
...Bisakah aku mempercayaimu?...
...Bisakah aku percaya pada mu, setelah apa yang terjadi?...
...Dimana janji mu, yang kau katakan kau sangat mencintaiku? semua hanyalah kebohongan belaka....
...Kau hanyalah seorang pembohong yang mengatasnamakan CINTA....
...Kirana Richita...
...****************...
Kirana berlari memasuki rumah tatkala mobil mereka tiba di halaman rumah orang tuanya. Ia bahkan mengabaikan panggilan Dinda dan juga ibu beserta ayahnya yang bingung melihat anak semata wayangnya masuk tanpa memberi salam.
"Ada apa?" tanya Chiko heran kepada Dinda
"Din, ada apa sama Ran? sepertinya dia sedang menangis?" tanya Rita lagi, kali ini dia mengguncang bahu Dinda.
Dinda bingung harus menjelaskan bagaimana, sampai suara mobil memasuki halaman terdengar. Sepertinya Zian dan Herry datang menyusul mereka. Zian langsung masuk kedalam rumah dan menghiraukan panggilan Chiko mertuanya. Ia menuju kamar mendapati Kirana yang sedang menangis sesegukan.
"Sayang... Beby... " Zian memanggil Kirana dan berlutut dihadapan Kirana yang sedang duduk ditepi ranjang
"Kenapa kau kemari?" nada bicara Kirana tidak menyiratkan kelembutan lagi.
"Apa kamu benar-benar tidak percaya dengan ku Ran?" sendu Zian menatap manik bening Kirana yang sudah memerah.
Kirana hanya diam. Ia memalingkan wajahnya tak sanggup menatap mata Zian suaminya. Tapi rasa benci di hati masih meluap dan membuncah menguasai hati. Hingga rasa percaya melebur ntah kemana. Ia ingin percaya, tapi kejadian satu jam yang lalu tidak bisa ia terima.
"Aku butuh waktu. Aku mohon pergilah dari hadapan ku" ucapan Kirana sungguh membuat Zian sedih tidak terhingga. Ia begitu terpukul mendengar Kirana menyuruh nya pergi.
Di lain sisi. Chiko dan Rita masih memaksa ketiga sahabat Kirana dan Zian untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dinda menjelaskan pada kedua orang tua Kirana apa yang telah terjadi di hotel tadi. Chiko murka, dia tidak menyangka menantunya yang baik dimatanya bisa melakukan hal yang menjijikan seperti itu.
"APA.... Kurang ajar sekali Zian, apa dia tidak puas sudah menikah dengan anak ku sekarang malah bermain bersama wanita lain" marah Chiko. Rita menatap tajam ke arah nya.
"Yah... kenapa ayah jadi emosi gini. Kita kan gak tau masalah sebenarnya. Lebih baik kita dengar penjelasan Zian dulu"
"Penjelasan apa? Semua yang dikatakan Dinda sudah menyiratkan bahwa Zian selingkuh" mata Chiko merah nyalang, nafasnya memburu karena marah
__ADS_1
"Tapi yah, kita memang perlu mendengar penjelasan Zian dulu, baru bisa menyimpulkan" Herry tetap membela Zian walau dia belum tau kejadian sebenarnya.
Chiko mendengus kesal, ia mendudukan pantatnya disofa dengan kasar. Begitupun yang lain, mereka memposisikan diri di sofa dengan raut wajah berbeda-beda. Pikiran mereka semua tertuju ke pada dua anak manusia yang masih saja berdebat di dalam kamar sana.
"Pleasee Ran,!! Tidak bisakah kamu mempercayai aku, kalau aku takkan pernah berbuat zina dengan wanita lain" Zian bertekuk lutut dihadapan Kirana yang posisi duduknya di tepi ranjang.
"Coba Jelaskan pada ku, kenapa kau bisa ada di ranjang hotel bersama wanita lain?" Kirana meminta penjelasan pada Zian tanpa memandang Zian sama sekali
(Flashback On)
Setelah Zian meeting dengan para karyawan termasuk Herry, Zian pamit pulang karena merasa tidak enak badan. Dia merasa meriang.
"Her, tolong handle dulu kantor. Gue mau pulang, gak enak banget badan gue. Kayak kekurangan asupan aja" ucapnya sambil mengemasi tasnya
"Asupan apa?" heran Herry mengernyitkan dahinya
"Gizi... Dah lah, gue mau pulang dulu"
Zian berlalu meninggalkan Herry dengan raut kebingungan. Tapi Herry tetap menjalankan perintah Zian. Zian keluar menuju parkiran dimana mobil nya terparkir. Tapi tiba-tiba ia merasa pusing dan pingsan karena seseorang menyuntikkan obat bius dilehernya.
^^^(Flashback End)^^^
"Pergilah! Aku butuh waktu untuk mencerna semua kejadian ini" lirih Kirana, membuat hati Zian mencelos.
Bagaimana mungkin istri yang sangat dia cintai menyuruhnya pergi, walau dengan alasan butuh waktu. Hati Zian sakit dan kecewa, kenapa Kirana tidak mempercayai dirinya. Apakah mata hati Kirana sudah tertutupi sampai tidak bisa melihat betapa cintanya Zian padanya. Bahkan berpikir untuk berselingkuh saja ia tak pernah.
"Apakah kamu benar-benar tidak mempercayai ku sama sekali Ran?" akhirnya Zian bertanya.
"Huftt.... " helaan nafas berat terdengar dari Kirana
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku Ran?" Zian hampir kehilangan kesabaran, tapi dengan keras ia berusaha mengendalikannya.
Tiba-tiba dengan wajah penuh amarah, Chiko menghampiri, menarik tangan Zian dan menyeret Zian dengan kasar menghempaskan Zian keluar dari rumah. Zian hanya bisa pasrah, ia tidak memberontak lagi karena melihat sikap Kirana yang sama sekali tidak berusaha mempercayai nya.
Hatinya sakit dan kecewa, perasaannya hancur lebur, secepat itu Kirana, ayah dan ibu mengambil keputusan tanpa mendengar penjelasannya. Apalagi ayah mertuanya yang sama sekali tidak percaya dan kecewa padanya.
"Sekarang kau pergi dari sini, jangan pernah kau injak kan kaki lagi kesini, saya kecewa punya menantu seperti mu" ucapan Chiko membuat hati Zian benar-benar seperti ditusuk beribu pisau.
__ADS_1
"Yah... tidak bisakah ayah melihat kesetiaan ku selama ini kepada Ran sampai ayah tega mengatakan itu padaku" Zian berkata tanpa tenaga sedikitpun lagi.
"Kau dengar, perbuatan mu ini sangat menyakiti Ran, dan itu juga menyakiti ku. Lebih baik kau pergi sekarang! dan kalau bisa ceraikan Ran!"
Bagai petir menyambar di siang bolong semua yang berada disitu sangat terkejut dengan perkataan Chiko. Zian dan Kirana saling memandang, tatapan sendu Zian bertemu dengan mata bening Kirana yang sudah berlinang air mata. Zian berharap Kirana membantah ucapan Chiko, tapi ternyata tidak. Kirana malah memalingkan wajahnya ketika pandangan mereka bertemu.
Lain halnya Rita ibu Kirana, dia membantah membela menantunya. Tapi Chiko kepalang emosi, dia tidak mendengar Rita istrinya dan malah meninggalkan mereka semua masuk kedalam kamar.
"Yah. Ayah kenapa malah ngomong begitu sih, semua masalah ini harus di selesaikan dengan baik-baik, bukan malah seenak jidat menyuruh mereka bercerai" sanggah Rita. Chiko hanya menatap Rita sekilas dan berlalu meninggalkan mereka.
"Ayah mau istirahat, Ran masuk kamar istirahat lah. Dan kamu pulang kerumah mu dan jangan datang lagi" setelah itu Chiko masuk kamar
Zian hanya menatap sendu Rita, Kirana pun menaiki anak tangga dengan lemas. Zian bergegas ingin membantu, tapi lagi-lagi mendapat penolakan dari Kirana. Kirana menepis tangan Zian. Tapi bukan perlakuan Kirana itu yang membuat Zian hancur, tapi ucapan Kirana yang membuat Zian mengambil keputusan.
"Jangan sentuh aku, pergi dari sini! Aku gak ingin lihat kamu disini lagi. Tinggalin aku, ikuti kata ayah ceraikan aku!" Zian menatap lamat kepada Kirana.
"Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat mu menyesal Ran" Herry berujar, sudah cukup dia diam sedari tadi.
"Iya Ran, belum tentu yang kamu lihat seperti itu kejadiannya" Dinda juga ikut membela Zian, karena setau dia Zian bukanlah lelaki bermata keranjang
"Gue percaya sahabat gue gak bakalan melakukan hal kotor seperti itu" sekarang Rifal yang bersuara membela Zian.
"Mata kalian bertiga buta? apa kalian gak melihat apa yang terjadi? Wanita itu juga mengakui semuanya, dan kamu Din, kenapa kamu malah membela Zian ketimbang aku sahabat mu?" Dinda terdiam ketika Kirana bertanya seperti itu, bukan maksudnya membela Zian, tapi dia hanya ingin mengatakan pendapatnya yang lebih mempercayai Zian dibandingkan yang terlihat.
"Bukan gitu Ran, hanya saja--" belum habis Dinda membela diri Zian memotong omongan Dinda.
"Sudah lah Din, lu gak usah belain gue. Biarin Ran berspekulasi apa aja, gue lelah menjelaskan padanya. Percuma, dia tetap gak percaya" Zian menarik nafas sejenak kemudian matanya menatap sayu Kirana
"Ran, karena kamu ingin aku pergi, aku pergi sesuai keinginan mu dan Demi dirimu Ran. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku tak pernah menghianati mu. Sungguh aku sangat mencintaimu. Dan kamu Din, tolong jaga Ran ini permintaan gue pada lu Din. Ayo Her, Fal"
Zian, Herry dan Rifal meninggalkan kediaman Kirana dengan perasaan bercampur aduk. Terutama Zian, sepanjang perjalanan dia menangis sesegukan, Herry dan Rifal hanya diam tanpa bisa mengatakan apa-apa sekedar menghibur. Karena bagi mereka Zian memang butuh menumpahkan airmatanya.
Sama halnya dengan Kirana, dia juga menangis tanpa henti. Rita sudah berulang kali menasehati nya agar jangan terlalu menangis karena takut Kirana jatuh sakit, tetap saja Kirana tidak mendengarnya.
"Jaga diri baik-baik beby sayang, aku sangat mencintaimu" Lirih Zian dalam hati
...**********...
__ADS_1
...Hallo readers semua... Thanks yang selalu mendukung dan setia membaca tulisan yang amburadul dan telat update ini.. Selamat membaca🤗🤗...