The Crazy Testament

The Crazy Testament
Aku Pergi


__ADS_3

...Ajarkan aku cara melupakan. Agar aku tak sakit seperti ini ketika merindukan mu. Kamu selalu menjadi bagian dari hatiku, walau sekarang kita tak bersama lagi....


...Rindu ini sungguh menyiksa. Tapi aku akan menjauh seperti ingin mu. Maafkan aku yang selalu ingin didekatmu. Aku pergi. Jaga lah diri baik-baik....


...π™•π™žπ™–π™£ π˜Όπ™«π™žπ™˜π™šπ™£π™–...


...****************...


Dua minggu berlalu, Zian bagai seonggok daging tanpa kekuatan. Pulang dari rumah Kirana dia jatuh sakit sampai harus dirawat dirumah sakit. Hanya Herry dan Rifal yang selalu berada disisinya.


Berulang kali Herry ataupun Rifal menasehati Zian agar tidak down seperti ini. Tapi Zian tidak mendengar kedua nasehat sahabat karibnya itu. Bagaimana ia mendengar nasehat, bahkan hatinya sudah mati rasa. Yang ia lakukan cuma merenung dan meneteskan airmata.


"Please Zi jangan begini. Lu harus makan, karena Lu butuh tenaga, lu hari ini dari pagi gak nyentuh makanan sama sekali loh"


Herry berucap sambil menenteng piring lengkap dengan lauknya. Tapi Zian hanya menatap kosong kedepan. Herry memandang Rifal yang sedang berdiri menyandar dipintu.


"Zi---" belum selesai Rifal berucap, Zian bersuara.


"Gue mau balik ke Swiss" ucapan Zian membuat kedua sahabatnya melongo tak percaya.


Rifal dan Herry saling melempar pandangan. Perkataan Zian membuat mereka berdua tak percaya.


Tatapan Zian beralih menatap kedua sahabatnya yang masih terdiam ketika mendengar keputusan Zian tadi.


"Gue akan balik ke Swiss, gue Rindu mommy gue" ucap Zian lagi lebih tegas dari tadi.


"Lu yakin Zi? Gimana dengan Ran? Lu mau tinggalin Ran?" tanya Herry bertubi-tubi


"Ran gak butuh gue lagi Her, lu liat! Bahkan dia gak percaya sama gue" sedih Zian menatap sendu Herry


"Lu seharusnya bikin Ran kembali sama lu, lu berusaha menyakinkan Ran bahwa lu gak selingkuh. Tapi kenapa lu malah putus asa begini" Rifal geram melihat keputus asaan Zian.


Zian menatap Rifal dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sakit ketika mendengar Rifal mengatakan kalau dia putus asa, apa Rifal tidak lihat bagaimana perjuangan dia selama ini. Tapi Kirana tetap tidak ingin bertemu dengannya. Mengerti kesedihan hati Zian, Herry menepuk bahu Rifal untuk segera diam.

__ADS_1


"Lu lupa selama ini Zian berusaha mendekati dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Ran, Ran bahkan tidak ingin bertemu dengan Zian. So, gak usah memberi harapan palsu lagi untuk Zian, gue setuju kalau Zian balik Swiss" Herry menatap Zian yang kembali menatap kosong keluar jendela kamar nya.


"Benar kata lu Herry, bahkan ketika kita kasih kabar bahwa Zian masuk rumah sakit, Kirana bahkan tidak datang menjenguk Zian suaminya" Airmata Zian mengalir ketika Rifal mengatakan hal itu.


"Udah, gak usah bahas lagi. Gue bakalan turutin keinginan dia untuk bercerai. Besok gue ke pengadilan mengurus surat perceraian, setelah itu gue balik ke Swiss" suara lemah Zian membuat Herry dan Rifal semakin iba.


Zian bangkit dari duduknya berjalan gontai kearah kamar mandi sambil meraih handuk di tempatnya. Herry menatap heran ke arah Zian sahabatnya itu.


"Lu mau kemana?" tanya Herry mengerutkan dahinya.


"Lu gak liat gue pegang handuk, mau mandi lah" ketus Zian


"Ya salam. Dari tadi lemah tak berdaya, sekarang ngomong bisa ketus gitu" wajah datar Herry membuat Zian tersenyum.


Zian masuk ke kamar mandi. Dia terdiam menatap diri di cermin kamar mandi. Airmata nya kembali menetes, pikirannya tertuju kepada Kirana yg hampir 3 minggu sudah tak ia lihat. Rasa rindu seketika menyeruak menusuk jantungnya. Dia menekan dada yang terasa sesak.


"Apakah hubungan ini harus berakhir my wifey? Apakah aku benar-benar harus pergi dari mu?" monolog Zian, amarah nya kemudian memuncak dengan tanpa sadar menonjok kaca yang berada didepan dia.


Praang....


...****************...


Rasa mual bergejolak diperut Kirana ketika ia sedang sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia bangkit berlari menuju ke kamar mandi diruang makan tersebut. Dan ia memuntahkan semua makanan yang telah sebagian masuk ke perutnya.


"Huek.... huek.... huek.... " Kirana terasa pusing ia bertumpu pada wastafel sambil terus memuntahkan isi perutnya yang tanpa mengeluarkan apa-apa.


Rita dan Chiko menghampiri anak kesayanganya dengan panik. Rita mengusap tengkuk dan bahu Kirana agar membuat Kirana nyaman. Chiko memandang lamat kearah istrinya Rita. Pikirannya menangkap sesuatu yang tidak mengenakkan. Kalau sampai apa yang ada dipikirannya benar. Bagaimana Kirana akan menghadapi kenyataan.


"Ran, kita periksa kedokter aja yuk!, kamu udah sering banget loh mual dan muntah gini, gak mungkin cuma masuk angin" ucap Rita masih mengusap tengkuk dan bahu Kirana.


Kirana bingung, dia memang merasakan kalau bukan hanya masuk angin biasa. Tapi hati kecilnya tidak ingin itu terjadi. Dia masih sangat membenci sosok suami yang sudah membuat hancur hati nya.


"Ayo Ran, ibu dan ayah antar kerumah sakit." Chiko memandang sendu anak semata wayangnya yang telah banyak mengalami masalah dari semenjak dia kecil.

__ADS_1


Kirana pun mengangguk, mereka bertiga melangkah menuju kamar masing-masing untuk bersiap diri. Setelah semua siap, mereka pun bergegas kerumah sakit. Kirana hanya menatap kosong keluar jendela dengan dia bersandar lesu. Rita hanya memandang anaknya itu dengan sedih.


"Ran, jangan khawatir. Apapun hasilnya nanti, ibu dan ayah akan selalu sama kamu, jaga kamu" ucapan Rita membuat Kirana meneteskan airmata. Dia bersyukur karena memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi nya.


"Ran gak apa-apa kok bu, yah. Insya Allah Ran baik-baik aja, kan ada kalian berdua" senyum Kirana di akhir


Mereka bertiga sampai di rumah sakit. Setelah melalui beberapa prosedur, akhirnya tiba giliran Kirana melakukan pemeriksaan. Dan betapa Kirana dan kedua orang tuanya tidak menyangka, bahwa Kirana sedang mengandung.


"Apa anak ibu dan bapak sudah punya suami?" Dokter menanyakan itu karena dari tadi dia tidak melihat laki-laki lain selain ayah dari pasiennya ini.


"Sudah Dok, cuma suami nya sudah mati Dok. Memangnya ada apa ya Dok?" Chiko berbohong, baginya Zian sudah tidak ada urusan lagi dengan anaknya.


Kirana dan Rita terkejut mendengar penuturan Chiko tentang Zian. Mata Kirana berkaca-kaca hatinya sakit, apalagi ketika dokter memandang ia dengan rasa iba.


"Saya turut berduka cita. Tapi kayaknya kalian harus bergembira, karena sebelum suami anak kalian pergi, dia menitipkan benih kepada anak kalian berdua. Nona Kirana positif hamil 2 bulan"


Rita dan Chiko terkejut dan saling berpandangan. Kirana terharu ia pun mengusap lembut perut ratanya dengan menitikkan airmata. Berbeda dengan Chiko yang raut wajahnya berubah sedih.


...****************...


Sebuah pesawat terbang melayang di udara dengan perlahan. Dua anak manusia yang tadi berdiri dengan perasaan bercampur aduk pun membalikkan badannya. Ya, mereka berdua adalah Herry dan Rifal yang mengantarkan Zian ke bandara.


Keinginan Zian meninggalkan Indonesia sangatlah kuat. Mereka berdua tidak bisa menghalangi keinginan Zian itu. Apalagi demi kebaikan Zian yang ingin melupakan Kirana.


Tapi mereka berdua bingung, kenapa Zian tidak menceraikan Kirana dulu baru berangkat. Zian menarik nafas dan berkata bahwa dia tidak bisa menceraikan Kirana sekarang.


Terlalu sakit berhadapan dengan Kirana ketika cinta dihatinya masih sangat terlalu dalam. biarkan waktu yang membuat dia melupakan Kirana, kalau dia sudah siap. Dia akan kembali dan menceraikan Kirana.


"Ayo Her. Kita pulang, sekalian kita susun rencana. Bukankah kita punya misi" ajak Rifal menatap Herry


"Oh ya.. hampir lupa. Sekalian hubungi Dinda! kita juga butuh dia untuk melancarkan misi kita" ujar Herry merangkul Rifal dan mereka meninggalkan bandara.


...****************...

__ADS_1


...Hallo readers yang budiman.. sorry lama vakum.. mandet otak.. 🀣🀣 ini bakalan di usahakan update tiap hari.. insya Allah kalo gak mandet.. karena terkadang ilhamnya kabur gak pulang2.. thanks u yang sllu support....


__ADS_2