
Keesokan Harinya..
Cinta menyipitkan matanya menatap kearah jendela. ada secercah cahaya yang mengintip dari balik tirai membuat pandanganya sedikit silau.
"Sudah pagi, Jam berapa ini?" Cinta melihat Jam dinding yang ada di kamar itu ternyata menunjukkan pukul 08.00
"Apa?? Pukul 8?? Astaga aku kesiangan aku kan harus berangkat...." belum selesai Cinta berbicara tiba tiba Sabda terbangun karena mendengar ucapan Cinta yang berteriak disebelahnya.
"Lo gila ya teriak teriak pagi gini!" Seru Sabda yang merasa tidurnya terganggu.
"Kamu!! Ya Tuhan kamu ngapain tidur di kamar aku?" Cinta yang belum sadar betul seolah tidak ingat bahwa Sabda sudah Sah menjadi suaminya. dan dia sedang berada di rumah Sabda.
"Lo abis kebentur ya dalam mimpi sampe jadi amnesia gitu! Ini Kamar gue, kan lo udah jadi istri gue cinta!" Sahut Sabda dengan suara setengah berteriak di telinga cinta.
"Apa? Ya ampun aku lupa. Maaf ya. tadi belum sadar banget. Aku kesiangan bangun nya Mama dan Papa pasti ngira aku nggak pantes deh jadi menantunya" Ujar Cinta.
"Sejak kapan Lo mikirin orang tua gue. Lo kalo mau tidur lagi tidur aja. nggak perlu ngerasa nggak enakan. Mama Papa gue nggak akan marah sama Lo kok mereka ngertiin." Sahut Sabda.
"Aku emang cuma istri sementara kamu Sabda. tapi orang tua kamu nggak tahu apa apa. lagian mereka baik sama aku. kalaupun nanti kita pisah aku juga masih akan terus menganggap mereka seperti orang tua aku sendiri" Ucap Cinta yang langsung beranjak turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Sabda mengacak acak rambutnya. ia merasa frustasi. entah kenapa semenjak mengenal cinta ia jadi lemah dan tidak bisa bersikap seenaknya seperti dulu.
"Lo udah gila Sabda!" Serunya dalam hati.
Cinta turun kebawah menuju meja makan. ia bermaksud menyapa Mama dan Papa mertuanya.
benar saja. Delia sudah menunggu kedatangan Cinta di ruang makan.
"Cinta sayang.. kamu kok udah bangun sih. kalau masih ngantuk tidur aja lagi.. Nggak apa apa kok" Ujar Delia dengan penuh senyuman.
"Mana boleh seperti itu Ma, Pa. maaf Cinta terlambat bangun hari ini. seharusnya cinta bangun lebih awal."
__ADS_1
"Kamu nggak perlu minta maaf Cinta. iyakan Pah?"
"Iya Cinta sini duduk. Papa Mau bicara. Oiya Sabda belum bangun?"
"Sabda tadi sudah bangun tapi sepertinya tidur lagi Pa,"
"Yasudah biarakan saja. Papa mau bicara sama kamu aja. duduklah dulu.."
"Baik Pa," Cinta pun duduk tepat dihadapan Mama dan Papa mertuanya.
"Ayo sayang dimakan sarapanya"
"Iya Ma, Terimakasih" Cinta pun pelan pelan mulai mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat pada rotinya lalu memakanya sedikit demi sedikit.
"Cinta apa kamu dan Sabda menikah atas dasar saling menyukai satu sama lain?" Pertanyaan Pramana Barusan sungguh diluar dugaan hingga membuat Cinta terkesiap sampai tersedak.
"Ukhuuukk.."
"Astaga Cinta Hati hati Sayang. ini minumlah dulu. kenapa bisa sampai tersedak begitu," Gumam delia sambil menyodorkan segelas Air putih untuk Cinta. lalu Cinta pun meneguknya habis.
"Papa kenapa pertanyaan kamu aneh aneh saja sih. Cinta dan Sabda sudah pasti saling mencintai lah Pa" Seru Delia menanggapi pertanyaan Pramana barusan.
Wajah Cinta semakin gugup ia menatap wajah Pramana sepertinya ada sesuatu yang di ketahui Pramana. Cinta kali ini bahkan merasa sangat lemah dan gemetar. ia tidak bisa menjawab pertanyaan Ayah Mertuanya itu.
"Cinta kenapa kamu diam? Apakah pertanyaanku sulit kamu jawab? atau ada yang kamu dan sabda sembunyikan dari kami?" Tanya Pramana lagi yang membuat Cinta semakin sulit untuk menjawab.
Di tengah kejadian itu akhirnya Sabda Turun dari kamarnya. ia mulai menuruni Anak tangga dan segera menuju dapur. entah kenapa ia malah ingin segera menyusul Cinta ia cemas kalau kalau Cinta di tanya yang macam macam oleh Papanya.
Kecemasan Sabda ternyata benar. Cinta saat ini sedang tertunduk tidak berani menatap wajah Ayah mertuanya itu. Pasti ada yang terjadi pikir sabda saat itu.
"Morning semua.. Kenapa pada sepi begini. udah kayak sedang mengheningkan cipta aja deh." Ujar Sabda yang langsung terduduk di salah satu kursi kosong yang ada di sebelah cinta.
__ADS_1
Sabda melirik Cinta yang sepertinya terlihat ketakutan. ia semakin penasaran sebenarnya apa yang barusan Papanya bicarakan dengan Cinta sampai Cinta terlihat begitu gugupnya.
**
"Sayang, pertanyaan kamu itu sebaiknya nggak perlu loh. kamu ada ada aja sih bikin cinta yang speechless gitu jadinya" Ujar delia lagi.
"Memang Papa nanya apa sama Cinta? Sabda mau tahu juga Pa!" Tutur Sabda menimpali ucapan Mamanya barusan.
"Sabda, Katakan Pada Papa apa kamu dan Cinta menikah atas dasar saling mencintai satu sama lain?" Tanya Praman yang kali ini sudah menatap tajam mata Sabda dan juga Cinta.
"Kenapa Papa tiba tiba bertanya seperti itu?" Jawab Sabda yang akhirnya mengerti kenapa Cinta sampai segugup itu ternyata Papanya mulai bertanyaa hal yang seperti ini. tapi ia berusaha tetap tenang menghadapi Papanya itu.
"Kalau Papa katakan kepada kalian berdua bahwa Papa sudah tahu kesepakatan kalian berdua saat sebelum menikah. apa kalian mau berterus terang pada Papa sekarang Juga?" Pertanyaan Itu Bak Petir di siang bolong seolah sanggup menyambar pertahanan Sabda dan Cinta.
Cinta semakin menundukkan pandanganya. sekujur tubuhnya bergetar hebat. keringatnya mulai bercucuran ia sangat ketakutan seorang Pramana yang dikenal memiliki kekayaan tidak terbatas dan juga kekuasaan yang tidak di ragukan lagi. justru telah mengetahui kebohongan yang ia lakukan.
Apakah ia akan di hukum gantung saat ini. itu yang ada di pikiran Cinta. ia lemah bahkan sudah tidak sanggup menggerakkan bibirnya lagi.
"Apa maksud Papa bilang seperti itu Pa? Kesepakatan Apa? Katakan Pa?" Delia mulai merasa penasaran apa yang dimaksud Pramana saat itu.
Sabda melihat Cinta yang sudah semakin ketakutan. ia perlahan meraih tangan Cinta dan menggenggamnya. Seolah mengisyaratkan agar Cinta tenang tidak perlu cemas karena Sabda akan melindunginya.
Sedangkan Cinta hanya menunduk bahkan tidak berani melirik Sabda.
"Apa yang Papa tahu? Semua yang papa tahu mungkin memang benar. Tapi satu yang Papa harus tahu. bahwa Cinta tidak bersalah. ini semua murni kesalahan Sabda. Sabda yang meminta Cinta untuk menjadi istri Sabda.
Karena Sabda tidak mau di jodohkan oleh Papa. saat itu Cinta mengalami kesulitan lalu Sabda mencoba memberikan penawaran padanya. dan ia sama sekali tidak mengambil lebih dari apa yang benar benar ia butuhkan saat itu Pa," Tutur Sabda dengan Penuh keyakinan tanpa rasa takut di hadapan Papa dan Mamanya.
Saat ini yang ada di pikiranya hanya bagaimana caranya melindungi Cinta.
"Apa? Maksud kalian apa sih? Kesepakatan Pranikah itu maksudnya kalian berdua hanya menikah kontrak??" Delia Lemas seolah kenyataan itu mengerjap lamunanya membuatnya merasa penuh dengan rasa kecewa kepada putra semata wayangnya itu. juga kepada menantunya barunya itu.
__ADS_1