
Setelah Semalam Sabda memberanikan diri berbicara jujur tentang dirinya yang sepertinya mulai menyukai Cinta. tak langsung membuat Hubungan ke duanya berubah.
Masih ada rasa canggung diantara mereka berdua. mereka masih tidur berjauhan dan tidak menatap satu sama lain. mereka sadar kalau semua itu baru akan dimulai dan mereka butuh waktu untuk bisa membiasakan diri sebagai sepasang suami istri.
Cinta sudah terbangun lebih dulu, saat ia bangun ia melihat Sabda yang masih tertidur dengan nyenyaknya. ia memutuskan tidak mengganggu tidur suaminya itu. ia lebih memilih mandi dan langsung turun ke bawah menemui Mama delia.
"Pagi Cinta.. kamu kok pagi banget udah bangun sih sayang?" Tanya Delia yang seperti biasa selalu bersikap manis terhadap cinta. cinta sempat berpikir kalau keluarga sabda yang kaya raya akan terasa kaku dan canggung, orang tua yang tidak perhatian terhadap anaknya. bukanya seperti itu biasanya yang di rasakan oleh keluarga konglomerat pikirnya. tetapi ternyata ia salah saat melihat keluarga sabda. mereka sangat baik terhadap cinta.
"Pagi Ma, Cinta sudah terbiasa bangun pagi ma, kemarin saja cinta kesiangan nggak tahu kenapa. mungkin karena terlalu nyaman tidurnya ma" Cinta tercengir sampai terlihat gigi putihnya yang tampak rapi itu.
"Ada ada saja sih kamu, yaudah ayo sarapan dulu."
Cintapun mengangguk dan lansung duduk.
"Sabda kalau bangun selalu siang ya Ma?" Tanya Cinta pada delia yang sedang mengoleskan selai pada roti miliknya.
"Jangan tanya deh kadang malah bangunya sore, Kalau lagi nggak ada kerjaan ya begitu. makanya Papanya minta dia menikah supaya dia bisa sedikit berubah lebih dewasa pikir papanya. tapi kamu sabar ya cinta memang agak susah untuk menghadapi sabda butuh kesabaran extra." Ucap Delia.
Cinta hanya terdiam sambil menggingit roti isi miliknya.
"Papa pulang kapan Ma?"
"Nanti sore sudah pulang kok, kenapa memangnya Sayang?"
"Nggak apa apa Ma, Cinta hanya mau bertanya masalah sahabat Papa yang katanya Ayah Cinta. cinta masih penasaran sama ceritanya kenapa Papa bisa sampai tahu akan hal itu." Ujar Cinta.
"Kalau papa cerita sama mama sih ya, Katanya Ayah kamu itu pernah menyelamatkan papa dari bahaya saat papa ingin di jahati orang. nah ayah kamu itu kebetulan adalah sahabat papa. dan papa merasa memiliki hutang budi terhadap ayah kamu. papa ingin menjodohkan sabda dengan putri dari sahabatnya itu yang ternyata adalah kamu. Papa tahu itu waktu baca data diri kamu dan ada lampiran kartu keluarga milik kamu dan disitu ada nama ayah kamu juga." Tutur delia berusaha menerangkan apa yang ia ketahui dari cerita pramana suaminya.
Cinta mengangguk pelan. ia berpikir kalau kartu keluarga yang lama itu tidak terselip di salah satu berkas mungkin pramana tidak akan mengetahuinya.
"Hmm jadi begitu ya ma, Sebenarnya kartu keluarga itu sudah lama ma, hanya tidak sengaja terselip diantara lembaran yang cinta berikan kepada Sabda untuk melengkapi data ke KUA waktu itu."
Delia tersenyum menanggapi perkataan cinta barusan. "Itu namanya kamu dan sabda berjodoh sayang.."
__ADS_1
Kata kata Delia itu seolah begitu mendebarkan jantung Cinta saat itu.
"Mama bisa saja, Biar bagaimanapun Cinta dan Sabda belum ada perasaan yang lebih satu sama lain ma,"
"Nanti juga ada kok, mama yakin banget. Sabda meskipun anaknya suka ganti ganti pacar tapi dia nggak pernah seriusin loh. bahkan dia setahu mama nggak pernah nganggep pacar itu kayak kekasih yang selayaknya.
keterlaluan sih memang kelakuan Sabda. itu yang bikin papanya sering marah juga." Ujar delia dengan wajah yang berubah menjadi suram saat mengingat kelakuan putra sematawayangnya itu.
Cinta terkekeh mendengar cerita Delia tentang keseharian Sabda yang menurutnya lebih terlihat kekanakan. bagaimana mungkin orang yang ia kenal Ketus dan angkuh ternyata memiliki sisi kekanakan juga pikirnya.
"Ma, cinta sudah selesai sarapan. cinta mau membangunkan sabda dulu ya ma. soalnya ini udah siang juga" Ucap Cinta pada Mama mertuanya itu.
"Oke cinta. memang sabda kalau nggak dibangunin nggak akan bangun kok. tolong ya cinta" Senyum delia.
"Iya Ma, kalau gitu cinta ke kamar dulu yaa.."
"Iya sayang.."
Semenjak mengenal Delia, cinta jadi merasa memiliki sosok ibu yang belum sempat ia rasakan kasih sayangnya karna ibunya kecelakaan saat ia berusia 5 tahun.
"Tuhan sayang banget sama aku" Gumam Cinta dalam hatinya.
Cinta kembali ke kamarnya mendapati Sabda yang belum juga bangun dari tidurnya ia berusaha membangunkan Sabda berulang kali namun tidak juga berhasil.
"Sabda bangun.. ini udah siang loh!" seru Cinta sambil menggoyangkan lengan Sabda.
"Masih ngantuk nanti aja Ma, nanti sabda bangun sendiri" Sahut Sabda yang tidak sadar kalau bukan mamanya yang saat ini sedang membangunkanya.
"Sabda ini aku cinta bukan mama kamu. kamu bangun ini udah siang loh" Seru cinta lagi.
"Cinta siapa sih ma?" Sabda menyipitkan matanya lalu melihat cinta yang sudah berjongkok di samping tempat tidurnya.
"Aku cinta, apa kepala kamu kebentur dalam mimpi terus amnesia yaa?" gurau Cinta terkekeh sendirian.
__ADS_1
"Astaga Sorry Nta, gue nggak sadar tadi. lupa gue kalau ada lo." Ucap Sabda sambil mengucek matanya.
"Yaudah sana bangun ini udah jam 8 udah siang"
"Hah? jam 8? Yaelah cinta gue kira ini dah jam 1 kali makanya gue bangun tau gitu kan gue tidur lagi." Sabda membaringkan tubuhnya lagi lalu terlelap lagi.
Cinta berdecih merasa kesal dengan sabda yang malah memilih untuk tidur lagi.
Cinta membuka selimut Sabda dan menarik sabda agar bangun namun cinta malah terjatuh tepat diatas Sabda. posisi mereka seperti sedang berpelukan.
Sontak sabda terbangun karena tubuhnya menumpu tubuh cinta diatasnya. sejenak mereka saling menatap satu sama lain. bergeming untuk beberapa saat menyatukan pandangan yang saling bertaut.
"Astaga.. Maaf aku tadi kepeleset" Cinta berusaha melepas pelukan sabda namun sabda tidak mengindahkanya. ia malah tertegun tidak mau melepaskan pelukan itu.
"Sabda lepasin aku mau turun.." cinta masih berusaha melepaskan pelukan itu namu tidak berhasil. ia yang merasa malu menatap mata sabda akhirnya memilih menenggelamkan wajahnya ke atas dada bidang Sabda.
"Ini suara jantung Sabda atau jantung aku sih. aku sampai nggak bisa bedain kenapa suaranya jadi barengan gini" Gumam Cinta dalam hatinya.
"Gue ngapain malah begini. brengsekk mana pagi pagi gini bahaya kalo dibiarin" Suara Hati Sabda saat itu.
Sabda semakin tidak bisa mengendalikan dirinya lagi saat itu. ia malah ingin melakukan yang lebih pada Cinta.
"Sorry Nta, gue nggak ada maksud kurang ajar sama lo. refleks doang tadi" Sabda yang sudah melepaskan pelukanya langsung terbangun.
"i-iya nggak papa. kamu juga udah bangun kan Sabda. yaudah aku keluar yaa.."
Sabda hanya mengangguk. setelah cinta keluar ia langsung menghela napas panjang.
"Haaah tadi itu bahaya banget kalau keterusan bisa bisa gue kehilangan iman ini mah. tapikan udah sah juga sih gue sama dia. ah bodo amatlah! Pusing gue jadinya" Sabda mengacak acak rambutnya lalu beranjak ke kamar mandi.
sedangkan cinta masih berada di depan pintu kamar sabda dengan posisi memegangi dadanya.
"Jantung aku kenapa begini. rasanya waktu tadi itu kayak mau meledak pas ada di deket sabda.. kamu kenapa sih cinta aneh banget.." Cinta akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman mencari udara segar.
__ADS_1