The Crazy Testament

The Crazy Testament
How are u doing right now?


__ADS_3

...Rindu itu bukan sekedar untuk pasanganmu. Rindu juga kadang terselip untuk sahabat dan juga orang tersayang mu. Rindu ingin bertemu, rindu ingin menatap dan rindu ingin bercengkrama ria....


...(Herry)...


...****************...


Dua bulan tanpa kehadiran CEOnya di ZIHER Group membuat perusahaan otomotif itu sedikit amburadul. Herry yang merangkap sebagai wakil mau tak mau harus menghandle semua pekerjaan yang ditinggal Zian. Bahkan otaknya sampai gila harus menghadapi klien dan juga semua yang bersangkutan dengan Perusahaan. Untung saja ada Rifal yang selalu menjadi bagian untuk membantu Herry.


Ditengah kesibukan yang dia hadapi terkadang terselip keinginan untuk menjenguk sahabatnya Zian di Negeri orang itu. Tapi sebisa mungkin dia menahan, karena mencari kebenaran atas semua musibah yang Zian alami lebih baik daripada mengikuti kata hatinya.


"Her. Her. Herryyyyy..." Teriakan Dinda menggema membuat kuping Herry pengang seketika.


Rifal yang sedang sibuk dengan lembaran-lembaran kertas yang menumpuk didepannya juga tersentak kaget. Bahkan kertas yang ia genggam terlempar berhamburan.


"Astaghfirullah Diin....Kenapa teriak-teriak tanpa sebab" pekik Rifal sambil menutup telinga


"Loh, siapa bilang gue teriak tanpa sebab? noh liat sono" Dinda mengangkat kepalanya tanda menunjuk kearah sesuatu


Rifal beralih melihat arah yang dimaksud Dinda. Ia bingung kenapa Herry melamun sambil mencoret-coret kertas layaknya balita sedang belajar menulis.


"Itu bocah kenapa ya? kok serasa sedang patah hati?" tanya Rifal dengan raut wajah bingung.


"Nah itu dia, gue panggil-panggil tiada harapan sekalipun untuk menjawab panggilan gue, apa yg sedang ia pikirkan" ujar Dinda berhiperbola.


Rifal memutar bola matanya menanggapi perkataan Dinda yang berdramatisir.


"Hadeeh, drama banget sih lu. Udah hampirin sana. tanya ada apa" Rifal kembali menarik selembar kertas didekatnya dan sibuk membaca.


"Huftt..... Kenapa mesti gue coba? Gue kan lagi sibuk" Delik Dinda ke arah Rifal yang dibalas Rifal dengan mata melirik tanda menyuruh Dinda.


Kesal Dinda menghentakkan kakinya tapi tetap berjalan kearah dimana Herry sedang duduk termenung.


Plaaak.....

__ADS_1


Telapak tangan Dinda mendarat sukses di belakang kepala Herry, seketika membuat Herry terlonjak kaget dan spontan mengelus belakang kepalanya.


"Yaaak....anak setan, lu punya masalah hidup apa sih? punya dendam kesumat ya sama gue?" cerocos Herry marah.


Dinda hanya cekikikan melihat amarah di wajah tampan Herry.


"Lu kenapa sih? sekayak lagi patah hati aja" tanya Dinda dengan wajah tiba-tiba serius


Herry masih mengelus kepalanya karena terasa ngilu.. Ia memandang Dinda malas.


"Bukan urusan lu. So, gak usah banyak tanya" jawabnya sewot


"Huftt....Ditanya baik-baik, jawabnya sewot" manyun Dinda.


"Ya Allah, dosakah hamba kalau membunuh manusia durjana yang tidak punya akhlak sama sekali ini?" gerutu Herry


"Astaghfirullah, gue tanya baik-baik malah dibilang gak ada akhlak, Lu bener-bener sarap" ujar Dinda geram


"Nanya baik-baik dari mana? yang ada kepala gue ngilu kena tangan lu" Herry menggigit giginya karena gemas.


"Hehe... Sorry Her, tangan gue gak bisa di ajak kompromi"


"Au ah gelap" jawab Herry ketus terus kembali duduk di kursi kebesaran nya.


"Jan gitu lah Her, gue kan cuma mau tanya, lu kenapa termenung dan merana sekali?" Pertanyaan Dinda membuat raut wajah Herry mengerut sedih.


"Nah kan, tu muka sedih banget gue liat" ucap Dinda lagi.


"Cuma teringat Zian aja, makanya gue gini. Kepikiran sama Masalah Zian yang belum bisa kita pecahkan sama sekali" ucapan Herry membuat Rifal menghentikan aktifitas nya dan beralih menatap Herry


"Sepertinya setelah pekerjaan kita di sini selesai, kita harus bergegas mencari informasi tentang perempuan itu" timpal Rifal serius.


"Harus, ya udah kita selesaikan dulu semuanya" Dinda bersemangat, ia bergegas keluar dari ruangan Herry menuju ruangannya.

__ADS_1


...****************...


Luna pulang kerumah dengan kondisi yang tidak mengenakan. Perutnya sedari tadi terasa mual dan eneg. Di sepanjang jalan ia berjalan gontai, dengan sesekali mual seperti mau muntah, itu membuat dia terpaksa duduk di bangku tunggu halte bus.


Didalam sebuah mobil sedan hitam, netra seorang pemuda tak sengaja menangkap bayangan Luna. Dengan mengernyitkan kening dia menepikan mobilnya.


"Lun, Luna kah?.


Pandangan Luna dan sang pemuda pun bertemu. Luna dengan kesal bangkit ingin melangkah pergi., tapi ia telat, tangan pemuda itu lebih dulu menarik pergelangan tangan Luna.


"Lepas Ndra!" ketus Luna menarik tangannya dari pemuda yang tak lain Indra.


"Hey hey, slow donk Lun. Gue gak gigit lu" sinis Indra terkekeh.


Luna mendelik semakin kesal. "Huft....Lu mendingan pergi dari sini, gue lagi gak mau berdebat sama lu" kesal Luna menatap tajam kearah Indra.


"Waah... Lu garang juga ya sekarang, kenapa? udah lama gak di belai ya?" Indra terkekeh sedangkan Luna sudah merasa tidak nyaman dengan tingkah Indra.


Indra mendekati Luna, Luna dengan risih memundurkan langkahnya.


"Lu mau ngapain?" Indra terus mendekati Luna mendekatkan mulut dan membisikkan sesuatu ke telinga Luna


"Gimana kalau kita bersenang-senang lagi? seperti malam itu?" Luna melotot dan menampar Indra.


Plaaak.....


"Dasar brengsek, lu gak punya otak sama sekali Ndra"


Luna beranjak pergi meninggalkan Indra yang tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Luna masuk kedalam taksi yang ia berhentikan, didalam taksi Luna menangis pilu mengingat nasib sial yang menimpa dirinya.


Sambil mengelus perutnya yang masih rata, ia semakin pusing dan bingung harus melakukan apa setelah ini. Ia merasa Indra benar-benar membuat hidupnya hancur tanpa menyisakan kepingan bahagia. Tetesan-tetesan air bening terus membasahi pipi putih nan mulus milik Luna.


Luna menghela nafas berat untuk menetralkan perasaannya. Atensi beralih menatap jalanan yang taksinya lewati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2