
Semenjak pulang dari Resort dengan Zian, Kirana jadi senyum senyum sendiri. Mau ngapain aja tersenyum sendiri, bahkan saat ini ia sedang menonton televisi dengan tersenyum, padahal gambar di televisi itu bukan hal yang harus di senyumi.
Bahkan sekarang pipinya sudah bersemu merah, apalagi ketika mengingat kejadian yang ia alami. Seketika rasa Rindu menyeruak menusuk hatinya, ingin sekali ia mendengar suara sensual sang suami lagi.
televisi terus menampilkan berbagai gambar tapi penontonnya malah senyum senyum gak jelas. Melihat putrinya sedang tersenyum tanpa melihat televisi, Rita mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya. Jadi ia yang sibuk didapur pun mendekati putrinya itu.
"Ran, ibu perhatiin dari tadi, kamu kok ya kayak gak waras nak ya? kamu ini kenapa toh?" Tanya Rita,
Ternyata yang ditanya malah gak ngeh dan masih senyum bahkan terkekeh sendiri. Rita semakin bergidik ngeri melihatnya.
"Astagfirullah....Ran...Ran, ngucap nak, sayang!!" teriak Rita membuat Kirana terlonjak kaget.
Kirana menatap Rita dengan wajah terkejut,
"Ya Allah bu, kenapa suaranya segede toa di mesjid? kaget banget Ran" ucapnya sambil mengelus dadanya.
"Lah kamu ini, ibu dari tadi ngomong, gak ditanggepin, pas dipanggil kamu gak jawab, ya ibu pikir kamu kesambet"
Rita mendekati putrinya, duduk disamping sambil meraba suhu tubuh Kirana, ia menempelkan tangannya ke dahi dan terakhir turun ke leher, betapa shocknya Rita ketika melihat banyak tanda merah di leher Kirana. Ia langsung berdehem.
"Ehem...pantesan rambut basah" goda Rita.
Kirana yang mengerti, langsung menarik rambutnya dan menutupi bekas merah dilehernya.
"Ibuuuu....." rengek Kirana.
"Bentar lagi bakalan punya cucu ibu"
Rita semakin menggoda Kirana, bukan apa apa, sudah setahun Kirana dan Zian menikah, tapi harapan Rita dan Chiko untuk menimang cucu belum tercapai kan. Dan kali ini ia menaruh harapan besar itu.
"Doakan saja bu, Zian menginginkannya"
__ADS_1
Ternyata ketika Zian mengelus perutnya kemarin, Kirana tau maksud dari pemuda tersebut, dan Kirana membiarkannya saja.
"Jadi kalian tidak akan menundanya lagi kan sekarang?"
Lagi? Hello bu, Kirana dan Zian baru melakukannya sekali bu. Teriak Kirana dalam hati.
"Insya Allah bu, doain aja kami" senyum Kirana, Rita sangat bahagia, ia memeluk anak semata wayangnya itu.
"Ibu harap, rumah tangga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan tanpa adanya pengganggu. Jalani dengan Zian, Ran. Lupakan lah Indra sebagai cinta pertamamu, anggap Indra hanya sebatas sahabatmu Ran"
Nasehat Rita membuat hati dan pikiran Kirana kembali bingung. Tapi ia bersyukur Rita selalu mengertinya. Ntah kenapa ia benar benar merindui suaminya sekarang.
...******...
Zian sudah beres dengan urusan kantornya, ketika ia keluar ia menemukan Indra yang sedang berdiri menyandar di badan mobilnya dengan angkuh. Melihat Indra, Zian hanya acuh dan melewati nya menuju mobil.
"Wah wah wah....sombong sekali lu Zi, lu tak ingat kalau gue ini orang yang dulu lu sebut saudara?" Cibir Indra
"Lu mau apa Ndra? gak puas lu udah fitnah gue, lu yang ninggalin gue dan lari. Mungkin itu hukuman karena lu ninggalin gue di asrama dalam keadaan terluka untuk menyelamatkan diri sendiri, eh lu malah lari ke gedung yang lebih berbahaya" ujar Zian.
(Flashback On)
"Ndra, Ndra...Banguun, terjadi ledakan di gedung X Ndra, kita harus segera evakuasi," teriak Zian yang kebetulan satu kamar dengan Indra
"Apa? lu gak bercanda kan Zi, ya udah tunggu apalagi, kita pergi sekarang"
Indra bangun dan berlari, tapi ia sempat berhenti karena dipanggil Zian, ledakan demi ledakan terus terdengar.
"Tunggu dulu Ndra, Herry belum aku kasih tau, Herry sendiri sekarang, Rifal kan udah pulang Ndra,"
"Lu gila Zi, bisa koid kita kalau menuju ke asrama Herry, itu kan dekat gedung X" bentak Indra
__ADS_1
"Tapi Ndra, Herry sahabat kita, saudara kita" lirih Zian,
"Aah terserah lu, gue gak mau ikut campur, gue duluan aja"
Ketika Indra akan meninggalkan Zian, tiba tiba asrama mereka meledak, membuat api menyebar, Zian juga tertimpa puing reruntuhan, sedangkan Indra hanya terpelanting jatuh dengan luka lecet.
"Zi....Zian" teriak Indra, Zian berusaha melambaikan tangannya karena badannya sakit tertimpa puing.
"Ndra, to-tolong gue,"
Indra mendekat menuntun Zian duduk di dinding bangunan. Mereka kembali mendengar ledakan bertubi tubi. Mereka berdua panik dan cemas. Ntah setan apa yang merasuki Indra, ia bangkit dan berlalu meninggalkan Zian.
"Sorry Zi, aku gak mau ambil resiko, lebih baik aku pergi duluan, semoga ada yang nemuin lu" ucap Indra melangkah pergi tanpa peduli panggilan Zian.
^^^(Flashback End)^^^
"Gue bersyukur masih punya saudara yang laen, yang benar benar tulus menyayangi gue layaknya saudara kandung, dia rela berlari seperti orang kesetanan mencari gue dalam puing puing bangunan, dan Alhamdulillah dia menemukan gue walau dalam keadaan tak sadarkan diri"
Zian tersenyum sinis, Indra hanya diam mematung menyimak setiap kata kata Zian.
"Gue gak nyangka setelah gue sadar, gue malah dapat berita kalau lu salah jalan dan terkena ledakan dan gak selamat, lu pikir setelah gue dengar gue senang, gue shock Ndra, gue sedih karena lu dinyatakan tewas ditempat kejadian. Tapi lu pulang pulang malah memfitnah gue, benar kata saudara gue Herry, lu manusia yang sangat kejam."
Zian membuka pintu mobilnya tapi tangannya ditahan oleh Indra.
"Lu gak usah berdrama Zi, gue datang kesini bukan mau mendengar keluhan dan drama lu, gue kesini cuma mau ngingatin lu untuk secepatnya menceraikan Ran" angkuh Indra, ternyata perkataan Zian tidak sedikitpun mengetuk hati batu Indra.
"Kalau gue gak mau, apa yang akan lu perbuat?" Zian menatap dingin kearah Indra.
"Kalau lu gak mau ceraikan Kirana, gue akan membuat lu menyesal Zi" ancam Indra.
Zian tidak mendengarnya lagi, terlalu lelah menghadapi kekeras kepalaan Indra. Ia masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya, Indra hanya menatap mobil silver milik Zian menjauh.Ia mengepalkan tangannya dan berlalu pergi dari situ.
__ADS_1
"Kau liat saja nanti Zi, aku akan merebut Kirana dari hidupmu" gumam Indra sambil memukul mukul stir mobilnya.
...******...