The Crazy Testament

The Crazy Testament
Mereka Siapa?


__ADS_3

Herry turun dengan terburu buru, ia ingin menghampiri Zian yang sudah terduduk di tanah. Tapi ketika mendengar perkataan Zian ia yang panik dan cemas malah terperangah tak percaya.


"Bang abang berdua mank gak da akhlaknya ya, gak da kasih sayang sama sekali sama cowok ganteng kayak gue ini" tutur Zian sambil berdiri, ia membersihkan celananya dari kotoran yang melekat dengan cara ditepuk tepuk.


Herry yang sudah berdiri dibelakang Zian hanya bisa mengerjap ngerjapkan matanya kaget. Seorang Zian, cowok kulkas panggilan Dinda, bisa bicara lebay dan alay gitu.


"Haduuuh, gue cape bang, pulang aja yuk ! Laper juga gue ini" ucap pemuda cungkring


"Nah kan laper, gue ajak makan dan minum tadi gak mau, gue yang traktir padahal" timpal Zian membuat kedua pemuda asing itu memutar bola matanya malas.


"Lama lama gue hadapin ni orang gila, gue juga ikutan gila" ucap pemuda pendek


"Makanya, ayuk pulang !! Nanti kita obrolin di jalan" Pemuda cungkring menarik tangan pemuda pendek dan mereka meninggalkan Zian sendirian.


Zian bernafas lega, ia menarik nafas berulang kali sambil mengelus dadanya pertanda lega. Namun sejurus kemudian ia berteriak lantang ketika tiba tiba Herry menepuk bahunya dari belakang.


"Aaaaaaa......" pekiknya untung gak teriak kayak cewek cewek alay.


Herry terdiam mematung melihat tingkah Zian, ini bukan lah Zian sahabatnya, Zian tidak geser otak kayak gini.


Herry mendekati Zian, menempelkan telapak tangannya kekening Zian untuk mengukur suhu badan.


"Normal, tapi kenapa bisa gini ya?" bingungnya membuat Zian terkekeh.


"Loh lu kok disini Her?"


Pertanyaan Zian membuat Herry mendengus kesal,


"Salah lu, gue nunggu udah lama lu gak datang, eh malah main perang perangan disini" dengus Herry


"Astagfirullah, main perang perangan gundul mu, lu gak liat gue dihajar, untung gak kena wajah tampan gue kan"


"Ya salam, wajah tampan dari mana? wajah dingin dan kaku iya, hahaha...." ledek Herry sambil tertawa


Mendengar ledekan Herry, Zian membekap mulut Herry erat, karena sifat jahil Herry pun menjilat tangan Zian membuat Zian menarik cepat dan mengelap tangannya ke baju Herry.


"Jorok banget sih lu bule.. Sohib gak ada akhlak lu.," pekik Zian sambil mengelap air ludah Herry ke baju Herry.

__ADS_1


"Udah ah, ayo pulang..!!" Ajak Herry membuat Zian melongo,


"Pulang? loh lu kan mau ke Bandara, kok malah pulang?"


"Udah telat Bambang, gue udah ditinggal pesawat 20 menit yang lalu, besok aja kita selesain masalah pesawat, sekarang pulang aja!"


"Ya maaf Markonah, kan gue gak sengaja ini.. Tiba tiba aja gue diserang tanpa sebab" sergah Zian.


"Iya, gue gak nyalahin lu, mendingan kita pulang, karena gue mau tau cerita lu" tutur Herry.


Mereka berdua pun masuk mobil Zian yang terparkir sembarangan di pinggir jalan. Kali ini Herry yang menyetir, karena ia ingin Zian beristirahat setelah bergelud konyol dengan dua suruhan yang ntah siapa baginya.


Pikiran Herry masih berkecamuk memikirkan dua preman yang menghajar Zian tadi, begitupun Zian ia tidak tidur sama sekali, pikirannya menerawang siapa yang menyuruh mereka berdua untuk mencelakainya.


Karena dia mendengar preman itu menggerutu dikasih mangsa seperti dia. Pikirannya hanya satu orang yang mungkin bisa melakukannya, siapa lagi kalau bukan Indra.


"Ya Allah, jangan sampai yang aku pikirkan sekarang adalah kebenaran" batin Zian lirih


...*******...


Rasa cemas, panik, bercampur takut terus dirasakan Kirana saat ini, ia bahkan mengetuk ngetuk kakinya tidak tenang. Pikirannya menjalar mengingat Zian, apakah Zian baik baik saja sekarang? itu lah dalam pikiran Kirana saat ini.


Rita sedari tadi khawatir melihat anaknya gasrak gusruk, bahkan wajah Kirana sudah pucat sekarang.


"Ran cemas bu, takut ada apa apa sama Zian" ucap Kirana menggigit kukunya.


"Oke, tapi kamu tenang dulu nak, berpikiran positif aja bahwa sekarang Zian masih sehat wal afiat" ujar Chiko sambil tersenyum kepada Kirana dari arah kaca spion.


"Tapi yah, aku masih khawatir berharap Zian memang tidak kenapa napa, hanya saja hatiku ragu" sendu Kirana.


"Kamu lupa siapa Zian? dia pemuda kuat dan tangguh, banyak sudah yang dia lewati ketika ia menghirup udara di dunia ini, jadi kamu gak perlu meragukannya"


Kirana menatap kedua orang tua nya dengan sendu, tapi ada gurat kelegaan yang terpancar, dia bersyukur di waktu genting begini orang tuanya dengan siaga berada disampingnya.


Lagi mengagumi orang tua, Kirana di kejutkan oleh getaran ponsel, ia dengan tergesa merogoh tas dan mengambil ponsel tersebut.


Drrt.....drrtt....

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Din" iya yang menelpon adalah Dinda


"Udah dimana Ran?"


"Aku udah hampir dekat dengan Apart nya Herry, tapi belum kelihatan Zian di pinggir jalan, bahkan mobilnya"


"Aku juga udah di daerah Apart Herry, tapi gak kelihatan juga, ya udah aku telpon Herry dulu, kamu udah telpon Zian?"


"Astagfirulllah, belum Din. Kok aku jadi linglung gini ya?"


"Hadeuuh....coba telpon Zian, aku telpon Herry"


"Oh oke"


Setelah memutuskan telpon, Kirana mencari nama Zian di ponselnya dan setelah mendapatkannya, ia pun menghubungi Zian.


Sudah beberapa kali Kirana menghubungi Zian, tapi Zian tidak mengangkatnya bahkan ponselnya tiba tiba tidak bisa dihubungi.


Kirana semakin panik dan frustasi jadinya, beberapa kali Rita maupun Chiko menenangkannya.


"Yah, bu...gimana ini? Zian baik baik saja kah?" tanya Kirana, ia mulai terisak.


"Ya Allah, Ran kamu tenang sayang, ini kita telusuri dan cari Zian" Rita juga mulai berkaca kaca menatap anaknya menangis


"Aku sudah berulang kali menelpon nya, bahkan sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi"


Airmata Kirana semakin luruh, ia menangis sesegukan.


Rita dan Chiko semakin panik.


"Raan....sayang, ya Allah jangan menangis nak, istigfar tenangkan dirimu.! Apa kamu tidak punya nomor Herry agar bisa di hubungi, atau tunggu kabar dari Dinda dulu" Chiko panik melihat Kirana yang sudah terisak.


"Kayaknya begitu Ran, kita tunggu kabar dari Dinda dulu, sekarang kamu tenang, kalau kamu begini bagaimana kita bisa berpikir" saran Rita


Mendengar ucapan Rita dan Chiko, Kirana menarik nafas berat dan mulai menetralkan perasaannya. Matanya menjelajahi jalan diluar jendela mobil.


"Semoga kamu baik baik saja sayang" batin Kirana.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2