau sudah begitu, Kirana bahkan kedua orang tuanya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, padahal Kirana ingin sekali menolaknya.
^^^(Flashback end)^^^
"Eeeh....dipanggil-panggil dari tadi, kok yaa malah semakin dalam melamunnya" kalimat Dinda mengagetkan Kirana yang asik dengan pikirannya.
"Apa yang harus aku lakukan Din?, aku semakin bingung, aku benar-benar pasrah dalam situasi ini" sendu Kirana
"Hmmm....aku juga gak tau harus berkata apa, sejujurnya aku gak mau kamu menerima lamaran ini, itu karena aku takut kamu nanti menjalani pernikahan yang membuat kamu gak bahagia, karena kamu pun belum mengenal dia, dia pun juga tidak mengenal kamu dengan baik, pernikahan kalian seperti keterpaksaan karena adanya sebuah wasiat, aku takut banget nanti kamu malah tertekan" jelas Dinda panjang lebar.
"Aku harus gimana donk kalau gitu? Kasih solusi kek, jangan malah nakutin seperti itu, aah... Indra...kenapa dia bikin wasiat macam gini" seru Kirana yang sudah meneteskan airmata.
"Sorry, bukan nakutin, hanya berpendapat, tapi aku juga gak tau kedepannya, mungkin malah benar kata Indra kalau pernikahan kalian, malah membuat kamu bahagia, kan kita gak tau kedepannya" ujar Dinda nyengir kuda berusaha menenangkan Kirana, padahal dia sendiri tidak yakin dengan perkataannya sendiri.
__ADS_1
Mereka pun sampai kekampus, Dinda berusaha bercanda untuk mencairkan suasana agar Kirana sedikit ceria, agar ia tidak berlarut dalam kegalauan dan dilemanya. tapi sia-sia Kirana sudah terlarut dilema akan masalahnya
...***...
Sementara itu, pemuda yang dari tadi masih frustasi setelah mengetahui bahwa calon istri wasiatnya setuju, ia uring-uringan sendiri hingga rencananya mengelilingi kota untuk mencuci mata dibatalkan.
Dan disinilah ia sekarang, disebuah bar di tengah kota, ntah bagaimana ia sampai ke bar tersebut, yang jelas ia hanya ingin menenangkan pikirannya dengan meneguk segelas atau bahkan sebotol alkohol.
Dia lupa bahwa alkohol dilarang dalam agama yang sudah setengah tahun ini di anutnya. Walaupun ayahnya seorang muslim, karena dari kecil ikut ibu ia menganut agama sang ibu,
Yaa..setelah berteman baik dengan beberapa teman muslim ia jadi mualaf dan mempelajari tentang islam, makanya jangan heran kalau Indra menulis namanya sebagai calon suami wasiatnya Kirana sahabat Indra.
"Waah....tuan sangatlah tampan, apa tuan ingin bermain bersama saya sebentar" ucap seorang perempuan yang berpenampilan sangat sexy, dengan baju mini yang menampakkan bagian belahan atasnya, tapi Zian sama sekali tidak tertarik, ia hanya menatap perempuan tersebut dengan tatapan sedingin es.
"Go away...leave me alone, aku tidak ingin diganggu sekarang" jawabnya datar
"Ayolaah tuan, jangan malu-malu, saya yakin tuan akan puas bersama saya" rayu perempuan tersebut dengan suara yang dibuat sesexy mungkin, kesabaran Zian hilang, ia datang ke bar ini ingin mencari ketenangan dengan meneguk alkohol, alhasil malah diganggu wanita malam, semakin membuat ia naik darah.
"I said leave me alone...jangan sampai saya berlaku kasar terhadap anda" suaranya sedikit meninggi
"Sombong sekali tuan, hidup tuan sangat monoton sekali, sama sekali tidak menyenangkan, dingin seperti es" ucap perempuan tersebut mendengus kesal dan meninggalkan Zian sendirian, karena moodnya Zian yang keburu hancur, ia pun bangkit meninggalkan bar dan pulang ke hotel.
...***...
Hari penentuan pun tiba, dimana Zian datang kembali kerumah Kirana, sejak tadi Kirana sudah tidak fokus dan konsentrasi melakukan apapun, ia hanya mondar mandir dikamar, sedangkan kedua orang tuanya sedang dikebun belakang rumah mereka.
Lagi mondar mandir, Kirana tersentak kaget tatkala mendengar Playing with Fire nya Blackpink berbunyi yang menandakan ringtone dari ponselnya. Ternyata Dinda yang menelpon.
"Kamu kenapa sih? Bikin kaget aja" ucapnya kesal.
"Waduuuh, belum juga ngomong udah kena semprot" balas Dinda
"Kenapa nelpon?" tanya Kirana ketus
"Astagfirullah Ran, ada apa sih kok gak mood banget, ngomongnya ketus banget lagi" tanya Dinda penasaran
"Kamu tau kan hari ini hari apa? dan aku benar-benar gak mood banget ini" ucap Kirana
"Ya udah, turun laah, aku dibawah ini sama ibu dan ayah, kata ibu tadi kedua orang tua Indra dan juga Zian sudah diperjalanan mau kesini"
__ADS_1
Kata-kata Dinda membuat Kirana tercekat, dan ia langsung bergegas turun kebawah dan mendapati Dinda dan kedua orang tuanya dalam tampang serius, ia hanya menghela nafas berat.
...******...