
...Sial, akhir-akhir ini tidur malam ku tidak pernah nyenyak. Bahkan bisa begadang sampe pagi. Apa karena aku tidak melihat wajah mu lagi? Terlalu candu aku akan dirimu. Ingin kucoba tanpa ketergantungan padamu layaknya obat terlarang. Tapi tetap saja bayang-bayangmu menghantui pikiranku....
...Zian Avicena...
...****************...
"Lama banget sih tu cewe, gak muncul-muncul dari tadi" kesal Indra menghentakkan kaki di lantai
"Kalo 5 menit lagi gak muncul, gue tinggal aja" dengusnya lagi semakin kesal
Indra sedang menunggu seseorang di parkiran sebuah Mall pusat di kota mereka. Dengan wajah bosan dan malas dia menunggu. Sesekali keluar kata-kata umpatan karena terlalu lama menunggu.
15 menit kemudian seseorang yang ditunggu muncul dengan wajah panik dan nafas tersengal-sengal. Dia langsung menarik tangan Indra untuk dibawa masuk kedalam mobil, Indra menolak dengan kasar tangan wanita tersebut. Tapi dengan panik wanita itu berteriak.
"Masuk cowo gila, ada yang ngikutin gue" Satu ucapan itu membuat Indra ikutan panik dan langsung bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Ada apa sih? siapa yang ikutin lu?" panik Indra
"Gue juga kagak tau, tapi gue rasa ada yang ngikutin gue" ucap wanita yang menarik Indra tadi dengan nafas masih tersengal-sengal, dia mengatur nafas dan melihat Indra.
"Kenapa lu mau ketemu gue? bikin gue gak nyaman aja" sambung wanita yang berbaju merah muda dan berdandan menor itu.
"Gue mau ngingetin lu untuk tutup mulut apapun yang terjadi" Indra mengingatkan wanita muda yang bernama Fatia itu
"Begini ceritanya. Gue udah bilang sama elu kan ya, kita gak usah ketemu-ketemu lagi. Eh, malah elu yang datang ke gue" Gerutu Fatia memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Karena gue gak yakin sama congor lu tu, makanya gue selalu wanti-wanti lu Fatimah" kesal Indra mendelik
"Nama gue itu Fatia, Fatia. Sembarangan mulut lu berbicara" pekik Fatia.
"Cih... Dah lah, kita pulang" Indra mendecih menghidupkan mobil dan pergi bersama Fatia.
Dari kejauhan Dinda, Herry dan Rifal memantau pergerakan dari dua sejoli yang sudah berlalu tersebut dengan senyuman. Dinda menatap Herry dan Rifal penuh arti.
...****************...
Seorang wanita muda dan ibunya sedang memilih dan memilah buah-buahan di sebuah toko buah pinggir jalan. Tanpa sengaja matanya melihat dua sosok yang sedang berdiri membeli sesuatu di sebuah toko Aksesoris. Ntah membeli apa.
Reflek wanita muda itu mengelus perutnya, raut wajahnya langsung sedih. Si ibu yang bersamanya menoleh menatapnya bingung.
"Ada apa Lun?" tanya sang ibu dengan wajah khawatir
"Ya udah, habis dari sini kita langsung pulang aja" ujar ibu nya penuh kasih sayang.
"Oh gak pa-pa bu, Luna nemenin ibu sampai selesai" ucap Luna dibarengin senyuman.
Setelah memilih buah yang di inginkan, Luna dan Leni sang ibu tercinta melangkah pulang. Di kejauhan Indra menatap Luna dengan penasaran. Tapi Luna balik menatap penuh kebencian.
...****************...
"Ran, kita keluar jalan-jalan yuk, bosen" Dinda tiba-tiba datang menghambur
__ADS_1
Kirana kaget mendapat pelukan dari Dinda yang secara tiba-tiba, apalagi ia yang sedang melamun bermain dengan pikirannya, yang ntah dimana.
"Lu kenapa muncul tiba-tiba gini sih?" kaget Kirana menoyor kepala Dinda.
"Astaghfirullah, tidak boleh menoyor kepala sahabat tercinta mu ini" ujar Dinda seakan berpuisi dengan mata berkaca-kaca.
"Berdrama, berdrama. Gak sah berdrama quen depan gue Din" ucap Kirana memutar bola matanya malas.
"Hehe... Sorry Ran, yuk lah keluar! " Greget Dinda kesal sambil memilin-milin sweeter punya Kirana
"Gue gak mood Din, lemes badan gue" ucapan Kirana membuat Dinda berhenti memainkan sweeter Kirana.
"Ya udah deh, kamu istirahat aja!" ucap Dinda ingin berlalu pergi, langkah kakinya terhenti tiba-tiba, ia berbalik dan mengusap perut Kirana yang sudah sedikit membuncit sambil tersenyum ia berkata
"Sehat-sehat ya keponakan aunt yang tersayang, Jaga bunda mu, bye" ucapnya mengangkat kepala dan seketika menatap Kirana yang sudah meneteskan airmata.
Kirana memeluk Dinda dengan erat, ingin dia tumpahkan semua beban yang terasa berat ditanggung tubuh nya yang mulai kelihatan mengurus. Tapi, dia menahan semuanya agar terlihat baik-baik aja.
"Kamu butuh refreshing Ran, biar kamu tidak berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini" Dinda menatap mata Kirana yang mulai sayu.
"Aku cuma butuh istirahat Din, kepala ku penuh rasanya, ingin sejenak melupakan apa yang terjadi, tapi kejadian itu selalu menghantui semua pikiran ku" ujar Kirana sendu
"Hmm.... Kamu benar-benar gak mau percaya sama Zian suami mu, Ran?" tanya Dinda sama Kirana.
"Pleasee Din, tolong jangan sebut namanya, aku gak mau mendengar namanya sekalipun untuk saat ini" ucapan Kirana membuat Dinda terdiam terpaku, Dinda gak mau membuat suasana hati Kirana memburuk, jadi setelah menemani Kirana, Dinda pun pamit pulang.
__ADS_1
...****************...