
Pagi ini, hiruk pikuk jalanan sudah rame dengan kendaraan berlalu lalang. Macet tidak bisa dielakkan.
sebuah mobil merk Fortune sedang berjalan dengan tenang menuju bandara, didalam ada Zian dan Kirana yang duduk dibelakangnya, sang pengemudi yang tak lain Chiko dan disebelahnya sang istri Rita.
"Ran,..Dinda udah di hubungi, kalau kamu berangkat pagi ini?" setelah hening berkepanjangan Chiko teringat Dinda.
"Hmm...udah yah, kalau Ran gak kasih tau Dinda, ntar dia nangis terus demam lagi, ayah lupa?" jawab Kirana, matanya menatap jendela samping mobil.
"Hah...?" Zian jadi penasaran
"Jangan kaget Zian, sangking dekatnya mereka berdua, Dinda gak pernah bisa pisah dari Ran, dulu Ran pernah keluar kota ikut ayah perjalanan bisnis, Ran lupa kasih tau, jadi dia seharian nunggu dirumah dan nunggu ditelpon Kirana" jelas Chiko terkekeh
"Terus..." Zian sangat penasaran, sedekat apakah Kirana sama Dinda, sampai Dinda bisa seperti itu.
"Karena sibuk Kirana lupa telpon dia sampai dua hari, dia nangis-nangis sama ibu dirumah, gak pulang-pulang kerumahnya, sampai dua hari dia langsung jatuh demam, semenjak itu Ran selalu disamping dia, lebay sih tapi ibu suka karena dia jadi seperti saudara kandung bagi Ran" sekarang Rita yang berbicara.
"Oh..Dinda sayang sekali sama Ran ternyata, layaknya kakak atau adik kandung" Zian mengangguk ngangguk kan kepalanya, Kirana berbalik menatap Zian.
"Makanya lu harus baik sama gue, kalau lu nyakitin gue, ada orang yang bakalan bela gue mati-matian dan bikin lu hancur" sarkas Kirana
"Ran kok bicaranya gitu sama Zian, yang lembut sama suami" Rita mendikte sambil memijit pelipis matanya
"Hufttt....." Kirana hanya menghela nafas berat ketika mendengar kata 'suami'. apa orang ini bisa dikatakan 'suami' pikirnya.
"Its okey bu, apa yang dikatakan Ran betul, Zian tau diri juga" ucap zian membela Kirana.
'ugh....kesambet apa dia, belain gue' batin Kirana
Ponsel Kirana berdering, ia menatap layarnya terus mengangkat ponselnya.
"Wa'alaikum salam, ada apa Din?"
__ADS_1
"-------------"
"Ooooh....oke, kami juga sudah dekat bandara ini, tunggu aja situ"
"----------------"
"Iya-iya....bawel kali kok, udah tunggu situ oke, aku tutup"
Kirana memasukan kembali ponselnya kedalam tas selempangnya. lalu berbicara kepada sang ayah. Chiko.
"Yah, Dinda udah di bandara sama mama dan papa" tutur Kirana, yang di angguki Chiko.
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa berbicara lagi. Kirana larut dengan pemikirannya, begitu juga Zian. Zian memang tipe tertutup pendiam dan tidak banyak berbicara, ia hanya akan berbicara seperlunya saja.
Oleh karena itu orang tua Kirana, Chiko maupun Rita tidak terlalu banyak bicara kepada Zian. Padahal banyak sekali hal yang ingin Chiko tanyakan kepada menantu satu-satunya itu.
Chiko hanya bisa memperhatikan Zian dari kaca spion tengah, ia jadi ingat Indra. Kepribadian Indra dan Zian sangat berbeda. Indra anaknya sangat terbuka dan ceria, sehingga Chiko sangat cepat beradaptasi dengan Indra.
'Aaah jadi rindu *i*ndra' batinnya, ia langsung menaikan kecepatan menuju bandara.
...***...
"Kamu gak bakalan lama kan Honeymoonnya?" tanya Dinda
"Alhamdulillah nya gak, ngapain lama-lama sekali, aku kan ada kuliah dan juga kerja" jawab Kirana dengan senyum
"Huuftt....Alhamdulillah kalau gitu, aku gak mau sendiri dan kesepian dikampus" ucapnya sendu
"Ahahaha.....tenang aja gak bakalan lama kok" jawab Kirana
"Zian, jagain Kirana, jangan sampai lecet" titah Dinda menunjuk Zian.
__ADS_1
"Ya ampun Din, Dinda udah kayak ibunya Ran tau, tenang aja Zian pasti bakalan jagain Ran" Karina geleng-geleng melihat protektifnya Dinda terhadap Kirana.
"Hahaha,....biarin aja jeng, memang Dinda protektif banget sama Ran, aku suka kok jeng" ucap Rita memandang Dinda lembut. Dinda langsung senang dan memeluk Rita.
"I lope u ibu" ucapnya mencium pipi Rita, Rita hanya terkekeh gemas.
"Jangan dimanjain kali bu, ntar dia ngelunjak" kekeh Kirana geli, apalagi melihat Dinda yang sudah memoutkan mulutnya. Gemas.
Terkadang Dinda akan menjelma bak bocah kecil, Kirana memaklumi karena ia anak bungsu di keluarganya, tapi terkadang ia akan menjadi sangat dewasa, yang bisa memecahkan masalah masalah yang mereka berdua hadapi.
Kirana bersyukur memiliki Dinda setelah kepergian Indra. Di sisi lain, Zian hanya diam tanpa bersuara sama sekali, pandangannya hanya menatap Kirana.
"Uluh uluh....ada yang mandang sampai tuh mata mau keluar dari kepala" seseorang datang dengan sebuah koper ditangan.
Itu adalah Herry, ia berencana kembali ke Texas untuk membereskan urusannya dan juga urusan Zian. Zian dan Herry berencana membuka perusahaan di Indonesia. Jadi mereka akan mengundurkan diri dari perusahaan di Texas
"Kau mau kemana nak?" tanya Teguh, ia tak tau sama sekali bahwa Herry akan kembali ke Texas.
"Balik Texas pa, ada yang perlu Herry selesain, termasuk selesain berkas Zian. Setelah itu Herry balik kesini lagi, Herry mau menetap disini" jelas Herry, Teguh mengangguk mengerti
"Oh...jadi kalian berangkat bareng ini?" tanya Chiko,
"Iya yah,...tapi kami pisah di Swiss" Jawab Zian
Lima menit kemudian mereka bertiga pun masuk untuk melakukan chek in. Sebelum chek in, mereka berpamitan. Jangan ditanya, Dinda sudah banjir airmata. Ia bahkan tidak mau melepas ujung cardigan Kirana.
Kirana hanya tertawa melihat tingkah aneh sahabatnya ini. Zian juga ikut tersenyum melihatnya. Setelah dua menit bergulat dengan kelakuan Dinda. Akhirnya mereka sekarang berada didalam pesawat.
Tidak ada yang berbicara. Zian hanya diam begitu pun Kirana. Ia hanya memandang keluar jendela menatap putihnya awan dilangit.
Dalam diam, Zian memperhatikan Kirana dan tersenyum
__ADS_1
'Dia cantik' hatinya bergetar dan berdebar, tapi sekuat tenaga ia menepis perasaannya.
...***...