THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat

THE HEIRS (Season 1 & 2) Tamat
Sabda Cinta ~ Tidak Tenang


__ADS_3

PAGI HARI


Cinta sudah terbangun dari tidurnya. ia merasa sangat haus. lalu ia meraih gelas yang ada disampingnya. setelah itu ia melirik Sabda yang masih terlelap di sampingnya.


ia menutup wajahnya mengingat apa yang sudah terjadi semalam. padahal Sabda sudah berjanji tidak akan melakukan hal lain selain mandi. namun justru sebaliknya. hal yang tidak cinta duga malah terjadi juga.


Cinta merasa sangat malu. walaupun mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya namun kali ini di kamar mandi. rasanya berbeda. ia merasa sekujur tubuhnya sakit semua.


"Akh.. kenapa badanku sakit begini.." rintihnya pelan. ia perlahan beranjak dari tempat tidurnya bermaksud untuk pergi ke kamar mandi. namun Sabda malah terbangun dan manarik tangan Cinta.


"Kamu mau kemana sayang?" Ucapnya sambil menyipitkan mata yang belum tersadar sepenuhnya dari tidur.


"Aku mau ke kamar mandi," Jawab cinta mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya itu.


"Mau aku antar?" Tanya Sabda sambil melengkungkan senyuman manisnya itu.


Cinta menggeleng.


"Aku bisa sendiri. kamu tidurlah lagi kalau masih mengantuk." Ucap Cinta. ia langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Sabda hanya terus tersenyum. ia merasa sangat bahagia saat ini.


ia kembali mengingat kejadian semalam. lalu ia malah tersenyum-senyum sendiri.


"Mantep juga ternyata di kamar mandi. boleh juga lain kali di ulangi." tuturnya tercengir. ia merasa ketagihan melakukan hal itu dengan cinta.


Sesaat kemudian. tiba-tiba suara dering ponsel mengagetkannya.


Drrtttt..


"Siapa lagi pagi-pagi nelpon?"


Sabda melihat layar ponselnya ternyata sahabatnya Rey yang menelpon.


"Rey? Ngapain dia nelpon pagi-pagi nggak biasanya?" Sabda mengernyit merasa heran.


"Hallo Rey ada apa lo nelpon gue pagi-pagi buta begini?" Ucap Sabda dari ujung telepon.


"Sab, Lo harus segera kerumah sakit Sab." Tutur Rey yang terdengar panik.

__ADS_1


Sabda berdecak Kaget. siapa yang sakit pikirnya.


"Ada apa sih? Siapa yang masuk rumah sakit?" Tanya Sabda penasaran kenapa sahabatnya itu sampai terdengar sangat panik.


"Sab, Sharena mencoba bunuh diri!" Teriak Rey yang saat itu tidak terdengar sedang bercanda. Sabda terkejut ia tidak menyangka apa yang barusan di dengarnya.


"Sharena mau coba bunuh diri?" Ucap Sabda seolah tidak percaya.


Cinta yang baru saja selesai mandi merasa terkejut mendengar ucapan Sabda.


sedangkan Sabda bahkan tidak sadar kalau cinta mendengar dia menyebut nama Sharena barusan.


"Apa aku nggak salah dengar? Sabda bilang Sharena mau coba bunuh diri?" Cinta membatin. ia masih berdiri di depan kamar mandi. masih mengenakan kimono handuk dengan rambut yang masih basah.


"Sabda gue mohon lo ke rumah sakit Harapan sekarang. Sharena begini karena Lo Sab!" Ucap Rey yang sontak membuat Sabda terpancing amarah mendengar hal itu.


"Nggak ada hubungannya sama gue rey! Gue dan dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Lo tau kan! kenapa lo bilang gara-gara gue!" Bentak sabda pada sahabatnya itu.


Cinta langsung menghampiri Sabda yang kelihatan marah. ia mencoba menenangkan suaminya itu.


ia mengusap telapak tangan suaminya dengan perlahan. Sabda melirik cinta dan tersenyum sesaat lalu raut marahnya kembali saat mendengar suara sahabatnya yang masih belum juga menyerah memintanya menemui sharena.


"Gue mohon sabda. setidaknya lo lihat dulu keadaan Sharena." Pinta Rey memohon.


"Oke gue bakal kesana. tapi gue lakuin ini karena lo sahabat gue rey. bukan karna dia. gue dan dia udah nggak ada urusan lagi sekarang dan lo udah tahu itu." Sabda menutup teleponnya.


**


ia melempar handphone miliknya ke lantai begitu saja. membuat Cinta terkaget.


"Sabda kamu baik-baik aja kan?" Tanya Cinta yang sebenarnya tahu kalau saat ini sabda sedang kesal.


"aku nggak apa-apa kok Nta, kamu dirumah aja ya. aku mau pergi dulu ke tempat Rey sekarang. aku ada urusan." Ucap Sabda mencoba tersenyum pada Cinta. padahal cinta sempat mendengar saat sabda bilang kalau Sharena ingin bunuh diri. namun kenapa sabda tidak jujur kepadanya. Cinta membatin.


Sabda mengecup ujung kepala Cinta dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. ia kelihatan terburu-buru. dalam batin cinta timbul banyak pertanyaan.


Kenapa Sabda begitu marah pada sahabatnya tadi, lalu kenapa sharena ingin mencoba bunuh diri. begitu banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran. namun sabda yang terlihat marah masih tidak mau berterus terang pada cinta.


Sabda sudah selesai mandi dan berganti pakaian. cinta pun sama.

__ADS_1


"Nta, aku pergi dulu ya. kamu di rumah baik-baik ya, aku nggak akan lama kok sayang.." Tutur Sabda memaksakan senyumnya. Cinta mengangguk. rasanya ia ingin sekali bertanya pada suaminya. namun sepertinya bukan saat yang tepat pikirnya.


"Sayang aku pergi ya," Sabda mengecup bibir Cinta sekilas. lalu beralih ke kening. ia mengusap ujung kepala istrinya. Cinta meraih telapak tangan suaminya itu lalu mencium punggung telapak tangan itu.


"Hati-hati." Ucap Cinta tersenyum tipis. dan sabda pun pergi dengan terburu-buru.


Cinta menghela napas panjang. ia merasa sabda tidak jujur kepadanya. dan kenapa sabda sampai terburu-buru. apakah sabda cemas dengan keadaan Sharena? Tapi mana mungkin pikirnya. Sabda sudah tidak memiliki perasaan apapun pada mantan kekasihnya itu. seperti yang sabda utarakan padanya. ia harus mempercayai suaminya. namun tetap saja ia merasa cemburu.


"Apa aku cemburu di saat yang tidak tepat?" Cinta menggelengkan kapala. ia merasa bukan waktunya untuk cemburu. apalagi dia dengar saat sabda bilang kalau Sharena mencoba bunuh diri.


"Kenapa Sharena mau bunuh diri? Apa hubungannya hal itu dengan Sabda?" Cinta ternyata tetap saja tidak bisa tenang. ia akhirnya memilih untuk keluar kamar dan menemui Mama mertuanya.


**


"Cinta, kamu sudah bangun sayang?" Sapa Mama Mertuanya itu dengan lengkungan senyum yang seperti biasanya ia lihat. cinta merasa teduh setiap kali melihat senyuman Delia.


"Iya Ma," Jawab Cinta singkat. ia tersenyum sekilas lalu kembali terlihat murung.


Delia merasa seperti ada yang di sembunyikan oleh menantunya itu.


"Sayang, kamu kenapa? Kelihatannya murung sekali.." Tutur Delia yang langsung menghampiri Cinta dan mengajaknya duduk di meja makan untuk sarapan.


"Duduklah dulu, sarapan ya.." Ucap Delia tersenyum. namun Cinta hanya terdiam seolah ada di dalam lamunannya sendiri. delia tambah merasa heran dengan cinta.


"Sayang.. kamu baik-baik aja kan? oiya dimana sabda? dia pasti belum bangun deh." Tutur Delia seraya mengerutkan kening.


Cinta menggeleng.


"Sabda udah bangun kok Ma, dia baru saja pergi ke tempat sahabatnya. katanya ada urusan penting." Tutur Cinta tersenyum pahit.


Melihat raut wajah cinta yang murung membuat delia yakin kalau saat ini menantunya itu tidak dalam keadaan baik pikirnya.


"Apa ada masalah di antara kamu dan Sabda?" Delia menggenggam kedua tangan cinta seraya menatap kedua mata cinta yang sendu.


"Sabda.. dia.." Cinta seolah tidak bisa meneruskan kata-katanya. sebaiknya dia tidak membuat beban pikiran bagi mertuanya. lagipula ini hanyalah prasangka dia saja. mungkin saja dia salah saat ini. Batin Cinta.


"Sabda dia nggak ada apa-apa kok. cinta juga nggak ada masalah. cinta cuma masih kangen sama Mama," Ucap cinta mencoba mengalihkan perhatian.


"Sayang, Mama kan sudah bilang kamu jangan cemas. karena Mama akan menemani kamu dan Sabda disini.." Tutur delia yang langsung memeluk tubuh menantunya itu.

__ADS_1


"Aku nggak mau cerita sama Mama, ini urusan rumah tanggaku dengan Sabda. Mama nggak perlu ikut pusing memikirkan ini." Cinta membatin. ia terus memeluk Mama mertuanya itu.


Beruntung ia memiliki mertua yang sangat baik.


__ADS_2