
Kirana masih memeluk Zian erat mengusap pelan punggung Zian. Setelah tenang Zian melepas pelukan Kirana mencium singkat bibir Kirana. Mendapat ciuman mendadak begitu membuat Kirana terkejut dan melotot kan mata. Tapi Zian hanya terkekeh melihat ekspresi Kirana.
"Why? hehe... Gak usah kaget, siapkan mental aja menghadapi ku" kekeh Zian beranjak masuk kamar dan di ikuti Kirana.
"Hon, ada mama sama papa loh di depan. Kamu gak da rencana ketemu mereka?" tanya Kirana pelan.
"Gak"
Jawaban singkat dan datar yang Zian keluarkan. Bahkan tanpa menatap Kirana. Dia hanya memandang kosong kedepan. Kirana menepuk pelan pundak Zian, membuat Zian tersadar dan menoleh kearah Kirana.
"Kenapa hum? kamu masih marah sama mama Na?"
Zian menggeleng dengan sedih.
"Tidak, hanya tidak ingin membuat mama sakit hati melihat wajah ku, lagian aku bukan siapa siapa mereka"
"Kamu kenapa bilang begitu? mungkin mama kesini malah ingin ketemu kamu. Kamu tidak boleh begini, ayo ! kita temui mama sama papa"
Kirana terus membujuk Zian, tapi yang dibujuk tetap keukeuh tidak ingin bertemu dengan orang tua yang sudah seperti orang tua bagi dirinya. Zian memang tidak menaruh amarah dan benci kepada mereka berdua. Hanya saja hati kecil nya masih sakit ketika Karina menghina bahkan mencaci maki dirinya.
(Flashback On)
Suatu hari ketika Zian dan Herry termasuk karyawan ZIHER Group sedang makan siang disebuah Resto dekat kantor mereka.
Zian yang duduk semeja dengan Herry, tiba tiba jus miliknya ada yang mengangkat dan seketika jus itu membasahi kepala dan juga mengotori baju jasnya. Zian terlonjak kaget dan otomatis bangun dari kursi menoleh kepada orang yang menyiram jus itu.
Betapa kagetnya dia ketika mendapati Karina sedang berdiri dengan angkuh tersenyum sinis kearah Zian. Beserta juga Indra yang berdiri disamping Karina bersmirk sombong.
__ADS_1
"Heh...anak kurang ajar. Kenapa belum kamu ceraikan Ran?" Karina berdiri angkuh berkacak pinggang
"Kenapa mama bilang begitu? aku---" belum juga habis Zian berucap Karina langsung memotongnya.
"Jangan pernah memanggil ku dengan sebutan mama. Lahirin juga gak"
Hati Zian teriris mendengar penuturan Karina, air bening menggenang di pelupuk mata. Tapi sekuat tenaga ia menahan agar air sebening kristal itu tidak luruh.
"Sok pengen jadi anak nyokap gue. Kalau bukan karena lu ninggalin gue. Gue gak bakalan jauh dari nyokap dan bokap gue"
Zian hanya menutup mata mendengar tuduhan Indra. Herry menoleh kearah Zian.
"Heh gilaa...apa? apa yang Zian buat sama elu? gak ada. Yang ada elu ninggalin Zian sendirian. Emang sarap elu"
Herry sedari tadi memang menahan gejolak amarah pun meledak. Indra menatap Herry tajam, begitu pun Karina yang sedikit bingung dengan ucapan Herry. Dan Zian terus saja menenangkan Herry.
"Gak bisaa Zi....Dia kalau di baikin ngelunjak. Hati dia udah tertutup banget. Ini ya dengerin gue, eh liat gue!"
Herry berteriak ke arah Indra agar menatapnya, Indra geram dan melebarkan mata menatap tajam ke arah Herry. Tapi Herry tak takut sama sekali. Bahkan semua yang berada di Restoran pun termasuk para karyawan ZIHER Group sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka.
"Udah itam banget kayaknya tuh hati, mending di copot dulu di bersihin dari kerak rasa iri dan dengki, dan instropeksi diri, setelah itu bertobat!"
Nafas Herry memburu karena emosi. Zian pun menepuk nepuk punggung sahabat baiknya itu agar segera tenang.
"Heh kamu kalau ngomong dijaga ya, anak saya tidak seburuk itu. Dia malah lebih baik daripada kalian berdua"
"Udah lah ma, gak usah di ladenin lagi mereka berdua. Buang buang waktu berharga kita aja. Kita cari Resto lain aja.!"
__ADS_1
"Ya salam... Yang cari ribut mereka, siapa juga yang mau menghadapi kalian" bentak Herry lagi
"Kamu benar benar tidak punya sopan santun sama saya" Karina melototi Herry
"Gue akan sopan sama orang yang sopan terhadap gue terutama sahabat gue. Nah... Tadi anda sudah tidak sopan terhadap sahabat gue. Anda lupa atau bego?"
Herry benar benar sudah tidak menahan diri lagi. Dia melepas kan semua tanpa menjaga tutur kata. Zian menatap Herry tajam. Tau Zian marah Herry pun bungkam.
"Ayo Ndra. Mama muak melihat muka mereka berdua terutama dia" Sambil menatap sinis kearah Zian. Zian sedih ketika Karina mengatakan itu.
"Yang ada bikin mama sakit hati terus liat dia. Heh kamu, ceraikan Kirana secepatnya!"
Setelah mengatakan itu. Karina menarik tangan Indra dan berlalu meninggalkan Zian yang terduduk lemas. Hati nya teriris mendengar penuturan terakhir Karina. Herry mengepalkan tangan geram.
"Anak sama ibu sama saja. Sama sama gak punya hati nurani" umpat Herry.
"Udah Her, gue mau pulang aja. Udah gak nafsu makan gue"
Zian bangkit, Herry dengan sigap memegang tangan Zian.
"Gue ikut"
Setelah pamit sama karyawan karyawan. mereka berdua pun meninggalkan Resto.
^^^(Flashback End)^^^
...******...
__ADS_1