
Terdengar canda tawa di sebuah rumah yang tidak bisa dibilang sederhana itu, ada empat manusia sedang duduk melingkar disebuah meja makan berbentuk bundar. Sesekali mereka bertukar cerita dan sesekali mereka akan terisak karena mendengar cerita lama.
"Apakah kalian menginap disini?" Tanya Claire kepada Zian
"Terserah Kirana saja mom, aku ikut kalau Kirana mengiyakan" Jawab Zian tersenyum
Mereka bertiga jadi memandang Kirana minta jawaban. Terutama Claire matanya penuh harap ketika menatap Kirana, membuat Kirana jadi kikuk.
Tidak ada cara lain, Kirana menyetujuinya "Oke deh aunty, uncle, kita berdua nginap disini" ucap Kirana masih kikuk.
"Hush....jangan panggil aunty, panggil mommy sama daddy" timpal Claire tersenyum.
Ia tau, pasti Kirana lah yang membuat anaknya berubah pikiran. Pasalnya ketika bertemu pertama kali, Zian sangat dingin bahkan menepis tangannya kasar. Tapi hari ini, Zian datang mencari mereka berdua.
Claire sangat senang dan bahagia. Dan ia benar benar sangat berterima kasih kepada Kirana, bahkan ucapan terima kasih saja tidak cukup.
"Kirana sayang, nanti mommy ingin berbicara berdua di teras depan, boleh?" tanyanya dengan ragu ragu.
"Eh..hmm...boleh mom" gugup Kirana. Claire pun tersenyum.
...*****...
Di teras rumah sudah duduk Claire dan Kirana beberapa menit yang lalu, tapi hanya ada keheningan melanda mereka berdua. Tidak ada yang berani memulai percakapan. Kirana pun tidak tau mau memulai dari mana, jadi ia hanya menunggu Claire yang memulai.
Setelah hampir 30 menit berdiam diri, Claire berdehem.
"Ehem..." spontans Kirana mengambil secangkir teh yang memang sudah tersedia di atas meja, lalu menyodorkannya kearah Claire.
"Ternyata kau sangat gercep sayang, kau anak yang baik, Sammy oh Zian sangat beruntung bertemu dengan mu" tutur Claire, matanya menerawang menatap bintang di langit. Cukup banyak bintang malam ini.
__ADS_1
Kirana tidak mengatakan apa apa, karena memang dia tidak tau harus berkata apa, tidak mungkin ia akan mengatakan bahwa kebersamaan mereka karena sebuah wasiat, dan mereka menikah pun sudah membuat kesepakatan. Jadi dia hanya mendengar apa yang akan Claire katakan.
"Kau tau Ran, aku adalah seorang ibu yang sangat buruk, karena pernikahan ku gagal, aku melampiaskan semua kemarahan ku pada Zian, aku sudah seperti orang gila yang tidak punya perasaan, aku memukulnya bahkan mencaci maki Zian, tapi dia tetap bertahan disisiku, hiks...hiks..." Kirana mendekat dan merangkul bahu Claire dan mengusapnya lembut.
Claire melanjutkannya lagi
"Dia selalu ada untuk ku, ketika aku pulang dalam keadaan mabuk, ia akan membawa ku kekamar, membuka sepatu ku dan menyelimutiku, padahal waktu itu Zian masih sangat kecil yang masih butuh kasih sayang dan juga perhatian, ini..hiks..S-sampai akhirnya aku mengatakan hal yang membuat dia meninggalkan ku. Bukankah aku orang tua yang sangat buruk Ran?" ucap Claire dengan suara bergetar dan linangan airmata.
Kirana menarik nafas berat " Kau saat itu masih terpukul mom, dan sekarang aku yakin kau sangat menyesal atas masa lalu mu, lupakan masa lalu mom, waktu yang terbuang sia sia dulu kita ganti sekarang, apalagi Zian juga sudah memaafkan mommy " Jawab Kirana tulus
"Zian memang sangat beruntung memiliki mu, jangan pernah kau tinggalkan Zian! Ran, mommy mohon, berjanjilah untuk selalu bersama dan mencintai Zian. Buat Zian bahagia Ran"
Deg..........
Kirana membeku, ia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia mengucapkan janji, tapi kalau mommy Zian tau pernikahan mereka hanya pura pura pasti Claire akan sangat sedih.
Dengan terpaksa ia pun mengangguk dan menjawab
Tapi Claire tidak menyadari bahwa satu kata yang tidak bisa Kirana katakan dan membuat janji, yaitu mencintai Zian. Karena hati dan cintanya Kirana sudah sepenuhnya untuk sahabat kesayangannya yaitu Indra Karina Teguh Jaya.
Airmata Zian mengalir tatkala ia mendengar semua pembicaraan Kirana dan mommynya. Ia menyadari kalau kirana tidak mengucapkan janji untuk selalu mencintai nya. Ia pun dengan gontai dan melamun meninggalkan teras menuju kamar tidur dan tidak sengaja malah menabrak Diego.
Brugh.....
"Astaga Zian, kau kenapa? kau melamun?" tanya Diego.
"Oh...aku minta maaf, aku sedang banyak pikiran, jadi kurang fokus" jawab Zian gelagapan.
"Kau butuh teman untuk bertukar pikiran? aku siap mendengarkannya, bukankah dulu waktu kecil aku selalu menjadi tempatmu bercerita" saran Diego, ia tau Zian sedang tidak baik baik saja sekarang.
__ADS_1
Zian mengangguk, Diego pun mengajak Zian keruangan kerjanya, dulu Zian juga selalu masuk kesitu untuk sekedar menangis dan menenangkan diri.
Ceklek....
"Oh,...Ruangan ini masih sama, hanya catnya saja yang berbeda" ucap Zian mengagumi ruangan yang dulu menjadi tempat ternyamannya.
"Aku tidak ingin mengubah apapun, karena semua ini masih punya kamu" jawab Diego sambil tersenyum.
"Jadi, kau mau menceritakan apa?" sambungnya lagi.
Zian hanya terdiam dan menarik nafasnya berat.
"Aku tidak tau dad, hanya saja aku mungkin tidak akan pernah bisa mendapatkan cintanya" sahut Zian sendu.
"Kirana?" Diego bingung sekarang.
"Bukankah kalian saling mencintai, karena itu kalian menikah.?" ucap Diego lagi semakin penasaran.
Zian pun bercerita dari awal sampai akhir, dari pertemuannya dengan Indra sampai surat wasiat Indra. Dan juga pernikahan kedua nya, juga tentang permintaan mommynya di teras tadi.
"Aku mohon dad, jangan pernah menceritakan apa apa pada mommy, berjanjilah dad, biarlah mommy tau bahwa aku selalu bahagia. Aku memang sangat bahagia ketika menikah dengan Kirana." Jelas Zian panjang lebar. Diego hanya mendengar seksama.
"Aku janji tidak akan mengatakan apa apa pada mommy mu, dan aku yakin Kirana akan jatuh cinta padamu, buatlah ia jatuh hati padamu!" Nasehat Diego.
Zian menggeleng "Aku tidak yakin dad, dia sangat mencintai Indra, apalagi Indra adalah sahabat Ran dari semenjak mereka kecil" Zian tau sedekat apa hubungan Indra dan Kirana.
"Oh...Come on boy, kau pasti bisa, makanya kau harus mencobanya. Yang semangat dong" Diego mengangkat kedua tangannya memberi semangat. Zian hanya tersenyum miris. Karena dia tidak yakin sama sekali.
Akan tetapi Zian merasa sangat terharu, karena ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga utuh yang sangat ia impikan kala ia kecil dulu.
__ADS_1
Ia tersenyum hangat bukan senyuman menyedihkan lagi. Ah.. ia tidak ingin ambil pusing masalah Kirana akan mencintainya atau tidak. Biarkan waktu yang akan menjawabnya.
...***...