The Crazy Testament

The Crazy Testament
Pengungkapan Cinta


__ADS_3

Ketika Rasa telah menjalar diseluruh kalbu, ketika rasa telah tertanam didalam hati. Memori luka pun akan sirna bagai bunga Dandelion yang terbang tertiup angin, bahkan akan menyebar menebar putik sari di seantero jagad.


Begitulah hati Zian saat ini. Walaupun masih ada luka akan sikap Kirana dulu terhadap nya. Tapi melihat akhir akhir ini Kirana sangat memperhatikan dirinya. Bahkan sampai menangis karena khawatir. Hati Zian sedikit demi sedikit meleleh kembali.


Setelah semalam mereka berdua mengungkapkan ada rasa cinta di antara mereka. Zian sangat senang mendengar bahwa ternyata Kirana sudah mulai bisa mencintai dirinya. Walau belum sepenuh hati.


Zian tidak memaksa Kirana untuk langsung mencintainya sepenuh hati. Karena dia tau kalau mencintai seseorang itu butuh waktu apalagi ketika hati masih menyimpan cinta untuk sahabat tercinta.


(Flashback On)


"Please jangan pernah terluka!"


"Insya Allah, aku tidak bisa berjanji. Tapi aku yakin, Allah akan selalu melindungi ku. Maka minta lah keselamatan atas diriku"


Zian dan Kirana saat ini sedang berada diatas kasur, saling berpelukan setelah mereka melakukan ibadah malam mereka. Kirana yang masih memikirkan kejadian tadi terus saja khawatir dengan Zian.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan mu"


"Kenapa? bukankah kalau aku tidak ada. Kamu akan bisa bersama dengan Indra, apalagi melihat kegigihan Indra mendekati kamu"


"Aku tidak peduli tentang Indra sekarang. Kamu suami ku, dan akuu....aku mencintaimu"


Ada jeda ketika Kirana mengucapkan cinta kepada Zian. Ya...Ia memang sudah sangat mencintai Zian.

__ADS_1


"Apakah kamu bermimpi? aku sedang tidak ingin bercanda. Serius lah" Zian keukeuh menganggap penuturan Kirana hanya lah bergurau semata.


"Aku serius Zian Avicena, aku tidak sedang bercanda. Ya mungkin rasa cinta ku ini masih setengah untuk mu belum sepenuh hati. Tapi izin kan aku untuk terus mencoba belajar mencintaimu."


"Aku mengerti, kamu masih perlu waktu untuk menata hati mu. Dan aku juga tidak memaksa mu untuk langsung mencintaiku sepenuh hati, belajar lah menoleh bahwa aku akan selalu ada untuk mu"


Zian mengeratkan pelukan mereka, dan mencium pucuk kepala Kirana. Dia sangat mencintai istrinya ini, walau tanpa perlu dia ucapkan.


"Apa kamu masih mencintai ku?"


Kirana bertanya gugup, takut Zian menjawab tidak. Karena selama ini, dia sangat sering menoreh luka di hati suami wasiatnya ini.


"Aku masih mencintai mu, always and forever"


"Terima kasih sayang, terima kasih telah mau memberiku kesempatan dan mau mengerti"


"Jangan berterima kasih hum. Sudah... lebih baik kita lanjut lagi"


"Kyaaaa.......Dasar mesum"


Teriak Kirana dan Zian tak peduli malah semakin menindih Kirana kembali dan melanjutkan apa yang tertunda.


^^^(Flashback End)^^^

__ADS_1


...******...


Zian tersentak ketika bunyi bel pintu terdengar, ia yang sedang bersantai di ruang keluarga menunggu sarapan siap pun, beranjak menuju depan untuk membuka pintu.


Betapa terkejutnya Zian mendapati bahwa yang berdiri didepan pintu sekarang adalah kedua orang tua Indra yang dulu juga di anggap orang tua baginya.


Dia hanya menatap tanpa ekspresi kepada dua paruh baya itu. Karina yang menyadari bahwa Zian hanya menatap tanpa menyapa pun sedih. Mata Karina berkaca kaca tapi Zian masih tak bergeming sekedar berinisiatif untuk menyapa. Sampai sang empunya rumah ikut nimbrung melihat siapa yang datang berkunjung pagi pagi.


"Eh pak Teguh dan bu Karin, loh Zi kenapa mama sama papa gak di ajak masuk?" heran Rita ketika melihat menantu nya itu hanya diam terpaku.


Zian pun melengos meninggalkan mereka bertiga. Teguh mengerti kenapa Zian bersikap demikian. Tidak mudah menerima semua perlakuan yang telah Zian dapatkan dari sang istri dulu. Hati Zian pasti masih sakit.


Zian langsung menaiki tangga menuju ke atas, tapi sebelum memasuki kamar. Kirana menghampirinya dan memegang tangan besar suami tercinta.


"Ada apa hum? kenapa wajahnya di tekuk?" tatap Kirana penuh tanya


Zian tanpa basa basi langsung memeluk tubuh mungil sang istri. Kirana hanya diam tanpa niat bertanya lagi. Dia berpikir pasti hati Zian sedang tidak baik baik saja. Jadi saat ini Kirana hanya menepuk nepuk punggung Zian.


"Semua akan baik baik saja. Percayalah"


Mendengar kata penyemangat dari Kirana, Zian tersenyum tipis. Dia semakin mengeratkan pelukan ditubuh mungil Kirana.


"Thanks you sayang" gumamnya yang dapat didengar oleh Kirana yang sekarang tersenyum manis.

__ADS_1


...******...


__ADS_2