
Kirana dari tadi menarik narik baju Zian mengajaknya keliling desa Grindelwald. Tapi Zian tidak mau sama sekali. Bukan karena tak ingin, hanya saja ia takut bertemu dengan sanak family nya terutama mommynya.
Maklum lah Grindelwald adalah desa dimana ia dilahirkan dan dibesarkan walaupun hanya 16 tahun. Pasti sanak family maupun mommy nya masih mengenal wajahnya.
"Ayolaaaaah....Ayolaaah....Gue pengen liat desa ini...Apalagi bukit hijaunya tu" ajak Kirana.
Masak sudah sampai sini hanya mengeram di rumah. Ia kan juga ingin berjalan-jalan dan menyapa penduduk asli.
"Hush...hush...Lepas gak baju gue...Melar nanti baju gue" Berusaha melepas bajunya, Zian tetap keukeuh gak mau keluar.
"Kalau lu gak mau ikut gue, gue sumpahin lu jomblo seumur hidup" Sumpah Kirana membuat Zian membelalakan matanya. Kirana hanya menatapnya datar.
'Pffftt....**L**u kan istri gue Maemunah, kek mana mau jomblo' batinnya tertawa.
"Lu napa senyum senyum begitu?" Kirana mengeryitkan dahinya, ini disumpahin kok malah senyum senyum sendiri.
"Gak ada...Ya udah yuk, jalan kaki aja ya" ucap Zian akhirnya.
"Ya ampun, dari tadi kek, gak payah gue buang tenaga ngerayu lu" ucapnya langsung melengos keluar dari Bungalow. Zian hanya menepuk jidat nya dan menyusul Kirana.
...*****...
"Zian....Ini desa, cantik banget ya, gue jadi pengen tinggal dan menetap disini"
Zian sempat tersentak mendengar suara lembut Kirana, pasalnya ia jarang sekali mendengar suara lembut Kirana. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat lagi, bersusah payah ia menetralkan diri.
"Kalau Ran netap disini, bagaimana sama ibu dan ayah, mereka pasti gak bakalan izinin kita tinggal disini, apalagi Dinda, Ran mau liat Dinda jatuh sakit?"
Zian juga berbicara lembut tidak seperti biasanya, dan bicaranya juga lumayan panjang. Ntah, sejak mengenal Kirana, Zian senang sekali berbicara dengannya.
"Hmmm....Zian bener...Ayoo kita kesana" Kirana refleks menarik tangan Zian menuju kearah pemukiman warga sekitar.
__ADS_1
Zian yang melihat tangannya di genggam, hanya menatap tangannya tanpa berkedip.
Jantung Zian hampir melompat keluar, ia gugup. "Ran....Tangan gue, pleasee dilepas" Kirana langsung melepas genggaman tangannya dengan cepat.
"Hmm..eh sorry Zian, gue tadi terlalu senang" ucapnya gugup.
"Its okey....Ayo..." ajak Zian tersenyum manis, padahal ritme detakan jantungnya masih berdetak tak karuan. Kirana membalas senyuman Zian lebih manis.
Mereka berdua pun, berjalan-jalan menyusuri jalan aspal menuju ke pemukiman warga. Tibalah disebuah perkebunan buah Apel dan Pir. Zian berhenti sebentar begitupun Kirana.
Kirana yang melihat Zian hanya memandang kearah perkebunan pun bingung. Ia mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanyanya
"Aah....T-tidak...hanya ingin melihat saja, sekarang lagi musim panen berarti" jawab Zian masih menatap lurus kearah perkebunan yang pohon apel dan pir sedang lebat dengan buah. Selain itu juga banyak pekerja yang sedang memetik buah apel.
Zian ingat sekali, dulu ketika ia masih tinggal di sini, ia bekerja dengan pemilik kebun Diego, memory masa dulu berputar seperti kaset dikepalanya. Kirana yang melihat perubahan di wajah Zian menepuk pundaknya.
"Yaa....Kenapa malah kek sapi cengo sih?" ejek Kirana
"Lu..suka sekali mengejek gue, udah jomblo, sekarang sapi lagi, haisssh..." Zian menjitak kepala Kirana. Kirana tak trima langsung mengomel.
"Dasar gilaa....lu selalu menjitak kepala gue, kalau gue bodoh gimana?" omelnya langsung meninggalkan Zian dan berlalu kedepan. Zian hanya tersenyum tipis.
Perdebatan mereka di tepi jalan mengundang perhatian beberapa orang dari perkebunan tersebut. Salah satunya adalah seorang wanita paruh baya, usianya sekitar 45 tahun, ia memang sedari tadi sudah memperhatikan dua sejoli itu.
Setelah sadar, dan yakin bahwa pemuda yang dijalanan itu orang yang dia kenal, dengan sekuat tenaga ia berlari untuk menghampiri Zian, sekarang ia berdiri didepan Zian dan membelakangi Kirana.
Dengan mata berkaca-kaca ia memegang kedua pipi Zian. (komunikasi ecek2 bahasa inggris lagi ya)
"Sammy my son...hiks...my son...your my son" ucapnya terbata bata, airmata sudah menetes dikedua pipinya. Tangannya masih menangkup pipi Zian.
__ADS_1
Kirana bisa melihat raut wajah Zian berubah dingin sedingin kutub selatan, dan juga datar. Ia selalu bergidik ngeri melihat perubahan Zian kalau dalam mode dingin seperti itu. Zian juga hanya diam ketika wanita seusia ibunya itu memeluk bahkan mencium wajah Zian berkali kali.
Seseorang datang menghampiri mereka bertiga dengan panik "Claire, apa yang kau lakukan?" pekik laki-laki paruh baya tersebut.
Wanita yang di panggil Claire, menarik tangan laki-laki tersebut.
"Diego...Diego, dia anak ku, putra ku" memegang tangan Zian, Zian masih membatu tanpa mengatakan apa apa.
Kirana jadi kikuk sendiri melihat pemandangan didepannya. Zian beralih memandang Kirana yang masih menatapnya bingung. Zian menepis kasar tangan Claire, Claire pun tersentak diperlakukan seperti itu.
"Iam not your son, nama ku Zian, bukan Sammy" ucapnya dingin lalu menghampiri Kirana, menarik tangan Kirana pulang ke Bungalow.
Claire dan Diego terdiam terpaku, airmata Claire langsung menganak sungai, ia meraung memanggil nama Sammy yang tak lain memang Zian. Diego memeluk Claire erat.
"Dia anak ku, Diego, dia Sammy ku. Dia melakukan itu pasti karena sangat membenci ku, aku tau itu, aku telah menelantarkan dia." Claire sesegukan didalam pelukan Diego, Diego hanya mengusap punggung Claire menenangkan. Lalu menuntun Claire pulang kerumah mereka.
...***...
Semenjak pertemuan mendadak tadi, Zian hanya duduk di sofa balkon menatap kosong kedanau. Sebenarnya ia tidak tega melakukan itu pada mommynya. Tapi rasa sakit hati yang masih membuncah membuat ia hilang akal.
Kirana hanya memandang Zian cemas, ia tidak tau apa yang terjadi, tapi melihat wajah Zian yang berubah, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Zian padanya.
Kirana dengan ragu mendekati Zian, ketika baru duduk disamping Zian, ia melihat airmata jatuh dipipi suaminya tersebut. Dan mulai sesegukan. Kirana refleks memeluk Zian, Zian pun menangis diceruk leher Kirana. Kirana hanya menepuk lembut punggung Zian. Hingga Zian mengeratkan pelukannya.
"Semuanya akan baik-baik aja" Kirana menenangkan Zian mengelus kepala Zian. Seketika tangisan Zian berhenti. Ada rasa nyaman yang dirasakan Zian ketika memeluk Kirana, darahnya langsung berdesir.
Mereka terlalu lama berpelukan, tanpa sadar malah jatuh ketiduran disofa dengan posisi Kirana masih memeluk Zian.
Lonceng cinta mulai berbunyi berdenting. Sore itu Zian merasakan kehangatan di hatinya. Rasa cinta sudah mulai tumbuh di hatinya. Ia menatap lamat kewajah teduh Kirana yang sedang nyenyak tidur. Ia memindahkan kesamping rambut yang menutupi wajah Kirana, dan tersenyum.
" I love you Kirana Richita" gumamnya sambil mengecup dahi Kirana yang masih lelap.
__ADS_1
Zian bangkit mengangkat Kirana ala Bridal Style membaringkannya di atas ranjang dan menyelimutinya. Ia pun ikut berbaring di atas ranjang dan jatuh terlelap.
...******...