The Crazy Testament

The Crazy Testament
Meet Again


__ADS_3

Melihat Dinda yang menyeringai, Zian memberanikan diri bertanya.


"Ada apa dengan seringaian kejam itu?" tanya Zian membuat Dinda terkekeh pelan


"Aku punya ide, lu mau ikutin perkataan gue gak? ide gue kayaknya cukup membuat Indra berpikir ulang untuk membuat kalian bercerai" Yakin Dinda tersenyum


"Berapa persen keberhasilannya?" Herry sok gaya bertanya persen persenan


"Ck...gaya lu. gue yakin 100%, dan kalau sampai berhasil Kirana gak bakalan ninggalin lu dan juga lu jangan sampai ninggalin Kirana, cuma lu harus ikut dalam rencana gue" ucap Dinda lagi.


"Lu punya ide apa sih Din? jangan ide yang aneh deh, gue gak mau kalau sampai Kirana kenapa napa" Zian menolak, membuat Dinda menatap tajam ke arahnya.


"Lu ikut rencana gue aja, ini bakalan berhasil, kalau lu memang mau memperjuangkan Kirana, kalau gak ya udah gue juga gak bakalan mau bantu lagi"


"Udaah,! setuju aja Zian, mungkin rencana Dinda bagus kan kita belum dengar juga rencananya apa" timpal Rifal meyakinkan sahabatnya itu.


Zian berpikir sejenak, ia menatap Dinda lamat.


"Ya udah gue setuju, apa memang rencana lu?"


Pertanyaan Zian membuat Dinda memajukan tubuhnya sambil melambaikan tangannya memanggil mereka untuk mendekat. setelah mereka melingkar, Dinda pun menjelaskan apa rencananya dan apa yang harus Zian lakukan. Zian akhirnya tersenyum cerah.


...******...


Drrrt.....Drrttt.....Drrttt.....


Kirana menatap sekilas gawainya yang bergetar tak karuan di atas ranjangnya. Ia melihat nama Dinda tertera disana, ia menghela nafas berlalu mengambil ponselnya dan mendekatkan ketelinga.


"Assalamualaikum, ada apa Din?" lirihnya


"Waalaikumsalam, kenapa suara mu lemas dan serak banget?" suara Dinda disana panik.


"Gak pa pa, hanya--" Belum selesai,Dinda langsung memotong perkataan Kirana.


"Kamu sakit atau habis nangis?" tebak Dinda


"Hufftttt.....aku gak pa pa, ada apa kamu telpon?"


Kirana mengalihkan pembicaraan, tapi Dinda adalah manusia paling peka, jadi dia tau kalau Kirana habis menangis.


"Besok jalan yuk, jam 9 aku jemput, kamu gak da janji sama siapa siapa kan? termasuk sama si play--...eh sama si kere?"


Hampir saja Dinda keceplosan bilang playboy, takutnya Kirana malah membela Indra dan rencananya gagal.


"Gak, aku lagi gak mau ketemu dia, dia berubah, hiks.."

__ADS_1


Airmata Kirana tumpah lagi, pasalnya ia ingat Zian dan ingat paksaan Indra agar mereka bercerai.


"Ya udah kalau begitu, besok aku jemput, kita jalan jalan menghilangkan stress..oke.."


Suara Dinda sangat antusias dan senang, membuat Kirana sedikit mengernyitkan dahinya bingung, tapi ia tidak berencana menanyakannya, baginya Dinda selalu bersemangat setiap hari.


"Oke"jawabnya singkat.


Kirana pun menutup ponselnya, membaringkan tubuhnya dan terlelap.


...******...


Esoknya Kirana di jemput oleh Dinda, Dinda berencana akan membawa Kirana berkeliling mall.


"Mata mu sembab dan wajahmu muram amat Ran" Panik Dinda ketika Kirana mendudukan dirinya disamping Dinda.


"Udah jalan aja terus, aku gak pa pa" ucapnya membuat Dinda mendengus kesal.


Perjalanan ke mall memakan waktu yang sangat lama bagi Dinda, karena Kirana yang memang tidak punya semangat hanya mendiami Dinda tanpa berniat bersuara sedikitpun, alhasil Dinda juga ikut mendiami Kirana.


20 menit kemudian, mobil mereka memasuki halaman sebuah mall terkenal di daerah mereka. Mereka berdua langsung melangkah masuk. Sebelum itu Dinda sempat memegang ponselnya mengetik sesuatu mengirim ke seseorang, setelah itu ia menyimpan ponselnya dan menyeringai.


"Kau ngapain disitu? gak jadi ke mallnya? kalau gitu pulang aja" ketus Kirana, Dinda mendelik bingung


"Lah kamunya gitu loh, gak lagi dapet, kesal aja, ayo ah masuk" Ajak Kirana menarik tangan Dinda.


Dinda mengikuti Kirana dan mensejajarkan kaki mereka.


"Ran, mau makan dulu gak? aku lapeeer" rengek Dinda bergelayut di lengan Kirana


"Oke" balasnya singkat.


Ketika akan memasuki sebuah restoran, Kirana tidak sengaja menabrak seseorang, dan membeku ketika seseorang itu membentaknya.


"Kalau jalan itu pake mata donk, jangan pake dengkul" Bentaknya memegang dadanya yang sakit sambil menunduk.


"Z-zian?" panggilnya terbata bata. Orang yang disebut namanya langsung mendongak


"Raan?" serunya kagetnya


"Oh my god, Ziaan, aku gak percaya bisa ketemu lu disini? lu ada acara apa? sama siapa?" pertanyaan Dinda bertubi tubi kepada Zian, Zian hanya tersenyum tipis.


Tiba tiba dari belakang muncul dua orang curut, siapa lagi kalau bukan Herry dan Rifal. Bukankah semua ini seperti rencana mereka.


(Flashback On)

__ADS_1


"Aku mau ajak Kirana jalan jalan, ke mall atau apa itu agar kalian berdua bisa bertemu" Dinda


"Untuk apa lu membuat gue dan Ran ketemu, gue kan dah bilang gak mau ketemu sama Ran"


Plak...


*Jitakan mendarat dikepala Zian, pelakunya Dinda*.


"Kan tadi perjanjian mau Kirana balik, gimana sih" Zian cengengesan.


"Lu belum sentuh Ran sama sekali kan?" Dinda


"Apa hubungannya coba maemunah?" Herry


"Lu diem aja deh bambang, gue gak butuh pendapat lu"


Dinda


"Memang lu punya rencana apa sih Din, ngeri gue liat lu begini" Rifal


"Ho oh, keknya otak Dinda berpikiran mesum ini" Herry menebak


"Ada apa sih Din? lu bilang terus terang deh, gue pegel dengan posisi begini" Zian mengeluh, pasalnya posisi mereka kan berdekatan dengan saling melingkar. Mereka pun kembali keposisi nyaman.


"Maksud gue giniii... lu kan pura puranya mau cerai dari Kirana, nah lu minta imbalan gitu, lu kan belum nyentuh Kirana sama sekali, nah lu bikin tu Kirana Hamil, otomatis si Indra kere itu gak bakalan ganggu lu sama Kirana lagi, karena Kirana gak bakalan ceraiin lu, dan ayah sama ibu bakalan berdiri disebelah lu, dan gue juga bakalan punya ponaan...hehehe"


Mereka semua mendelik menatap Dinda tajam, memang otak Dinda mesumnya luar biasa. Tapi ide Dinda bagus juga, Zian sampe tersenyum cerah.


"Ide lu bagus Din, gue mau ikut rencana lu" Ucap Zian senang.


"Tapi lu pura pura marah sama Kirana, pokoknya bikin Kirana mau menurutin permintaan lu, jangan sampai Kirana curiga terutama jangan sampai Indra tau" Dinda memberi ultimatum.


Mereka semua mengangkat jempol atas ide Dinda, walau agak mesum mereka tetap setuju dan menjalaninya.


^^^(Flashback End)^^^


Dinda menatap dua anak manusia didepannya ini, mereka masih diam tanpa ada kata yang berarti, membuat ketiga sahabatnya jengah melihat tingkah mereka. Tapi sejurus kemudian Zian mengangkat suara.


"Aku mau bicara sama kamu, berdua" datar Zian


"Hmm....baiklah" sendu Kirana, ia sedih mendengar suara Zian yang sangat datar dan dingin.


"Ikut aku" Zian lalu bangkit menuju sebuah meja di sudut restoran tersebut, Kirana hanya mengikutinya pasrah.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2