The Crazy Testament

The Crazy Testament
Zian Harus tau


__ADS_3

Mobil Rifal memasuki gerbang rumah besarnya Zian. Dinda turun berlalu masuk tanpa menunggu Rifal terlebih dulu. Tapi sial, dia malah melihat Herry sedang membuka celananya. Jadilah pantat putih mulus Herry terpampang jelas di mata Dinda. Dan Dinda menjerit kaget sambil menutup matanya. Herry juga sama, dia yang lebih shock sambil menarik kembali celana nya.


Kyaaaa......


Teriakan Dinda menggema di seluruh ruang tamu. Rifal yang mendengar teriakan Dinda langsung tergopoh-gopoh berlari menuju tempat Dinda berada.


"Ada apa Din?" tanya Rifal ketika mendekati Dinda yang masih setia menutup matanya.


Dinda menunjuk suatu arah dengan telunjuk nya tanpa membuka mata. Rifal mengikuti arah telunjuk Dinda dan mendapati Herry yang terbengong dengan mulut menganga melihat kehadiran dua sahabatnya itu.


"Herrryyy.....lu kenapa cuma pake boxer doank?" pekik Dinda nyaring, membuat Rifal reflek menutup telinga.


"Mana tadi pantat lu terekspos dan gue liat lagi. Aduuh, gue siaal, mata gue ketiban kesialan yang hakiki" Dinda menggosok-gosok matanya


"Lah lu ngapain juga masuk tanpa Kom tanpa Lam?" kesal Herry mencibir


"Mana gue tau lu lagi mengelus tu biji bengkoang" kesal Dinda membuat Rifal terkekeh.


"Lu lagi kenapa malah ketawa?" Dinda memanyunkan bibirnya semakin kesal.


"Pfftt....Biji bengkoang, ngadi-ngadi lu Din" kekeh Rifal.


"Ni set*an satu, ntah kenapa lagi melakukan hal begitu di ruang tamu" Dinda masih tidak terima dengan apa yg sudah diliatnya.


"Masih juga dibahas ya Allah" kesal Herry menatap tajam Dinda.


"Gimana gak dibahas, pantat lu terekspos tanpa permisi dulu, ucapin apa kek, like a 'bentar ya biji bengkoang mau lewat'," celotehan Dinda sukses membuat Rifal terpingkal-pingkal. Sedangkan Herry memandang Rifal dan Dinda gregetan.

__ADS_1


"Aaaakhhh... udah lah, gak usah dibahas. Malu tauu" rengek Herry menatap Dinda dengan mata puppy eyes nya. "Lagian kalian ngapain sih kesini? Ada urusan apa?"


Pertanyaan Herry membuat Dinda dan Rifal tersadar akan tujuan mereka menemui Herry. Dengan bergegas Rifal mendekati Herry dan memulai pembicaraan serius.


"Gue sama Dinda kesini mau bahas masalah Zian" Ujar Rifal


"Ada apa? udah ketemu yang jebak Zian?" antusias Herry sambil memperbaiki duduknya


"Insya Allah, doakan saja. Insya Allah akan ada titik terang dengan semua masalah yang menimpa Zian dan Kirana" ucap Dinda.


"Ngomongin Kirana, sepertinya Zian harus tau kalau dia sebentar lagi jadi papa"


Perkataan Rifal membuat Dinda sama Herry menatap Rifal bersamaan. Apa yang dikatakan Rifal ada benarnya.


"Bagaimana kalau kita bertiga, susul ke Swiss?" ajak Dinda


...****************...


Zian sedang membantu Claire membersihkan halaman rumah mereka. Sambil kadang terdengar suara dari mulut Zian menanyakan nama-nama tanaman yang berada di halaman depan mereka itu.


Memang Claire adalah seorang ibu yang suka sekali merawat berbagai macam bunga dan juga tanaman hias. Zian juga antusias membantu mommynya itu.


"Mom, ini bunga apa ya?" tanya Zian ketika dia memegang sebuah bunga yang sungguh sangat cantik dimatanya. Dengan warna ungu kemerah muda yang menawan.


"Oh. itu Purple Saxifrange, itu bunga memang cantik, apa lagi sangat susah di dapatkan. Kebanyakan sih tumbuh di bukit dan pegunungan" Jelas Claire kepada Zian. Zian hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja tanda mengerti.


"Kenapa? kamu tertarik dengan bunga itu?" pandangan Claire yang sedari tadi fokus mengisi tanah kedalam pot beralih menatap anaknya.

__ADS_1


"Hah? gak mom, Zian cuma bertanya" ucap Zian sambil tersenyum.


Seperkian detik Claire terpesona melihat senyum Zian., Claire merasa senyum Zian sangatlah Indah di mata beningnya, apalagi sang anak sudah lama sekali tidak tersenyum seindah itu.


"Senyum mu indah sekali nak, mom menyukainya" ucap Claire membalas senyum Zian. Tapi seketika raut wajah Zian berubah jadi suram. Claire kebingungan melihat perubahan aura wajah Zian.


"Anak mom kenapa? kenapa jdi bersedih?" tanya Claire khawatir.


"Tidak apa-apa mom, iam okey. I just remember something" ucap Zian menenangkan Claire.


"Kamu mengingat dia?" Claire bangkit mendekati Zian yang sedang duduk di teras.


"Iya, I Miss her" ucap Zian singkat, tapi matanya berkaca-kaca. Claire dengan lembut memeluk Zian dan mengelus punggungnya.


"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?, kalau mau, mom akan ikut dengan mu" tawar Claire lalu melepas pelukan beralih memandang Zian lama menunggu jawaban Zian.


"Hmm....aku sedikit ragu mom. Pulang hanya akan membuat luka ku kembali menganga" ujar Zian sedih


"Hey, anak mommy kenapa benar-benar berubah jadi cengeng begini sih? Kamu lupa, kamu itu laki-laki kuat, yang selalu menghadapi masalah dengan lapang dada. Bahkan bisa menyelesaikan nya. Come on Beby, you can do it hum"


Ucapan Claire menohok jantung Zian, dia juga merasa begitu rapuh dan lemah sekarang. Ntah kenapa. Dia memang harus menghadapi permasalahan ini, apapun resikonya. Zian tersenyum, memeluk mommynya lagi seraya mengucapkan terimakasih karena telah selalu disisinya.


"Ayo mom kita pulang ke Indonesia!" ajak Zian akhirnya.


"Oke, kita ajak Daddy juga. Soalnya Daddy kan baru panen. Pasti mau ke Indonesia sekalian liburan" Claire senang sekali. Claire mengajak Zian masuk menemui suaminya itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2