The Crazy Testament

The Crazy Testament
Dua Hati satu Cinta


__ADS_3

...Rindu terkadang membuat kita bisa gila. Bagaimana tidak, Setiap bayangnya selalu menari dipikiran ku. Bau Parfum nya, senyum nya sungguh menyiksa batin ku. Bahkan Suara nya terdengar merdu di daun telinga ku....


...Kirana Richita...


...****************...


Kirana terlelap dalam tidur lenanya, Seharian beres-beres rumah membuat ia lelah dan merebahkan badannya ke sofa ruang tengah rumah Chiko Wardhana sang ayah.


"Sayang, anak ayah. Baik-baik ya didalam sana. jangan suka buat bunda morning sickness. Kasian Bunda, pasti selalu lemas tiap pagi" Zian mengelus lembut perut Kirana yang mulai sedikit membuncit.


Sayup-sayup Kirana mendengar suara dan Elusan diperut membuat Kirana terbangun, menatap pemuda tampan yang sedang berlutut dan tersenyum didepannya. Tangan Kirana spontan memegang pipi Zian dengan sedikit mengelusnya. Mata Kirana berkaca-kaca. Hasrat kerinduan yang ia pendam selama ini ia tumpahkan semua.


Ia menangis sesegukan dan memukul-mukul dada bidang Zian. Zian hanya memeluk dan mengelus punggung Kirana lembut.


Akan tetapi suara lain terdengar memanggil namanya.


"Ran, Kirana. Ran...Allah ni anak kenapa lagi" Rita mengguncang bahu Kirana yang masih betah menutup mata.


"Kirana..Sayang" setelah Rita berulang kali memanggil. Kirana membuka matanya yang juga sudah basah dengan airmata. Ia heran, atensinya ia putar ke seluruh ruangan. Sosok Zian yang tadi didepannya dan memeluk ia ntah hilang kemana. Atau...Ia hanya bermimpi.


"Bu.." Suara serak disertai segukan keluar dari bibir manis nya.


"Anak ibu kenapa? kamu dari tadi menyebut-nyebut nama Zian dan terus menangis, kamu mimpi buruk kah?"


"Ternyata ini benar hanya sebuah mimpi" Tetesan airmata kembali luruh di pipi putih Kirana.


"Ran, kamu kenapa sayang?" Rita mendekati putrinya mendudukan diri disamping Kirana membawa Kirana kedalam pelukannya.


"Ran rindu Zian Bu, Ran rindu sama suara dan senyumnya" Isak pilu Kirana.


Rita menarik nafas berat "Huft...Sayang, sudah! turunkan ego mu! kamu harus memaafkan Zian nak" ujar Rita membuat Kirana menengadah menatap sayu ibunya itu.


"Ran, ibu tidak yakin Zian melakukan hal seburuk itu. Ntah kenapa insting ibu mengatakan kalau dia di jebak" lanjut Rita membuat Kirana menegak. Kirana mengernyitkan dahinya penasaran.

__ADS_1


"Kenapa ibu berpikiran seperti itu?" tanya Kirana


Rita menerawang, ia mengingat setiap perkataan Zian ketika datang kerumah dulu untuk membujuk Kirana. Begitu pun dengan ketiga sahabat Kirana dan Zian. Mereka begitu kompak dan bersikeras membela Zian, tidak menutup kemungkinan bahwa benar adanya Zian tidak bersalah. Kalau memang benar Zian dijebak, berarti ada seseorang yang memang merencanakan untuk menghancurkan rumah tangga Zian dan Kirana.


"Bu..." Kirana memanggil Rita yang sedari tadi melamun memikirkan perihal Zian.


"Eh maaf, ibu malah memikirkan Zian, dia sedang apa sekarang, apa dia baik-baik saja, mengingat dia sempat masuk rumah sakit dulu" ucapan Rita membuat Kirana terdiam, ia jadi ikut memikirkan suami nya.


"Gak tau Bu, udah lama Ran gak dengar kabar dia" lirih Kirana.


"Zian belum tau kan kalau kamu hamil? Hufttt....." Hembusan nafas berat Rita terdengar.


"Anak ini butuh ayahnya Ran" sambungnya lagi sambil mengelus perut Kirana.


"Tapi Bu, Ran masih belum bisa menerima semua kejadian itu" Isak Kirana.


"Kejadian, kejadian apa?" tanya Chiko.


"Ada apa?" tanya Chiko kembali menatap tajam ke arah Rita, Chiko tau pasti istri dan anaknya sedang membahas hal yang tidak boleh di bahas sama sekali di dalam rumahnya.


"Hai Beby, kamu kenapa lemes banget?" Indra tanpa melihat situasi ketegangan antara Chiko dan Rita menyapa Kirana yang sedang tidak memiliki mood sama sekali berbicara dengannya.


"Bisa gak, jangan manggil gue dengan sebutan Beby? Gak suka gue" jawaban Kirana sungguh menohok jantung Indra, tapi Indra terlalu bebal dia bahkan tidak peduli apakah Kirana suka atau tidak. Dia tetap melakukan hal sesuka hatinya.


"Loh kenapa beby? Bentar lagi juga aku sama kamu bakalan menjadi suami istri" ucapan Indra membuat Kirana dan Rita menatap Chiko berbarengan.


"Apa maksud lu?" Kaget Kirana


"Maksud kamu apa ya nak Indra?" Rita juga ikut bertanya tanpa menatap Indra, tapi menatap suaminya yang berwajah tanpa ekspresi


"Indra melamar Kirana sama ayah. Dan ayah setuju"


Bagaikan petir di siang bolong, Kirana berdiri dari duduknya menatap sang ayah dengan rasa kecewa Dan menatap Indra yang tersenyum kemenangan. Airmata Kirana menetes lagi, tanpa basa-basi Kirana melangkah masuk kamar tanpa memperdulikan panggilan dari Indra dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bebyy...bebyy...mau kemana, hey..." Teriakan Indra tidak sedikit pun diindahkan oleh Kirana


"Ayah benar-benar sudah tidak memikirkan bagaimana perasaan Kirana hah?, apa yang ayah pikirkan?" Rita kecewa dengan keputusan suaminya itu.


"Itu yang terbaik buat Kirana bu" ujar Chiko.


"Terbaik ayah bilang? Keputusan ayah malah membuat hati Kirana hancur, dia butuh ketenangan yah, masalah dia belum selesai dan sekarang ayah malah nambah masalah dan bikin dia tambah strees" marah Rita. Dia yang biasanya lembut jadi meninggikan suara didepan suaminya


"Bu, kok ibu ngomongnya gitu? Memangnya Indra biang masalah apa? Indra kan cuma mau jaga Ran Bu" Ujar Indra lembut.


"Ndra ibu minta maaf sama kamu sebelumnya, Ran itu tidak butuh kamu. Tapi dia butuh suaminya, dan anak yang Ran kandung itu butuh bapak kandungnya" ucap Rita tegas membuat Indra terkejut.


"Ibuu...." bentak Chiko menatap nyalang kearah Rita


"Apa?" Rita juga meningkatkan volume suaranya.


Indra belum mengetahui bahwa Kirana sedang mengandung. Indra tidak percaya apa yang telah ia dengar. Sangking shocknya ia menatap Rita dan Chiko bergantian tanpa berkedip. Ia hanya bisa diam terpaku.


"Yang Indra dengar tadi gak benar kan Bu, yah?" Tanya Indra dengan suara bergetar.


"Ayah, ini gak benar kan? Bohong kan?" Kembali lagi pertanyaan yang sama Indra ucapkan.


"Itu semua benar Ndra, maka dari itu lebih baik kamu mencari wanita lain, jangan lagi mengganggu Ran dan Zian"


Rita tanpa takut tetap mengatakan kebenaran kepada Indra. Walau tatapan Chiko menusuk ke dalam manik matanya, Rita sudah tidak peduli. Ia pun memilih meninggalkan Chiko dan Indra di ruang tamu.


Sedangkan Indra memilih pulang dengan gontainya. Chiko menegurnya, Indra tidak mendengar dan terus memilih pergi.


Ia masuk ke sedan hitamnya. Ia terus memukuli stir mobilnya dengan kasar. Airmata terus membasahi pipi dan merutuki nasib. Dendam dimatanya mulai membara.


"Zi, gue bakalan bikin hidup lu benar-benar hancur. Gue akan tetap nikahin Ran walau dia mengandung anak lu sekalipun" monolog Indra. Ia melaju kan mobilnya meninggalkan rumah Kirana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2