The Crazy Testament

The Crazy Testament
Pohon Apel


__ADS_3

...Kesepian melanda hatiku. Setiap hari hanya merindukan dirimu. Aku tau ini sangat lah menyedihkan....


...Saat ini jiwa ku seakan terpisah dari raganya. Tiada yang bisa membuatku bersemangat dalam menjalani hari. Hati dan pikiran ku selalu memikirkan mu....


...Karena Bahagia ku adanya padamu...


...(Zian Avicena)...


...****************...


Zian menyusuri di setiap kota tempat kelahiran nya. Menikmati suasana sore dengan angin sepoi-sepoi. Musim dingin sebentar lagi menyapa kota Grindelwald dan seluruh negara Swiss.


Dia berhenti di Danau dimana dulu ia dan istri tercinta Kirana pernah menginap dan menghabiskan waktu dengan beradu argumen. Ah, dia rindu masa-masa itu. Tak terasa sebening kristal membasahi pipinya. Ia membiarkan saja menikmati semilir angin yang menghembus mengenai wajah tampannya yang sedikit menirus.


Langkah kakinya kembali terangkat dan berhenti tepat di kebun daddynya, ia memandang jauh ke deretan pohon-pohon apel yang tumbuh rimbun dengan buah yang mulai matang berwarna kemerahan.


Zian memetik satu buah dan mengelap di mantel berwarna beigenya. Ia menatap lamat kepada buah apel merah ranum itu. Pikirannya berselancar ketika ia dan Kirana pernah bermain di kebun apel ini.


(Flashback)


"Yang di pohon kecil ini lebih manis daripada pohon besar itu" tunjuk Kirana dengan semangat, tatkala ia sudah mencicipi satu buah apel di pohon mungil yang berada didepannya.


"Mana mungkin... Gue aja baru makan di pohon itu, dan itu lebih manis daripada yang lu makan" Zian tak percaya kepada Kirana.


"Lidah lu tu mati rasa, gak tau mana yang manis mana yang gak" Kirana nyolot sambil melotot.


"What? Hey, lidah gue masih normal ya pengecapannya, gak kayak lidah lu yang pahit kek pare" ucap Zian mencibir Kirana.


Mereka berdua semakin beradu argumen saling menyalahkan dan saling membela diri. Sampai kedua orang tua Zian menghampiri menengahi perdebatan mereka berdua hanya karena rasa dari buah Apel.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Diego kaget melihat anak dan menantunya saling mencibir

__ADS_1


"Hufft... Cewe gk pernah mau ngalah, egois" manyun Zian berlalu pergi


"Huuuuu..... Mank dasarnya lu tuh yang batu dibilangin" cibir Kirana lagi juga mengikuti punggung Zian.


^^^(Flashback End)^^^


...****************...


Di sebuah rumah sederhana milik Chiko Wardhana yang tak lain ayah dari Kirana Richita. Kirana sedang duduk di teras rumah dengan mengelus perutnya yang masih rata. Ia sedang menikmati bintang-bintang malam. Ntah kenapa tiba-tiba ia ingin sekali memakan rujak dan mangga muda yang dipetik langsung dari pohonnya.


"Ya Allah, kenapa rasanya ingin sekali makan rujak dan mangga muda langsung dari pohonnya lagi" ujar sedih Kirana.


Kirana menepis keinginan nya itu, karena ia tau takkan ada yang bisa memenuhi keinginan anehnya. Seketika rasa rindu kepada Zian menyeruak sesak didalam dadanya.


"Aku membencimu tapi aku juga mencintaimu, dan sekarang aku merinduimu" lirih Kirana meneteskan airmata.


Kirana beranjak menuju ranjang, menepuk sedikit ranjang empuknya terus merebahkan badannya yang lelah.


...****************...


Dari tadi terdengar helaan nafas dari seorang wanita yang duduk bersila layaknya Depcolektor penagih hutang di kursi sebuah Restoran. Bukan hanya wanita yang gelisah dalam duduknya itu menghela nafas berat, tapi dua laki-laki yang berada disamping si wanita juga ikut gelisah.


"Udah satu minggu kita cari petunjuk, gak ada satupun petunjuk yang kita dapatkan" ucap lirih salah satu pemuda yang menghela nafas tadi.


"Apa yang harus kita lakukan?" dengan mata berkaca-kaca Dinda memandang satu persatu dua pemuda tersebut


"Lu bisa gak, gak usah pasang muka plus mata begitu?, gak iba soalnya gue" cerocos Herry buat Dinda mendengus kesal.


"Fal, lu gak da kerjaan kan?" tanya Dinda serius. dengan wajah polos Rifal mengangguk.


"Nah, mending lu kurung dulu monyet perusuh satu ni?" sambung Dinda sambil nyengir

__ADS_1


"Yaaak...Kurang ajar lu Din, lu bilang gue monyet" teriak Herry kesal


"Hadeeh.... kalian berdua bisa gak, dalam situasi genting begini gak adu mulut?, kita butuh solusi, jangan bikin mumet lagi bisa?" tegas Rifal memandang tajam ke arah Dinda dan Herry.


"Lu tumben Fal waras? biasanya juga ikutan gila kek sohib lu tuh" ledek Dinda, Rifal hanya menatap gondok kepada Dinda yang dibalas cengiran manis darinya.


"Pleasee kalian berdua, kita bertiga ngumpul disini mau cari solusi loh. Kenapa malah beradu mulut dengan hal yang gak penting" ujar Rifal memandangi kedua sahabatnya satu persatu.


"Hmm... oke, kita serius sekarang! Gak da lagi ledek meledek" Herry menegakkan tubuhnya


"Kita mulai darimana dulu?" tanya Dinda juga mulai serius, Herry pun memberi solusi.


"Gini, gue- "


"Astagaa... " pekik Dinda membuat kedua pemuda itu beralih menatap Dinda bingung


"Ada apa sih Din?" cerocos Herry dengan wajah panik


"Itu bukan nya cewe yang jebak Zian di hotel itu?" tunjuk Dinda dengan wajah tegang


"Mana, mana?" ucap Rifal dan Herry serentak, mereka berdua juga mengedar pandangan mencari sosok yang tunjuk Dinda.


"Got it," ucap Herry seperti menemukan harta karun.


"Ya udah ayok kita ikutin tu orang" Rifal bangkit dari kursi Restoran yang mereka tempati dari tadi.


"Tungguin kami berdua cunguk" Ucap Dinda mengikuti Rifal dan disusul Herry dibelakang.


Kemudian mereka bertiga menyusul wanita yang telah membuat hidup Zian dan Kirana jadi renggang. Akankah mereka bertiga berhasil menemukan petunjuk untuk menyatukan kembali sahabat mereka yang telah terpisah.


...****************...

__ADS_1


...Terlalu lama untuk up. semoga kalian gak bosen bacanya😂...


__ADS_2