The Crazy Testament

The Crazy Testament
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Kirana menarik nafas berat, ia bermimpi bak kenyataan, kembali ke masa lalu pada zaman mengenal Indra, Kirana masih bingung dengan situasi saat ini, apalagi Indra yang tak kunjung bisa dihubungi, ia sangat merindukan sosok sahabatnya itu.


Ia pun bangun dari kasur empuknya, menuju kamar mandi, menunaikan kewajiban sebagai umat muslim dan juga bersiap-siap karena ada jam kuliah hari ini.


Ponselnya berdering melantunkan lagu Bluemingnya IU, ia bergegas meraihnya dari atas nakas sambil mengikuti irama musik lagu itu, sekejab Kirana berpikir Indra lah yang menelponnya, mengingat tadi malam ia sudah bolak balik menghubungi Indra, eh malah si kampret Dinda yang menelpon.


"Woy neng, banguuun.... Kita kan ada jam kuliah" teriaknya diseberang membuat Kirana harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena pengang.


"Jangan teriak-teriak kenapaa, pekak ini telinga" serunya gak kalah keras


"Hehehe, sorry... ya dah banguuun, terus turun! aku lagi masak ni sama ibu" ujar Dinda yang sukses membuat Kirana terbelalak dan bergegas menuju dapur


"Ngapain kamu pagi-pagi bertandang kerumah orang? Ni kayaknya gak ada orang dirumah ya?" tanya Kirana menatap Dinda tajam


"Gak usah ditanya kalau udah tau" balas Dinda bersungut-sungut


"Buu...ngapain sih diterima anak yang macem gini" ujarnya sambil memeluk ibunya yang sedang memasak.


Semenjak kejadian yang tidak mengenakkan dulu ketika sekolah, ia dan Dinda semakin dekat dan masih bertahan sahabatan hingga sekarang, walau ada cek-cok sedikit, itulah yang menjadikan mereka semakin erat, setelah Indra pergi, Dindalah satu-satunya sahabat Kirana.


"Woooy....bengong lagii...cepetan sarapan! terus kita berangkat kuliah" teriaknya mengagetkan Kirana


"Gak bisa ya, kalau ngomong itu lembut dikit, jadi anggun dikitlah kayak dulu" ucap Kirana sambil duduk disamping Dinda


"Gak bisaaa, gak leveeel, bukan gue kalau mau anggun-anggunan, kayak penyanyi itu aja" timpalnya dengan mulut penuh roti, membuat isian selai roti belepotan di mulutnya


"Ya Allah ini anaak, beneran jorook kali kok aaah" ujar Kirana sambil menyodorkan tissu pada Dinda, ia menanggapi nya dengan nyengir kuda khasnya, Kirana sampai jengah melihatnya

__ADS_1


"Kalian ini, selalu aja berdebat gak jelas begini, kapan kalian bisa akur hah?" tanya ibu pura-pura marah tapi matanya tetap fokus menumis kangkung diwajan


"Pas nonton drakoor...." timpal mereka serentak dan sambil bertos ria kemudian tertawa renyah, membuat Rita kaget dan geleng-geleng kepala melihat mereka berdua.


Mereka pun berpamitan sama Rita untuk berangkat kuliah, Dinda selalu menjemput Kirana dengan motor matiknya yang sudah butut, Kirana selalu berdebat dengan Dinda akan hal itu, ia heran dengan kesederhanaan Dinda, padahal orang tuanya termasuk orang kaya di daerahnya.


Selain motor Matik butut ini, Dinda juga punya mobil dan motor baru yang dibelikan oleh kakak lelaki satu-satunya, tapi dia selalu memilih memakai motor butut yang selalu langganan bengkel ini kalau kemana-mana.


Pernah Kirana bertanya, kenapa selalu memakai motor butut ini ketimbang naik mobil atau motor lain, dan dia akan selalu menjawab "ini motor kesayangan aku, udah temenin aku kemana-mana, apa kamu lupa selalu numpang kesekolah naik motor ini, dan sekarang masih numpang kekampus juga naik motor ini"


Dalam hati Kirana '*Ka*pan aku numpang, yang ada Dinda selalu jemput'. Tapi Kirana hanya tertawa melihat tingkah Dinda, ia sekarang berubah 100° Celcius dari Dinda yang dulunya lembut, sopan dan selalu menjaga tutur katanya, tapi sekarang ia sangat konyol, kocak, usil plus bobrok banget.


"Ran.... Si kere apa kabarnya?(si kere adalah panggilan Dinda untuk Indra), dah lama rasanya aku gak dapat kabar dari dia, terakhir seminggu yang lalu atau lebih kalau gak salah" tanya Dinda masih melajukan motornya. Kirana bingung bagaimana menjawab pertanyaannya ia hanya tersenyum miris walau Dinda tidak dapat melihatnya


"Hmmm....ntah lah Din, aku juga kurang tau, udah dari kemarin aku coba hubungi dia, tapi nihil" ujar Kirana lemah, tersirat kesedihan dimata beningnya


"Bangeet....tapi dia mungkin yang gak rindu aku" jawabnya pasrah


"Nanti sampai kampus kita coba telpon si kere itu lagi okee...kangen aku dengar suara cempreng dia, oh ya selesai kuliah kamu ada kegiatan apalagi?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan


"Ya kerja lah kemanaa lagi, lagian kenapa sih kamu masih manggil Indra kere?" timpal Kirana jengkel


Dinda yang gak nyangka ditanya itu pun membalas Kirana sewot


"Suka-suka aku lah mau manggil apa, lagian tampang dan kelakuan dia ya kere gitu"


Dinda memanggil Indra kere, karena ia selalu mengganggu Dinda jajan saat disekolah dulu, minta dibayarin lah, atau merebut makanan yang sedang ia santap atau yang lagi ia pegang, terciptalah panggilan kere tersebut. Dan kini sudah menjadi kebiasaannya.

__ADS_1


Gak mau lama-lama berdebat dengan Dinda, Kirana pun memutuskan diam hingga sampai kampus, mereka berpisah digerbang dan masuk ke kelas masing-masing kebetulan hari ini mereka beda mata kuliah.


...******...


Jam menunjukkan waktu 11.30, Kirana bergegas menuju parkiran dimana motor Dinda berada, 5 menit kemudian Dinda datang dan mereka pun meninggalkan kampus.


Kirana menuju kekantor, awalnya Dinda juga ingin ikut menemani Kirana dikantor, tapi karena Kirana harus turun lapangan mengecek proyek pembangunan perumahan, Dinda dengan berat hati memutuskan pulang kerumahnya karena ia tahu Kirana bakalan lama.


Jadwal Kirana hari ini pun sangat padat, karena setelah itu, ia juga harus ikut rapat bersama ayahnya, yang membuatnya sangat lelah dengan rutinitas kuliah dan kerja.


Jam sembilan malam Kirana sampai di rumah bersama ayahnya, ia menolak makan malam karena ingin langsung istirahat untuk merenggangkan tubuhnya yang lelah, ibu melihatnya yang tampak kelelahan kembali mengomel dan mencerca Chiko ayahnya, agar tak terlalu membiarkan Kirana banyak kerjaan.


"Jangan banyak sekali kasih Ran kerja yah, ibu takut Ran kenapa-napa, lihat tu mukanya kelelahan asal pulang kerja" omel Rita, ayahnya hanya diam


"Ran gak apa-apa bu, Ran cuma butuh istirahat sebentar, kalau udah istirahat pasti udah segar lagi" timpalnya membela sang ayah yang sedari tadi diam, dan mulai meletakkan tas kerja di meja.


"Tetap aja Ran, kalau di porsil kali kerja nanti bisa jatuh sakit" ujar Rita sambil menatap anak gadisnya dengan kasih sayang, dan terus memandang Chiko suaminya itu dengan geram, dan sepertinya Chiko sedang berpikir


"Ya udah Ran gini aja, mulai besok kalau kamu kuliah tidak usah kelokasi proyek, biar sekretaris ayah aja yang ke sana, jadi kalau kamu gak kuliah baru kamu ke sana" jelas ayah menatap Kirana


"Ayah yakin? Gak bakalan terbengkalai nanti kerjaan proyeknya?" tanya Kirana cemas


"Iya gak apa-apa, nanti sekretaris ayah yang akan beresin semuanya, sisanya nanti kamu yang kerjain, daripada ayah harus mendengar omelan ibumu dengan tatapannya yang seram itu, lebih gak sanggup ayah"


Canda Chiko sukses membuat istrinya itu melempar bantal sofa yang dipangkuannya, Kirana tertawa melihat tingkah mereka, iapun beranjak menuju kamarnya, walaupun sebagian pikirannya sudah tersita untuk Indra yang sulit dihubungi, ia pun memutuskan membersihkan diri dan langsung tidur.


...******...

__ADS_1


__ADS_2