The Crazy Testament

The Crazy Testament
di Swiss


__ADS_3

Pesawat mendarat dengan cantik di bandara internasional Zurich. tujuan Zian dan Kirana selanjutnya adalah kota Jenewa/Geneva.


Zian sebenarnya ingin sekali pulang ke desa Grindelwald kerumah Mommynya tercinta. tapi ia mengurungkan niat nya, karena sudah lama sekali ia tak pulang. alasannya karena ia membenci mommynya yang sudah menelantarkan ia waktu kecil.


"Taxi..." Zian menghentikan sebuah taxi untuk membawa mereka berdua ke sebuah hotel.


Sebuah taxi pun merapat kearah mereka berdua, dan dengan hormat sang driver berbicara kepada mereka, menanyakan tujuan. setelah semua deal. mereka pun meninggalkan Bandara.


'sudah 8 tahun aku meninggalkan Swiss, kota ini semakin indah' batinnya.


Ketika ia meninggalkan Swiss usianya masih 16 tahun kala itu, ia pulang ke Malaysia untuk tinggal bersama sang Daddy. tapi hidupnya tak berubah, ibu tirinya sangat tidak menyukainya, jadilah ia bulan-bulanan sang ibu.


Ia sering sekali tidak mendapat uang jajan, walau ia tau daddynya selalu menitipkan uang yang lebih dari cukup untuknya. Tapi sang ibu tiri yang menghabiskannya. terpaksa dengan usia yang masih muda ia diam-diam banting tulang bekerja serabutan, walaupun sang daddy salah satu orang terkaya di Malaysia. Tapi ia tetap bekerja, uang dari hasil ia bekerja, ia tabung.


Setelah lama ia bertahan dengan perlakuan ibu tirinya, ia yang sudah selesai sekolah menengah dan memiliki uang tabungan pun meninggalkan Malaysia berangkat ke Texas karena ia mendapatkan beasiswa kuliah disana.


Setitik air bening menetes di mata kanannya, masih sakit ketika ia mengingat kisah hidupnya. Tiada yang tahu hidupnya yang pahit. Karena ia akan selalu menyimpan rapi di hatinya terdalam.


"Lu kenapaa? nangis?" Zian tersentak, ia melamun terlalu lama mengabaikan fakta bahwa disampingnya masih ada anak gadis yang baru beberapa hari ia nikahi.


"Oh shit" umpatnya tanpa sadar, Kirana mengernyitkan dahinya. Sambil memegang dagunya memperhatikan Zian.


"Siapa yang nangis? mata lu rabun? gue cuma kelilipan" elaknya gelagapan, dan pura-pura mengucek mata, padahal menghapus airmata.


Kirana memiringkan kepalanya dan terkekeh geli.


"Liar..." ucapnya singkat, tapi tepat menusuk ke relung jantung Zian.


"Iam not lying." bantah Zian menatap tajam kearah Kirana, Kirana hanya tersenyum mengejek sambil menaikkan kedua alis matanya. Zian mendengus kesal.


Taxi mereka tepat berhenti disebuah hotel dekat danau Jenewa, kota Jenewa memang dikenal karena kecantikan danau Jenewa nya. kota Jenewa adalah kota terbesar kedua negara Swiss.

__ADS_1


"Ayo masuk, gue udah booking dua kamar sebelum kita kesini" Zian pun membantu Kirana membawa koper. dan mereka menuju Resepsionis hotel.


Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka berdua langsung menuju kamar masing-masing. Kamar mereka tetap sebelahan.


...***...


Tok...tok...took...petook...eh kok jadi ayam...tepok jidat. lupakan.


Zian sudah berulang kali mengetuk pintu kamar Kirana, bermaksud mengajak Kirana makan siang. Tapi sang empunya kamar dari tadi tidak membuka pintu.


"Jangan-jangan ngorok lagi, haiishh...tidur kok kayak kebo" desis Zian mendengus kesal. Walaupun kesal Zian tetap sabar mengetuk pintu kamar Kirana.


Plak....


Zian terlonjak kaget setelah mendapat tepukan sebuah tangan di lengannya.


"Yaaah....kenapa kagetin sih" tanyanya dengan nada tinggi


"Gue mau ajak lu lunch, ini malah nanya, udah hampir 1 jam gue ketuk-ketuk kamar lu. eh..... ini malah diluar, kasih tau kek" kesalnya


"Ooh....ngapain diketuk terus, kenapa gak ditelpon coba. bego banget sih" jedar, petir menyambar hati Zian, dibilang bego bikin Zian naik darah.


"Dam it....mana gue tau lu gak da didalam..kenapa malah bilang gue bego. Lu tuh yang bego, pergi gak bilang-bilang" rutuknya. Ia lalu meninggalkan Kirana yang menatapnya lucu.


"Mau kemana?" tanya Kirana yang melihat Zian ingin pergi


Zian berbalik dan menatap Kirana malas.


"Lunch...." datarnya


"Hehehe....lu ucul banget sih? gue ikut lunch" Kirana berjalan kedepan meninggalkan Zian dengan wajah bego.

__ADS_1


"Ucul artinya apa?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Ia lalu mengejar Kirana yang sudah jauh didepan.


...******...


Mereka berdua sedang makan siang didekat di sebuah restoran depan danau Jenewa. Pemandangan yang sangat indah terpampang didepan mata.


Tidak tau sudah berapa kali Kirana terus berdecak kagum atas ciptaan Tuhan. Ia bukan fokus makan siang malah terus mengagumi danau didepannya itu.


"Masya Allah, ini luar biasa...Danaunya cantik dan indah banget." Matanya berbinar-binar cerah, wajahnya selalu dihiasi senyum merekah.


Mata Zian tak lepas memandang senyum Kirana, ada rasa aneh didasar hatinya. Hangat dan ritme debarannya sedikit cepat. Itu yang ia rasakan.


"Zian, lu udah pernah kesini?" tanya Kirana tanpa menoleh, ia masih menatap danau didepannya itu.


"Hum" jawabnya singkat. Kirana langsung menoleh menatap wajah Zian


"Lu lagi puasa ngomong ya? gak ada kata- kata lain selain Hum?" cerocos Kirana, membuat Zian tersenyum tipis.


"Kok malah senyum?, ngeri gue" Kirana bergidik ngeri.


ia memeluk tubuhnya sendiri, lalu mengelusnya.


Zian hanya acuh dan cuek tak menanggapi tingkah konyol Kirana. Ia hanya terus mengunyah makanannya.


"Kau memang orang irit bicara ya?" setelah beberapa saat hening, Kirana bersuara lagi.


"Ntah lah, terlalu nyaman begini" ucap Zian. Kirana tak lagi mengganggu. Ia sadar bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah keterpaksaan dan memiliki kesepakatan. Lalu ia menyibukan diri memotret keindahan danau.


Zian menarik nafasnya dalam, ia ingin bercerita tentang siapa dia. Tapi terlalu berat, lagian mereka sudah berjanji untuk tak saling mencampuri urusan masing-masing.


Suatu saat ia akan menceritakan pada Kirana bahwa ia lahir dan besar di Swiss. Negara yang sangat indah ini.

__ADS_1


...******...


__ADS_2