The Crazy Testament

The Crazy Testament
love or Hate (Mommy)


__ADS_3

Tertidur dari sore sampe pagi, membuat Kirana merasa lapar, ia terjaga sambil mengucek ngucek matanya. Dan beberapa kali menguap.


Setelah kesadarannya kembali. Ia merasa aneh, ada seseorang disampingnya, setelah sadar hampir saja ia berteriak ketika melihat sosok disampingnya yang tak lain adalah Zian. Tapi mengingat sore kemarin Zian tidak sedang baik baik saja, jadi ia urungkan untuk mengomel.


Karena mereka sudah sepakat untuk tidak tidur bersama, jadi Zian tidur disofa, Kirana diranjang.


Kirana bangkit menuju kulkas dan mengambil jus kemasan dan juga dua buah telur, ia membuka laci dan menemukan sebungkus besar roti. Dengan bahan yang ada, ia memanggang roti dan meng orak arik telur untuk sekedar mengganjal perutnya yang lapar.


Sedang asik bergelung dalam selimut, Zian mencium aroma telur yang membuat perutnya ikut berbunyi. Ia pun bangun dan mendekati Kirana.


Melihat Kirana yang sedang sibuk didapur, ia memberanikan diri mendekati Kirana dan duduk dimeja makan. Sekarang ia sedikit merasa canggung karena Kirana sudah melihat sisi rapuhnya kemarin.


Kirana menyadari bahwa Zian sudah bangun, ia mendengar suara gasrak gusruk kegiatan Zian. Ketika Zian sudah mendekati meja makan, ia yang memang khawatir dengan keadaan Zian pun bertanya.


"Kau sudah baikan?" Zian tersentak kaget mendengar pertanyaan Kirana, pasalnya Kirana bahkan tidak menoleh padanya, bagaimana Kirana tau dia datang.


"Ah...em...huft..u-udah.." gugupnya, jantungnya langsung berdebar tak karuan, persis seperti anak muda yang sedang kasmaran.


"Hmm....ya sudah, kita sarapan dulu, aku butuh penjelasan dari mu" ujarnya membuat Zian mendongak menatap Kirana. Kirana tersenyum kearahnya.


Padahal Zian berencana takkan ingin menceritakan apapun pada Kirana. Tapi karena mendapat senyuman manis dipagi hari, membuat Zian otomatis mengangguk patuh.


"Oke" ucapnya singkat.


Kirana masih tersenyum mendapati Zian tidak membantah sedikitpun, ia menyodorkan satu piring sarapan untuk Zian, dan satu piring lagi untuknya. Ia pun menuangkan jus kedalam dua gelas.


Mereka berdua sarapan dengan tenang, hanya dentingan peralatan makan yang terdengar.

__ADS_1


...******...


Selesai makan, Kirana menatap lamat kearah Zian, menuntut cerita darinya, mengerti dipandang begitu, Zian menghela nafas panjang.


"Oke gue bakalan cerita" ada jeda di ucapannya, Kirana mengerti, mungkin Zian butuh waktu.


"Kalau kau tak bisa menceritakannya, gak apa apa, lain waktu saja" timpalnya menatap lembut Zian.


Zian menggelengkan kepalanya dan berkata


"Aku siap, aku hanya butuh jeda sedikit...hehe" kekeh nya, Kirana menggelengkan kepala dan menatapnya datar.


"Upss....oke oke...hehe" Zian kikuk dipandang intens oleh Kirana, Kirana mendengus kesal ia sudah tak sabar. Ia mendorong kursinya ingin bangkit, Zian dengan cepat berucap.


"Yang kemarin itu ibu kandung ku" perkataan Zian membuat Kirana tersentak kaget dan duduk kembali mencari kebohongan dimata biru Zian, tapi mata Zian berkata jujur.


"Aku sangat membencinya, dulu aku mom dan dad keluarga kecil yang sangat bahagia, setidaknya sampai usia ku 8 tahun." Ia menarik nafas lagi dan dengan suara bergetar ia melanjutkan lagi.


"Setelah mommy dan daddy bercerai, daddy pulang kekampung halamannya di Malaysia. Semenjak itu mom berubah, ia jadi membenci ku karena aku adalah anak dari lelaki yang telah menyakitinya. Tapi beruntung ia hanya mengabaikan dan menelantarkan ku."


Hening sejenak, Kirana yang mendengar itu matanya sudah mulai berkaca kaca. Zian menatapnya dan tersenyum tipis.


"Lalu" tanya Kirana semakin penasaran,


"Dua tahun kemudian, kami mendengar kabar bahwa daddy menikah lagi, jadi mommy semakin membenci ku, dan dia melampiaskan kebenciannya dengan memukul ku, mommy bahkan mulai mabuk mabukan, dan setiap dia melihat ku dia akan selalu menghajarku. Dan lucunya aku tidak pernah membenci mommy, bahkan di usia yang masih muda aku bekerja dikebun milik pak Diego kemarin. Kebutuhan mommy dan aku, aku yang mencukupinya. Tapi....." Zian berhenti sejenak, airmatanya sudah menggenang dipelupuk mata birunya.


Kirana menarik tangan Zian dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Kau bisa menghentikannya kalau tak sanggup" ucap Kirana dengan isak tangis,


"Aku akan melanjutkannya," tegas Zian.


Setelah menarik nafas dan menghapus buliran airmatanya, ia bercerita lagi.


"Aku sudah bilang, walau aku dipukul babak belur oleh mommy, aku tak pernah membencinya. Hingga suatu malam, mommy pulang dalam keadaan mabuk, aku yang lapar ingin makan tapi aku tak sengaja memecahkan piring kesayangannya, dia marah dan memukul ku dan mencaci maki aku, sampai...Hmm...Sampai ia mengatakan bahwa dia menyesal melahirkan anak pembawa sial seperti ku...dan dia...Tidak menginginkan ku, dia ingin aku mati saja, dan tidak berada dihadapannya...huft.. Karena itulah, aku meninggalkan mommy dan berangkat ke Malaysia berbekal alamat yang ditinggalkan daddy."


Airmata kembali jatuh di pipi Zian, ia kini terisak, Kirana bangun mendekati Zian dan memeluknya. Zian melingkarkan lengannya kepinggang ramping Kirana dan menenggelamkan wajahnya keperut Kirana. Kirana hanya bisa mengusap lembut kepala Zian.


"Maafkan aku, telah membuat mu menceritakan rasa sakit mu" ucap Kirana ikut terisak, ntah kenapa ketika ia melihat Zian rapuh dan menangis begini ia juga ikut merasa sakit.


"Apakah aku salah telah membencinya? sejujurnya aku sangat merindukan pelukannya" jujur Zian masih terisak. Bahunya bergetar karena menangis.


"Aku tidak tau harus berkata apa, tapi apakah kau tidak bisa memaafkan mommy dan berdamai dengannya?" tanya Kirana ragu ragu.


"Aku ingin....Tapi, ketika aku ingin memulai, rasa benci menahanku" jawabnya, Kirana melepas pelukannya dan memegang bahu Zian.


"Ayo kita coba, aku akan membantu mu untuk lepas dari rasa sakit dan bencimu" ajak Kirana tersenyum, melihat senyum Kirana hati Zian menghangat dan ia pun dengan patuh mengangguk.


"Ya sudah, nanti siang kita kerumah mu. Tidak kah kau akan mengenalkan istri pura pura mu kepada mommy mu" goda Kirana membuat Zian menelan salivanya kasar.


Pasalnya Zian sudah melupakan kesepakatan mereka. Bahkan sekarang Zian benar benar telah jatuh cinta kepada istri wasiatnya ini. Tapi ia tidak berani mengungkapkannya.


Memiliki Kirana di sisinya saja telah membuat ia berani membuka luka lama, dan menceritakan semua padanya. Bahkan Kirana berjanji akan membantunya berdamai dengan kebenciannya. Zian benar-benar telah jatuh hati pada istrinya ini.


'Kirana, andai saja kau tau bahwa aku menyayangimu, bahkan sekarang sangat mencintaimu' batin Zian menatap mata bening Kirana. Yang disambut senyuman tipis oleh Kirana.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2