The Crazy Testament

The Crazy Testament
Dimana?


__ADS_3

...Cinta layaknya air yang mengalir....


...Tidak bisa dipaksa dimana ia akan berlabuh....


...Akan terus mengalir menuju tempat tujuannya....


...Zian Avicena...


...****************...


Kirana terbangun sore hari. Dia mencoba bangun dengan pusing masih menerpa kepala. Kirana menuju dapur karena perutnya mulai berbunyi karena lapar. Tapi ia tepiskan rasa lapar yang melanda, karena pikirannya kembali ke sosok suami yang belum memberi kabar kepadanya sedari siang.


"Kepala ku masih pusing banget. Hmm... Zian, kok gak kasih kabar Sama sekali sih udah sore begini. Jadi khawatir banget" gumam Kirana bermonolog sendiri.


Ia bangkit dari baringan dan mencoba duduk.


"Astaghfirullah, kenapa aku tidak bertanya sama Dinda atau Herry. Aku telpon mereka saja" monolognya lagi.


Kirana meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia. duduk bersandar di dashboard ranjang king sizenya sambil mengscrool kontak mencari nama Dinda. Setelah menemukannya dia langsung menelpon Dinda.


...*********...


Sementara itu di sebuah cafe. Dinda, Herry dan Rifal sedang nongkrong. Mereka sedang asik membahas masalah pekerjaan. Tapi tetap saja diselingi aksi debat dan adu mulut Herry dan Dinda. Mereka benar-benar seperti Tom and Jerry dunia nyata.


"Her... Itu pesanan mobil pak Jarwo kenapa harus diberi diskon sebesar itu. Bisa rugi perusahaan kita" cerocos Dinda sambil menyeruput jus Alpukat miliknya.


"Gak rugi loh, diskonnya itu udah sesuai harga. Lu ini isi kepala cuan mulu. Bisa gak, gak melulu mikirin untung" sanggah Herry


"Loh... Kita ini memang harus mikirin untung dan rugi dong dalam berbisnis. Kalau gak, gulung tikar perusahaan kita. Gimana sih" ujar Dinda gak mau kalah


"Tapi gak melulu untungnya kan yang dipikirin. Mengambil hati costumer juga perlu tau" Herry gak mau kalah, ia sekarang menatap tajam ke arah Dinda


Rifal hanya menatap kedua anak manusia didepannya dengan menyeruput jus jeruk di atas meja tanpa memegangnya. Ia terus menyeruput dengan mata bergantian menatap Herry dan Dinda yang masih berdebat masalah diskon mendiskon. Ada rasa iri menyelimuti hati, melihat betapa dekatnya Herry dan Dinda.


"Kalian berdua kalau udah berdua kenapa harus selalu berdebat?" tanya Rifal menengahi dua anak manusia yang belum berhenti berdebat.

__ADS_1


"Herry tuh selalu saja gak mau ngalah" adu Dinda memanyunkan mulutnya kepada Rifal.


Herry dan Rifal terdiam. Bagi mereka berdua sikap Dinda sekarang sangatlah menggemaskan. Herry sampai harus menelan salivanya susah payah. Rifal pun sama, ia menyeruput jus nya dengan cepat hingga tersedak.


"Uhuk... uhuk... " Rifal memukuli dadanya karena tersedak jus.


Herry dan Dinda yang melihat Rifal tersedak pun dengan sigap membantu. Herry memberi air putih sedangkan Dinda bangkit dari kursinya dan mengelus pundak dan punggung Rifal. Herry termangu melihat sikap Dinda yang sangat lembut kepada Rifal. Hatinya menciut, ada rasa tidak rela disana.


Rifal meraih air putih yang disodorkan Herry kepadanya dan meminumnya tandas tak bersisa.


"Thanks Her, Din. Haduuh sakit banget kerongkongan gue. uhuk..." ucapnya terbatuk.


"Lu hati-hati donk Rif. Kok bisa tersedak sih, minum kok buru-buru, kayak orang gak pernah minum aja" heran Dinda memandang Rifal dengan khawatir.


Tatapan intens Dinda kepada Rifal membuat Rifal salting sendiri. Tapi tidak dengan Herry yang merasa panas di sekitarnya. Dalam situasi seperti itu, gawai Dinda berbunyi menampilkan lagu Kesayanganku dari Al-Ghazali.


Drrrtt..... Drrtt....


Aku sepi... sepi... sepi jika tak ada kamu.


Dengarlah kesayangan ku jangan tinggalkan aku.


tak mampu jika ku tanpamu.


Dengarlah kesayangan ku hidup mati ku untukmu.


ku mohon pertahankan aku.


Deringan ponsel Dinda terus mengalun merdu. Semua yang berada disitu yaitu Herry dan Rifal tertegun. Kok musik Dinda sudah berubah, terakhir lagu jedag jedug milik Blackpink. Sekarang kok malah jadi musik romance gini.


Herry hanya menahan bibirnya tersenyum. Rifal sempat melirik ke arah Herry, raut wajahnya langsung sendu. Lain dengan Dinda yang sibuk merogoh saku untuk meraih ponselnya. Setelah melihat siapa yang menelpon, dia pun mengangkat telpon yang tak lain dari Kirana.


"Assalamu'alaikum Ran, ada apa hum?" jawabnya


"Wa'alaikum salam Din, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu"

__ADS_1


"Mau tanya apa? Kalau tanya aku masih sayang sama kamu, sebagai sahabat aku tetap sayang kok sama kamu" ucap Dinda tanpa rem cakram


"Astaghfirullah... bukan waktu bercanda sekarang sayang, aku lagi bingung ni, sedari tadi ponsel Zian gak bisa dihubungi. Apa dia bersama kamu atau Herry?" Tanya Kirana tanpa jeda


Bagaikan disambar petir raut wajah Dinda juga berubah aneh. Dia menatap Herry dan juga Rifal bergantian. membuat keduanya mengernyitkan dahi bingung. Bahkan Herry sudah memberi kode dengan bertanya 'Ada apa?' melalui gerakan bibirnya.


"Ran... Hmmm.... Gini, Zian sedari pagi sudah pulang kerumah, karena katanya kurang enak badan. Jadi setelah meeting dengan anak perusahaan TJ corp, dia langsung pulang" jelas Dinda pelan.


"Kamu gak lagi bercanda kan Din, ini serius loh aku nanya. Jangan di becandain lah" Kirana tidak percaya dengan kata-kata Dinda. Tau lah, Dinda usilnya gimana. Jadi Kirana cukup sulit untuk mempercayai kata-kata Dinda.


"Ya Allah Ran, aku gak bercanda kali ini. Serius ini. Kalau kamu gak percaya, disini ada Herry dan Rifal. Kamu boleh nanya mereka" jelas Dinda bersungut-sungut.


"Oke-oke... Aku percaya sama kamu. Udah ya, aku mau siap-siap dulu, sedari tadi aku tidur badan kurang fit" ujar Kirana.


"Eh Ran, kamu gak pa-pa kan? Kamu sehat?" tanya Dinda dengan mimik wajah khawatir.


"Its okey. iam fine.. Ya udah, aku mau kekamar mandi dulu. Bye. Assalamu'alaikum"


Setelah mendapat salam penutup dari Dinda, Kirana pun bangkit menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi Kirana kembali memuntahkan isi perutnya walau ia tak mengeluarkan muntahan apa-apa. Dia tidak memperdulikan tubuhnya sekarang. Karena pikiran dan hatinya masih memikirkan suami yang ntah dimana keberadaan nya sekarang.


...*************...


"Gimana? Lu berhasil dapat foto mereka sesuai yang gue suruh?" Suara seseorang dari mobil di area parkiran sebuah taman di sekitar kota itu.


"Tenang bos... Bereees... Gue udah dapat fotonya, kan cuma fotonya kan?" terdengar jawaban seorang laki-laki lain didalam mobil tersebut.


"Yup... Gue cuma butuh fotonya. Terus tu orang masih dalam pengaruh bius kan? Karena gue punya rencana lain" ucap laki-laki itu kembali sambil menatap sesosok laki-laki yang berada di jok belakang dalam keadaan pingsan


"Hah... Rencana apa bos?" tanya seseorang yang duduk dibelakang bersama seseorang yang terkulai tak berdaya itu.


"Udah, kalian ikut aja permainan gue. Yang penting bayaran kan gak kurang"


"Oke/Oke bos" jawaban mantap kedua orang itu mengakhiri percakapan didalam mobil. Mobil pun meninggalkan parkiran dengan santai.


...********...

__ADS_1


__ADS_2