
Ketika Sabda sedang berdua didalam kantor dengan Sharena. entah kenapa Sharena tiba tiba memeluk tubuh Sabda dengan erat lalu mencium bibir Sabda secara mendadak hingga Sabda belum sempat menghindar. disaat seperti itu Cinta yang langsung masuk ke dalam kantor Sabda yang tidak dikunci itu.
Cinta Terkesiap, sorot matanya tertuju pada dua insan yang sedang berciuman mesra. setidaknya itu yang ada di benak Cinta saat ini.
"Sabda..." bibirnya bergetar mendadak pandanganya buram. bahkan ia menjatuhkan godie bag yang didalamnya ada kotak bekal makan siang untuk suaminya itu.
"Cinta!" Sabda Berdecak kaget. ia reflek mendorong tubuh Sharena yang masih memeluknya. seolah dengan sengaja agar cinta melihatnya.
"Maaf aku mengganggu kalian.." Cinta yang entah kenapa saat ini merasakan sakit hati. ia langsung meninggalkan tempat itu dan berlari secepat mungkin.
Sabda yang merasa sangat cemas karena cinta pasti sudah salah paham pikirnya.
Sementara Sharena tersenyum melihat kesalah pahaman yang sudah terjadi diantara Sabda dan juga cinta.
ia merasa Cinta yang sudah merebut Sabda dari dirinya. padahal Sabda sendiri sudah tidak mungkin mau dekat dengan wanita seperti sharena lagi.
"Astaga Cinta kamu dimana.. kenapa gue kehilangan jejak dia sih! Sialaaan tu cewek semua ini gara gara Sharena. dia udah nggak waras apa kenapa malah tiba tiba memeluk dan menciumku. jadi membuat cinta salah paham. aku belum mengatakan bahwa aku mencintai dia tapi dia malah salah sangka!" Ucap Sabda seraya memijat dahinya.
Cinta yang masih terus berlari menjauh dari tempat Sabda. ia tidak ingin di ligat oleh Sabda kalau saat ini ia sedang menangis.
"Buat apa kamu menangis cinta. sudah seharusnya kamu sadar bahwa kamu dan sabda tidak mungkin bisa saling memiliki. jelas kalau Sabda masih menyukai mantan kekasihnya itu. buktinya Sabda mencium bibir perempuan itu" Tanpa Sadar cinta terus menerus menangis. air matanya tumpah seiring rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini.
"Kamu udah salah jatuh cinta dengan sabda.." Ucapnya lirih sambil terus mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
Saat cinta sedang menangis. tiba tiba ada seorang pria yang datang menghampiri dirinya.
"Cinta.." Suara itu terdengar tidak asing.
"Kamu.. Vano kamu kenapa ada disini?" Tanya Cinta terheran.
__ADS_1
"Cinta kamu kenapa kok malah nangis sendirian disini? bukankah kamu sudah menikah dengan Sabda?" Tanya Vano yang seolah bersikap normal.
"Tidak apa apa kok. Maaf Vano aku mau pulang dulu yaa.." Cinta melangkahkan kakinya bermaksud pergi meninggalkan Devano. ia tidak ingin Devano bertanay tanya tentang Sabda saat ini.
"Cinta kamu kenapa pergi. kamu mau pulang kemana? Kerumah Sabda atau kerumah kamu? Biarku antar" Ucap Devano.
"Tidak Usah Vano. aku bisa pulang sendiri"
"Cinta, aku tahu kamu sedang ada masalah tapi aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. aku minta maaf atas kata kataku saat itu yang menyinggung harga dirimu. aku hanya ingin kita berteman" Ujar Vano dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Vano aku tidak marah kepadamu. dan kita masih akan terus berteman. tenang saja" Cinta memaksakan tersenyum.
"Terimakasih Cinta, karna kamu sudah mau memaafkanku. Bagaimana kalau kamu ikut aku ke suatu tempat. aku jamin kamu akan merasa lebih baik nantinya." Ujar Vano pada cinta.
"pergi kemana Vano?"
"Ikut saja kamu pasti akan senang"
Sepanjang perjalanan Vano terus menatap Cinta yang masih terlihat Sedih. ia benar benar tidak habis pikir kenapa Cinta malah terlihat sedih ketika menikah dengan Sabda. apa sabda memperlakukan Cinta dengan tidak baik pikirnya.
"Cinta kenapa kamu kelihatanya sangat sedih?" Tanya Vano.
"Aku sudah katakan aku tidak apa apa kok Vano. aku hanya agak kelelahan saja" Tutur Cinta yang enggan berterus terang.
"Baiklah kalau begitu. Kau tidak apa apa kan kalau aku ajak ke suatu tempat? Siapa tahu itu bisa menghilangkan kesedihanmu.." Tutur Vano Tersenyum
"Hmm.. iyaa" Cinta hanya membalas senyuman tipis. saat ini ia hanya belum siap jika harus bertemu dengan Sabda pikirnya.
***
__ADS_1
Di Kantornya Sabda terus mondar mandir mencoba berulang kali menghubungi nomor ponsel Cinta namun belum juga di angkat.
"Cinta kamu kemana sih kok nggak bisa di hubungi sama sekali, Apa dia benar benar sudah salah paham terhadapku. ini semua karena perempuan murahan itu. Siaaal..." Sabda merasa sangat kesal ia tidak tahu lagi harus mencari Cinta kemana. ia bahkan sudah tidak fokus bekerja. sedangkan untuk Sharena, sabda sudah memintanya untuk memberikan surat Resign. karena ia sudah sangat muak dengan kelakuan mantan kekasihnya itu.
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk" Ucap Sabda sambil terus memijat dahinya.
"Sabda lo kenapa bro? kusut amat muka lo?" Ternyata yang datang adalah Rey sahabat Sabda yang ingin memberikan Laporan pekerjaan.
"Mau Apa lo kesini rey?" Tanya Sabda tidak bersemangat.
"Gue mau anter dokumen. eh salah Maaf maksud saya ini saya antar dokumen laporan pekerjaanya Pak" Tutur Rey yang langsung memperbaiki ucapanya di depan Sabda yang saat ini sudah menjadi Atasanya.
"Biasa aja lo kalau di depan gue. nggak ada yang lihat juga" Ucap Sabda Malas.
"Lo kenapa sih kayaknya pusing banget?" tanya Rey penasaran ada apa dengan sahabatnya itu.
"Cinta salah paham sama gue Rey. dia lihat gue sama Sharena di dalam kantor. Sharena sialan itu malah tiba tiba Nyium gue pas banget Cinta dateng. setelah itu cinta pergi dan ponselnya juga nggak aktif lagi. gue bener bener Nggak tahu harus cari cinta kemana. gue kan belum lama kenal sama dia Rey" Ujar Sabda yang masih merasa frustasi.
"Astaga kok bisa sih Sharena.. Gue nggak sangka Sharena kayak gitu. gue kira dia udah bisa move on dari lo Sab!" Sahut Rey yang sebenarnya sempat menaruh hati kepada Sharena.
"Gue males ngebahas dia Rey. yang gue pikirin sekarang itu gimana gue bisa jelasin sama Cinta supaya dia nggak salah paham sama gue Rey"
"Sabda, Gue mau tanya sama Lo. tapi tolong Lo jawab jujur yaa?"
"Lo mau tanya apa?"
"Sabda Lo udah jatuh cinta beneran sama cinta ?"
__ADS_1
Pertanyaan Rey itu sontak membuat Sabda menjadi salah tingkah. ia bahkan tidak tahu persis apa yang saat ini ia rasakan. ia hanya merasa tidak ingin cinta salah paham terhadap dirinya dengan Sharena.
"Apa gue udah jatuh cinta sama cinta?"