
Alya dan Andra pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Alya terlihat salah tingkah, ia tidak menyangka kalau pria yang akan di jodohkan dengannya adalah pria yang sudah sangat dewasa, meskipun begitu ia tidak tahu berapa umur pria itu, karena memang mamanya juga tidak memberitahu lebih detail tentang siapa pria itu.
"Alya, kami semua berencana menjodohkan kamu dengan Andra, menurut kamu bagaimana sayang?" tanya Melisa pada putrinya itu, Alya hanya tersenyum kecut, ia merasa bingung harus menjawab apa, ia sudah berjanji pada mamanya untuk tidak menolak perjodohan ini, tapi ia cemas, kalau pria yang ada di hadapannya ini, jangan-jangan terpaksa juga pikirnya.
"Maaf semuanya, Alya hanya mau memastikan, apa.. emm.. maaf mas Andra merasa terpaksa menerima perjodohan ini? Alya tidak mau kalau Mas Andra melakukannya karena terpaksa." tuturnya ragu-ragu.
Melisa menyentuh telapak tangan putrinya, " Sayang kenapa kamu bertanya seperti itu pada Andra?" tanyanya sambil berbisik.
Alya hanya tersenyum terpaksa, ia melirik mamanya sekilas, lalu mengedipkan mata sebagai isyarat.
Melisa tidak paham maksud anaknya itu, ia hanya mengangguk saja mengiyakan, ia pasrah apapun yang akan terjadi setelah ini.
Sedangkan Sabda dan Rey terlihat santai tanpa beban.
Cinta sendiri terus melirik Andra dan menatapnya tajam.
"Mama nggak mau kamu jawab yang aneh-aneh.." ucapnya berbisik pada puteranya.
Andra mendengus, ia sadar kalau posisinya sudah tidak punya pilihan.
Andra menghela napas panjang.
"Saya lakukan ini bukan karena paksaan, saya dengar mama memiliki teman baik yaitu tante Melisa, dan tante Melisa memiliki seorang putri yang cantik, karena itu saya merasa mungkin saja kami berdua cocok. itu saja yang bisa saya sampaikan." tuturnya berusaha tenang, Cinta menahan tawa mendengar ucapan putranya yang agak kaku tadi, yang lebih mirip sedang memberikan sambutan dalam sebuah acara rapat saja menurutnya.
"Alya, Andra sudah menjelaskan kalau dia melakukan hal ini bukan karena paksaan, menurut Papa, sudah tidak ada alasan lagi untukmu menolak perjodohan ini, lagipula mama dan papa sudah berteman baik sejak lama, jadi rasanya semua sudah tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi, hanya perlu membahas tanggal baiknya saja." tutur Rey papa Alya.
Alya menggertakkan gigi, ia merasa ini terlalu cepat. begitu pula dengan Andra yang terlihat sedang memijat keningnya yang mulai berdenyut.
"Maaf, tapi Alya masih belum lulus sekolah, masih sekitar dua bulan lagi Alya baru akan lulus, Alya minta tenggang waktu sampai Alya lulus, setelah itu Alya mau melanjutkan kuliah, namun tidak masalah jika memang harus menikah dulu, kalau keluarga Mas Andra menyetujui itu, maka Alya tidak akan menolak perjodohan ini." tuturnya berusaha mengemukakan pendapatnya, Alya memang anak yang cerdas, ia juga sangat kritis, ia tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di dalam benaknya, kalau ia keberatan maka ia tidak akan berdiam diri dan memilih langsung mengatakannya.
Andra lagi-lagi menghela napas, ia merasa sedang meladeni gadis kecil, yang pastinya akan sangat merepotkan nantinya.
"Andra, tante harap kamu nggak keberatan dengan persyaratan yang diminta oleh Alya ya?" ucap Melisa pada Andra.
Andra berusaha tersenyum, ia tidak ingin terlihat tidak senang. ia terus melirik Cinta yang tidak berhenti mengitimidasinya lewat tatapan tajamnya.
"Saya tidak masalah kok.." jawabnya singkat.
"Percuma saja mengelak dan menolak tidak ada gunanya.. terima saja." batin Andra.
Sabda yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba mengajak Alya berbicara.
"Alya, bagaimana kalau setiap berangkat dan pulang sekolah biar Andra saja yang mengantar jemput kamu?" tawar Sabda pada Alya, tidak biasanya Sabda bersikap seperti itu, ia biasanya cuek dan tidak peduli bahkan dengan urusan pribadi anaknya seperti ini, tapi sepertinya kali ini Sabda sangat menyukai Alya.
"Papa kenapa sih, emang dikira gue supir apa. diminta nganter jemput segala." batin Andra menolak.
Alya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Maaf Om, terimakasih atas niat baik Om, tapi Alya sudah ada supir yang mengantar jemput Alya, lagipula Mas Andra pasti sibuk kan, Alya tidak ingin merepotkan." jawabnya dengan halus, ia mana mungkin mau diantar jemput oleh Andra, bisa-bisa teman satu sekolahnya akan menggosip yang tidak-tidak. pikir Alya.
"Untung ini bocil pinter otaknya, baguslah." batin Andra merasa terbantu.
"Nggak merepotkan kok sayang, tante dan om malah senang karna selama dua bulan ini, Alya dan Andra bisa saling mengenal satu sama lain, kan itu bagus, jadi jangan merasa tidak enak ya." terang Cinta yang merasa sangat setuju dengan ide suaminya itu.
Melisa dan Rey juga terlihat sangat senang. sedangkan Andra dan Alya justeru sebaliknya, mereka berdua terlihat sangat canggung dan tidak suka dengan permintaan itu. namun keduanya tidak bisa menolak jadi lagi-lagi hanya bisa mengiyakan.
Setelah perbincangan mereka selesai, Keluarga Andra pamit untuk undur diri.
**
"Alya, kamu mau kemana?" tanya Melisa pada anaknya yang tidak mendengar ucapanya malah langsung pergi ke kamar.
Alya menutup pintu kamarnya dengan kencang lalu menguncinya.
"Astagaaaa... kenapa aku harus mengalami hal ini sih? aku masih sekolah dan kenapa aku harus di jodohkan begini? ini nggak pernah aku bayangin sebelumnya! cita-cita aku hancur seketika, aku pusing..."
Alya merasa sangat shock dengan semua yang baru saja terjadi, ia merasa frustasi dan tidak ingin berbicara dengan siapapun. ia lebih memilih membaringkan tubuhnya dan tidur.
**
Malam itu di kamar Andra.
"Gila ! gue nggak habis pikir apa maksud mama dan papa ngejodohin gue sama anak remaja kayak tadi itu! gue kira ceweknya seumuran sama gue gitu, atau minimal dibawah gue dua tiga tahun aja, tapi ini anak umur 18 tahun? itu juga belum genep gue yakin umurnya. gue udah 30 tahun di jodohin sama anak SMA ?" Andra mengacak rambutnya, ia merasa kepalanya berdenyut dan pusing.
Selama ini Andra memang terlalu sibuk dengan urusan karirnya di bidang bisnis, ia memiliki segalanya, bahkan wanita pun banyak yang mengantri untuk bisa dekat dengannya, namun ia tidak ada ketertarikan untuk menjalani hubungan yang serius, ia beberapa kali pernah mencoba berpacaran namun tidak pernah bertahan lama, paling lama hanya satu bulan setelah itu putus, ia tidak tahan dengan wanita yang senang mengoceh dan mengaturnya ini dan itu.
Sesampainya di Cafe, Andra di sambut hangat oleh sahabatnya yang tidak lain adalah pemilik cafe itu sendiri.
"Hei bro! kenapa muka lo kusut banget? kayak abis diputusin pacar aja lo!" celetuk pria yang bernama Rangga.
"Sialan lo, sejak kapan gue ada pacar!" jawabnya malas.
"Hahaha, ia juga sih, lagian lo sih kelamaan jomblo! nikah gih udah tua juga lo!" tuturnya sok menasehati.
"Mentang-mentang udah nikah lo! sombong amat!" ucap Andra kesal.
"Santai aja dong bro! lo ceritalah ada apa memangnya? lo kalau kesini kan seperti biasa, kalau nggak lagi suntuk ya lagi gabut. iyakan?" ucapnya seraya menepuk pundak Andra.
Andra menghela napas.
"Gue pusing banget! lo tau nggak Rang? gue masa di jodohin sama bokap nyokap gue!" tuturnya merasa frustasi.
Rangga malah tertawa terbahak mendengar hal itu.
"Hahaha sorry sorry, lo lagi becanda apa gimana nih? nggak salah denger kan gue barusan?" tanyanya yang tidak percaya kalau seorang Andra yang dikenal tidak suka hal yang berbau paksaan malah di jodohkan oleh orang tuanya.
Andra mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Diem lo nggak usah ketawa! gue seriuslah. lo tahu nggak berapa umur tu cewek?" ucapnya dengan raut wajah yang tidak bisa di gambarkan.
Rangga menghentikan sejenak tawanya barusan.
"Berapa emang?" tanyanya penasaran.
"18 tahun! itu juga belum genep gila!" Andra membuang napas kasar.
Rangga tersentak dan kaget.
"What? itumah Abege gila!" jawabnya terkejut.
"Emang gila tahu! nggak habis pikir gue sama nyokap bokap gue Rang!"
"Sabar sabar, tapi mantep lo dapet abege, masih ori pastinya!" celetuk Rangga meledek sahabatnya.
"Ori apaan lo!" Sahutnya kesal.
"Hahahah yaudah sih, intinya terima aja lah, lagian lo pasti nggak bisa nolak kan permintaan tante Cinta, lo udah janji nggak mau bikin dia sakit lagi." tuturnya pada Andra. Andra mengiyakan.
"Iya, gue nggak bisa nolak. yaudah lah males gue bahasnya. gue haus nih. lo.nggak bikinin gue minum daritadi!" ketusnya.
"Sorry bos, gue sampai lupa. tunggu disini biar gue ambilin lo minum."
Andra menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ada di cafe tersebut.
Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Andra, ia bak seorang model dengan pakaian yang cukup terbuka, Andra mengernyitkan kening sambil membuang muka, ia paling tidak suka di dekati dengan wanita semacam itu.
"Ganteng, kok sendirian aja sih? mau aku temenin nggak?" wanita itu mencoba mendekati Andra, namun Andra secepatnya menepis wanita itu.
"Menjauh dari gue, geli gue!" bentak Andra.
Rangga datang membawakan minuman untuk Andra, ia terkejut karena Andra dibuat kesal oleh seorang wanita yang tidak lain adalah tamu langganan Rangga di cafenya.
"Kamu galak banget sih! aku kan ngomong baik-baik." wanita itu masih berusaha mendekati Andra, ia malah terlihat semakin berani saja.
"Mitha, lo ngapain ganggu dia!" sentak Rangga pada wanita itu.
"Lo kenapa sih Rang, kok ikut sewot, gue cuma mau ajak kenalan cowok ganteng ini doang kok." wanita itu terlihat sangat tertarik dengan Andra, tapi Andra malah terlihat jijik.
"Pergi deh mendingan lo, sebelum gue ikut kesel, gue ada yang mau di bicarain sama dia, lo keluar." pinta Rangga.
Wanita itu pun terpaksa pergi mengikuti keinginan Rangga.
"Sorry, biasa langganan disini, lo nggak di apa-apain kan sama dia?"
Andra berdiri sambil merapikan kemejanya.
"Tambah kacau pikiran gue sekarang, gue nggak mood lah, gue cabut ya." ucap Sabda berpamitan pada Rangga.
__ADS_1
"Minum dulu lah bro! masa langsung pergi aja!"
Andra tidak mendengarkan perkataan Rangga, moodnya sudah terlanjur rusak karena wanita tadi.