The Crazy Testament

The Crazy Testament
Ini Yang Terbaik, Mungkin?


__ADS_3

Zian turun dari taxi menuju sebuah rumah mewah di pinggir Kota. Rumah yang ia siapkan untuk Kirana dan anak anaknya kelak. Ah...berbicara anak, mungkin itu hanyalah impian yang takkan mungkin kesampaian. Mengingat sebentar lagi, ia dan Kirana akan segera bercerai.


Kreeeet.....


Ia membuka pintu rumah tersebut, rumah yang begitu indah, dengan halaman depan yang luas, terdapat pohon pohon meneduhkan. Rumah impian Kirana, ia masih ingat ketika mereka di Swiss dulu.


Kirana pernah mengoceh bahwa rumah Zian adalah rumah impiannya, yang punya halaman luas dan kolam renang dibelakang. Dan dengan jerih payah sendiri, Zian mencari rumah tersebut dan membelinya kemudian ia renovasi sesuai dengan keinginan Kirana.


Airmatanya jatuh. Tapi dengan buru buru ia menghapusnya kasar. Ia berjalan kelantai dua, dimana kamarnya berada, untunglah ia sering pulang kesini, jadi baju dan beberapa setelan tersimpan rapi di lemari besar miliknya. Ia mengambil ponsel dan menelpon Herry.


"Hallo Her, kau dimana? maukah kau mengurus sesuatu untuk ku?" tanyanya dengan suara serak.


"Bro, lu kenapa? apa ada yang salah?, suara lu seperti orang baru menangis?" panik Herry, pasalnya dia sangat tau sifat sahabatnya itu.


"Datang lah ke alamat yang aku kirim, nanti aku akan menceritakannya" Sahutnya


"Oh oke, aku segera kesana". Zian memutus sambungan telponnya, mengirim sesuatu ke Herry, dan beranjak ke kamar mandi, ia ingin berendam, sekedar menghilangkan stress.


...******...


30 menit kemudian, Herry datang bersama Dinda. ya Dinda. Ketika Zian menelpon Herry, Dinda sedang bersamanya jadilah si kocak itu ikutan ikut.


"Rumah siapa ini Her, kok besarnya masya Allah, bagus banget lagi, adeeem" Kagum Dinda.


"Ck...besar sih besar, tapi kenapa pinggiran kota banget" cibir Herry,

__ADS_1


"Ho oh, iya juga ya...eh tapi disini lebih adem loh daripada dikota" Sahut Dinda


"Ah terserah deh, mending kita masuk" ucap Herry mendekati pintu.


Sebelum mereka memencet bel, pintu tersebut sudah terbuka menampakkan Zian dengan baju kasualnya. Walaupun penampilannya rapi, matanya sembab nampak jelas di wajahnya. Melihat ada yang tidak beres dengan sahabatnya Herry panik dan cemas, ia berlari menemui Zian.


"Loh bro, kau kenapa? kau beneran menangis? mata kau---" belum habis Herry berbicara, Zian mengajaknya masuk.


"Masuk," datarnya, Herry pun bergidik ngeri. Sifat dan tingkah Zian kembali lagi seperti dulu. Dingin dan datar.


"Zian kenapa? kenapa sikapnya kembali lagi?" Gumam Herry lirih


"Zian kenapa Her? kok dia menjadi cuek dan acuh gitu?" Dinda yang bingung melihat sikap Zian pun bertanya sama Herry.


Hati Zian sakit sekarang, jadi tidak ada alasannya lagi untuk bisa bahagia seperti dulu.


Mereka bertiga sedang saling diam, tidak, hanya Dinda dan Herry yang hanya bisa saling melempar pandangan. Karena Zian sedang sibuk dengan sebuah laptop, seperti menulis sesuatu.


Setelah selesai, ia menghampiri kedua sahabatnya itu, tersenyum tipis kepada Dinda. Lalu ia pun menceritakan semuanya. Semuanya. Dari kesepakatannya dengan Kirana, rasa cintanya dan penolakan Kirana, tentang kejadian sebenarnya di Texas sana, sampai kedatangan Indra dan masalah perceraian mereka.


Dinda dan Herry terdiam, Dinda bahkan sudah mengeluarkan airmata. Ia merutuki kebodohan sahabat baiknya Kirana. Ia pun bangun, ingin mendatangi Kirana.


"Lu mau kemana Din?" tanya Zian datar


"Gue mau kasih tau Kirana yang sebenarnya bahwa lu gak pernah ninggalin Indra di gedung tersebut" seru Dinda, ia emosi sekarang karena tak menyangka bahwa Indra akan memfitnah Zian sekeji itu hanya untuk mendapatkan Kirana kembali.

__ADS_1


"Gak usah, gue malah ingin lu merahasiakan keberadaan gue pada Kirana" ucap Zian


"Gila lu Zian, lu mau sembunyi?" Herry juga ikut emosi


"Gue bukan sembunyi, tapi untuk apa berusaha menjelaskan, ketika semua orang tidak mempercayai lu, biarkan saja waktu yang menjawabnya, Lagian sekarang kami akan segera bercerai"


"Kenapa harus bercerai Zian, lu gak berusaha untuk mendapatkan cinta Kirana, bukankah tadi lu bilang lu mencintainya?" Tanya Dinda,


"Gue cinta sama Kirana Din, bahkan sangat mencintainya. Gue udah berusaha, tapi selama hampir setahun usaha gue, Kirana tetap tak pernah melihatnya, gue cuma mau liat Kirana bahagia, bahagia dengan pilihannya" Zian tertunduk sendu, matanya berkaca kaca lagi.


"Hidup lu kenapa gini amat sih bro?, lu tenang aja, gue gak akan bilang sama siapa siapa, sekarang kita fokus aja dengan perusahaan kita, dan lu mau gue bantuin apa?" Tanya Herry kemudian, memang kan rencana awalnya ia ketemu Zian karena Zian ingin meminta bantuan.


"Tolong urus surat cerai gue, dan lu tolong berikan kepada Kirana, gue gak mau ketemu mereka dulu, hati gue masih sakit."


Dinda yang mendengar ucapan Zian hanya termangu, pantesan permintaannya yang ingin memiliki keponakan lucu dari Kirana tidak pernah terwujud, ternyata ini alasannya. Dia pun menangis sesegukan.


"Loh loh Din, kenapa kau menangis?" Herry panik, begitu pun Zian.


"Gue gagal punya keponakan lucu" ucapnya polos tanpa dosa.


Plaaak.....


Herry pun menjitak kepala Dinda. Dinda hanya meringis kesakitan. Dinda sekarang teringat Kirana, bagaimana keadaan anak itu sekarang.


...******...

__ADS_1


__ADS_2