The Crazy Testament

The Crazy Testament
Beneran Cemburu?


__ADS_3

Zian masuk ke kamar mencari sesuatu, matanya menyusuri setiap sudut kamar Kirana. Kirana masuk membawa secangkir coklat hangat untuk Zian, Zian hanya mengacuhkan Kirana.


"Zi...Sayang, kok kamu diemin aku sih?" tanya Kirana cemberut.


"Kan aku udah bilang jangan manggil aku sayang, kita mau bercerai loh, kamu lupa? tadi aja calon suami mu TERCINTA datang bertamu, pake peluk pelukan didepan pintu lagi, alaay"


Gerutu Zian panjang lebar, Kirana tersenyum senyum sendiri, melihat tingkah Zian, dan satu hal yang di sadari Kirana bahwa kosakata Zian sudah sangat panjang.


"Kamu cemburu?" Kirana mencolek perut Zian menggoda.


"Gak, untuk apa cemburu? bukan hak aku untuk cemburu" Ucapnya tanpa menatap Kirana


"Iyakah? kamu yakin hem?" tanya Kirana masih mengganggu Zian, tapi taulah Zian lagi tidak dalam mood baik.


"Jangan ganggu aku, aku lagi badmood" mode dingin Zian kembali.


Kirana hanya menarik nafas berat.


"Oke, iam sorry...aku pergi dulu, kamu kalau ada apa apa panggil aku, aku dibawah" ucap Kirana sendu.


Kirana turun kebawah meninggalkan Zian yang masih terbakar api cemburu. Zian hanya menatap Kirana sayu, ingin ia mencegah tapi suara tercekat dikerongkongan. jadilah Zian hanya menatap kepergian Kirana.


"Aku rindu kamu Ran" batinnya lirih


...******...


"Hallo"


"iya bos, ada apa?"


"Aku ingin kalian mengerjakan apa yang aku perintahkan secepatnya"


"Oke bos, bos tenang aja kalau suasana sudah pas, kami akan melakukan perintah bos"

__ADS_1


"Bagus, aku pantau kalian"


Tut....tut....tut...


"Oke Zi....permainan akan segera dimulai, lu liat aja nanti,.aku yang akan mendampingi Kirana, bukan lu"


Smirk sinis terukir di wajah Indra, sorot mata kebencian nampak jelas di matanya. Ia pun bangun dari ranjang berniat keluar rumah, didepan Indra bertemu dengan Teguh yang sedang berkutat dengan laptop nya. Teguh melihat Indra yang memakai sepatu pun menegur.


"Mau kemana lagi kau?"


Tegur Teguh, sebenarnya ia muak dengan kelakuan anaknya sekarang, yang hanya bermain dan berfoya foya, bahkan terakhir kali Indra pulang dalam keadaan mabuk, berbeda sekali dengan Indra yang dulu.


"Keluar bentar pa, ada yang harus Indra kerjain" jawabnya


"Apa yang harus banget kau kerjakan? papa liat tidak ada pekerjaan yang berarti yang kau kerjakan, kerja mu hanya mutar mutar, bermain, ber foya foya, malah sekarang udah pinter mabuk mabukan" bentak Teguh marah.


Indra tersentak mendengar bentakan dari Teguh, pasalnya sudah sebesar ini, ia tak pernah kena bentakan dari papanya itu. Mendengar suara ribut dari depan, Karina muncul tergesa gesa.


Karina membela Indra, wajar seorang ibu membela putranya, tapi posisi Karina ia tidak tahu menahu apa duduk permasalahannya, yang membuat Teguh geram.


"Kamu diam saja kalau tidak tau apa masalahnya, dengan kamu membuka mulut, membuat semuanya jadi runyam." ucap Teguh menatap tajam kearah Karina.


"Papa kenapa malah membentak aku?" tanya Karina tak terima, ia menekuk wajahnya cemberut.


"Udah tua, gak pantes bikin wajah begitu, lagian aku bener kan, karena kamu, anakmu ini jadi pembangkang"


Beralih menatap Indra "Dan kamu, papa tidak ingin melihat kamu menjadi anak liar, jangan coba coba melakukan hal yang papa tidak inginkan, kalau sampai kamu melakukan sesuatu diluar batas, aku sendiri yang akan membuatmu jera"


Ancam Teguh, membuat Indra menarik nafas kasar, ia menatap nyalang Teguh dengan nafas memburu. Dengan tanpa ba bi bu, ia keluar dari rumah dan membanting pintu didepan Teguh.


"Kurang ajar, aku tidak pernah mengajarkan dia bersikap kasar dan tidak sopan terhadap orang tuanya" ucap Teguh geram, rahangnya mengeras.


"Udah pa, papa jangan emosi, nanti tekanan darah tinggi papa naik" Karina menenangkan suaminya, dan menuntun duduk disofa kembali.

__ADS_1


...******...


Kirana resah di depan televisi, pasalnya Zian tidak turun turun dari tadi, ia bangun dan melangkah menuju ke atas, dan masuk kekamarnya, didalam tak ditemui Zian, hanya gemericik air dikamar mandi yang terdengar.


Kirana berinisiatif mencarikan piyama untuk Zian, karena kebetulan Rita ibunya Kirana sempat membeli beberapa piyama untuknya dan Zian agar ketika berkunjung kerumah orang tuanya, Kirana dan Zian tidak perlu repot membawa baju ganti.


Ceklek......


Pintu kamar mandi terbuka, Zian keluar dengan handuk melilit dipinggang, Kirana terdiam terpaku, ia memandangi tubuh kekar dan roti sobek Zian lamat. Suara jantungnya pun berpacu cepat, ia cepat cepat menetralkan pikirannya.


"Zi, ini bajunya udah aku siapin, ibu sama ayah mungkin larut malam pulang, kamu mau aku masakin apa?" lembut suara Kirana, membuat jantung Zian juga ikut berdetak.


"Gak usah masak aja, aku mau makan mie instan, rindu sama mie sejuta umat itu" ucapnya sambil mengambil baju dan memakainya.


"Gak boleh makan mie sayang, gak bagus buat kesehatan" Kirana tidak menatap kearah Zian yang sibuk memakai piyamanya.


Deg....deg...


Jantung Zian tak karuan sekarang, ia ingin sekali memeluk Kirana. Tapi dia tahan sebisa mungkin, ia masih ingin menguji apakah Kirana sudah mencintainya.


"Aku suka makan mie, jadi mau gimana lagi, kalau kamu gak masakin, ya aku sendiri yang akan memasaknya" Zian cemberut


"Ya Tuhan, kenapa Zian semakin membuat ku lupa diri, dia menggemaskan dengan wajah cemberut gitu" batin Kirana tersenyum tersipu, Zian mengerutkan dahinya menatap Kirana yang tersenyum sendiri.


Tuk.....


Zian menyentil dahi Kirana, Kirana kaget mengerucutkan bibirnya sebal, ia mengelus elus dahinya yang kena sentilan Zian.


"Sakit tauu..." Protes Kirana manyun


"Tolong...itu bibir dikondisikan, jangan sampai aku berbuat macam macam" Ucap Zian datar, ia lalu meninggalkan Kirana, Kirana mengikutinya dari belakang.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2