The Crazy Testament

The Crazy Testament
Rumah Kita


__ADS_3

Zian, Chiko dan Teguh masih terus ngobrol dan bercanda ria tatkala ketiga wanita dirumah itu ikut menghampiri mereka bertiga.


"sepertinya sedang asik sekali kalian bertiga, ngobrolin apa aja?" tanya Karina ketika sudah duduk d samping Teguh


"Gak ngobrolin yang penting kok. Cuma mendekatkan diri aja sama jagoan kita ini" jawab Teguh mengalihkan pandangan ke Zian.


"Oh... Mendekatkan diri macam mana? " sekarang Rita yang bertanya, ia juga penasaran


Zian hanya tersenyum ke arah Rita dan Karina. Kirana juga ikut penasaran, ia memegang tangan suami tercinta meminta jawaban.


"Hmm itu, papa minta agar Zian bisa membuka hati lagi. Ya sekarang lagi dicoba sama Zian. Ya kan Zi?" ucap Teguh


"Maksud papa, Zian mau memaafkan mama? Benerkah Zi?"


Karina senang bukan main, matanya memancarkan binar binar bahagia, ketika mendengar Zian mau memaafkan dan membuka hati menerima nya dan juga suami, kembali menjadi orang tua angkat Zian.


Zian mengangguk dan berkata "Iya"


Sangking senangnya Karina, ia tidak sadar menubruk dan memeluk Zian erat. Layaknya sepasang anak muda yang sedang dimabuk kasmaran. Kirana yang duduk disamping Zian saja ikut terlonjak kaget.


"Terima kasih Zi, Terima kasih nak. Kamu mau menerima mama dan papa kembali" Zian melepas pelukan Karina


"Tapi aku belum bisa sepenuhnya m-ma" jawab Zian terbata. Bibirnya masih kelu sekedar memanggil Karina 'Mama'.


"Kamu pelan pelan Zi, mereka berdua pasti sabar menunggu" Chiko membuka suara.


"Ya nak, kamu pelan pelan aja, mama akan sabar menunggu kamu kembali dan bersikap seperti biasanya pada mama" timpal Karina


Zian hanya mampu tersenyum tipis. Dia sebenarnya hanya khawatir Indra tidak menerima kedekatan dia dan orang tua Indra. Bagaimana pun Zian adalah orang luar bagi mereka. Zian tidak ingin Indra semakin membenci dirinya.


Perubahan raut wajah Zian ditangkap oleh Kirana dan Chiko. Chiko pun bertanya pada Zian.


"Zi, apa yang sedang kamu pikirkan?" pertanyaan Chiko mengundang yang lain menatap Zian


"Hah? Oh... Tidak apa apa Yah" elak Zian.


"Ada apa hum?" tanya Kirana membuat Zian menatap Kirana tepat di manik bening Kirana


"Gak apa apa, hanya sedang berpikir. Aku.. Aku... ingin mengajak mu kembali pulang kerumah Ran.Rumah Kita"


Zian terpaksa mengalihkan pembicaraan. Tapi memang dia berniat mengajak Kirana untuk tinggal dirumah yang telah ia siapkan untuk ia dan Kirana tempati berdua beserta anak anaknya kelak.


"Rumah kita? Rumah yang setahun kemarin kita tempati? bukannya sudah di beli Rifal?" bingung Kirana.


Rumah yang dulu mereka tempati memang sudah dibeli Rifal setelah Rifal memutuskan menetap di Indonesia. Itupun karena Kirana dan Zian diliputi masalah rencana perceraian. Dan Kirana tidak mengetahui bahwa setahun hidup bersama, diam diam Zian membangun rumah di pinggiran kota.

__ADS_1


Dan rumah itu adalah rumah impian yang Kirana inginkan. Walau pun Kirana tidak mengatakan kepada Zian. Zian tau bahwa Kirana menginginkan rumah yang di kelilingi pepohonan hijau, seperti rumah milik orang tuanya.


"Iya, Rumah Kita. Rumah yang aku bangun selama bersama mu. Rumah impian yang kamu inginkan. Rumah dimana kita membangun keluarga bahagia bersama dengan anak anak kita nanti. Insya Allah"


Penuturan Zian membuat mata Kirana berkaca kaca. Dia sangat terharu sekaligus bahagia mendengar setiap untaian kata dari Zian suami tercinta. Bukan hanya Kirana, semua yang berada disitu juga ikut terharu bahkan bahagia.


"Ya Allah,.. Ayah gak menyangka kamu membangun rumah baru untuk Ran, Zi. Dimana letaknya? Apa kami bisa mengunjungi nya?" Chiko ikut bahagia.


"Iya Zi, papa sama mama juga ingin melihat rumah kamu dan Ran" Teguh menimpali.


"Bagaimana kalau kita mengadakan acara syukuran untuk menempati rumah baru mu Zi?" saran Rita


Zian terdiam, dia berpikir sejenak.


"Boleh bu, kayaknya memang harus di adakan syukuran agar semua nya berkah. Dan kehidupan rumah tangga aku dan Ran selalu bahagia. Iya kan sayang" ucap Zian tersenyum


"Aku setuju aja. Ikut kamu by" membalas senyuman Zian


"Ya udah, kita siapin aja dulu keperluan syukuran. Kamu ikut bantu aku kan Na?"


Rita memandang Karina meminta jawaban, ya jelas lah Karina mengiyakan. Secara Karina sangat ingin dekat kembali dengan Zian. Apapun akan ia lakukan.


"Of course... Pasti donk, kita mulai dari mana?"


"Ayo ikut aku. Aku kok jadi antusias banget ini"


Rita senang sekali. Ia pun menarik tangan Karina masuk kedalam. Melihat tingkah dua wanita paruh baya itu. Chiko, Teguh, dan Kirana menggelengkan kepala mereka. Sedangkan Zian, dia tersenyum tipis.


...*******...


Indra mondar mandir didalam kamar dengan sesekali mengintip keluar melalui jendela kamar nya. Menunggu kedua orang tuanya pulang. Tarikan nafas yang penuh emosi terus saja dia keluarkan. Indra tidak habis pikir dengan sikap kedua orang tuanya yang tiba tiba saja menempel kepada Zian.


Arghhhhh.....


Teriakannya menggema di setiap sudut kamar. Indra menggeram frustasi sambil menarik rambut pendeknya. Dan meraih gawai yang tergeletak di nakas, menekan beberapa nomor Indra menelpon seseorang. Beberapa kali pun orang yang dituju tidak mengangkat telpon dari Indra. Indra semakin frustasi, ia melempar ponsel ke sembarang arah.


"Gilaaa.... Gak ada satu pun yang bisa di ajak ngobrol. Pada kemana sih manusia?" geramnya.


Ia pun berjalan menuju ranjang menghempas badannya. Menarik selimut.


"Mending tidur biar bisa mimpiin Ran" ucapnya berhalu ria.


...********...


Disisi lain.

__ADS_1


Rifal masuk ke ruangan Herry dengan sendu, semangatnya patah ketika mendengar para karyawan menjodoh jodohkan Herry dan Dinda. Bibir nya manyun ketika memasuki ruangan Herry. Membuat Herry kebingungan.


"Lu kenapa bro? Kekeke...Kayak bocah ingusan lagi berantem sama temennya aja" kekeh Herry lucu melihat Rifal bertingkah layaknya anak kecil


"Lu diem aja mah, lagi mumet gue ni" jawab Rifal ketus


Herry mengernyitkan dahinya, tidak pernah Rifal bersikap ketus terhadapnya. Herry hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mumet kenapa lu bro? Kasih tau gue sini! Mungkin gue bisa bantu lu"


Herry dengan baik menawarkan bantuan. Maklum rasa persahabatan Herry memang tinggi, apapun akan ia lakukan demi kedua sahabatnya.


"No problem bro, iam fine. Insya Allah" kali ini Rifal sudah bisa tersenyum.


Rfial sadar atas sikap dia kepada Herry tadi, maka secepatnya ia mengubah aura wajahnya yang dari ketua menjadi sesantai mungkin.


"Lu beneran gak pa pa bro?" tanya Herry kurang yakin


"its okey bro. Sorry ya, udah bikin lu khawatir" senyum Rifal menepuk bahu Herry


"Eh Dinda mana?"


Rifal mengalihkan pembicaraan, pura pura menanyakan Dinda. Padahal dia sendiri sudah tau bahwa Dinda baru keluar dari ruangan Herry.


"Tadi dia disini, sekarang sih kurang tau. Mungkin di ruangannya" ujar Herry.


"Oh gitu. Okelah gue mau nyamperin Dinda dulu"


Rifal bangkit dengan wajah senang dan bersemangat. Membuat Herry bingung, dari wajah yang di tekuk ketika membicarakan Dinda, Rifal jadi bersemangat layaknya pasukan perang.


"Kok lu jadi semangat banget mau ketemu Dinda?" tanya Herry selidik


"Hah? Eh masak? gue biasa aja tuh, biasanya juga gini kan kalau mau ketemu Dinda" sanggah Rifal


"Beda loh"


Herry bangkit dan mendekati Rifal,. memandangi wajah Rifal layaknya detektor.


"Lu apa apaan sih, geli gue" Rifal mendorong badan Herry yang mendekati dirinya.


"Hahahaha.... Kenapa lu jadi cemas gini, ya udah sana temuin Dinda!"


Herry curiga dengan sikap Rifal terhadap Dinda. Hanya saja dia tidak ingin menebak. Tapi ada rasa khawatir di hatinya, kalau sampai Rifal menyukai Dinda. Herry akan mundur, dia tidak ingin bersaing dengan sahabat sendiri


...********...

__ADS_1


__ADS_2