
Pagi harinya, Alya tidak biasanya bangun lebih pagi.
ia tidak lagi bangun terlambat, ia duduk di meja makan tanpa menyapa mama dan papanya, ia memasang wajah cemberut tidak senang.
"Pagi sayang, kenapa nih kok pagi-pagi cemeberut aja? terus tumben nggak terlambat bangun?" tanya Melisa sambil menuang susu ke gelas Alya.
".." Alya tidak menjawab, ia hanya diam saja sejak tadi.
"Kamu kenapa sayang? masih marah sama mama dan papa karena kemarin?" Rey menatap serius putri sematawayangnya itu.
"Alya udah selesai sarapan ma, pa." Alya meminum susunya sampai habis lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, kok kamu nggak jawab pertanyaan mama dan papa sih?" tanya Melisa kecewa.
"Udah ma biarin aja, mungkin Alya masih butuh waktu."
Tin
Suara klakson mobil yang asing di telinga Alya.
"Kok bukan kayak mobil aku sih, jangan-jangan Mang Joni bawa mobil yang lain lagi?" ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.
Ceklek
Saat pintu terbuka, tiba-tiba ia di kejutkan oleh mobil BMW mewah yang terparkir di halaman rumahnya.
"Kok bukan mobil aku? mang Joni mana sih?" ucapnya masih terheran. ia melangkahkan kakinya menuju halaman depan, ia bermaksud mencari supirnya, namun kaca mobil yang ada di hadapannya itu malah terbuka.
Perlahan mulai terlihat sosok pria yang ada di dalam mobil mewah itu.
"Hai.." ucapnya dengan senyuman tipis.
"Kamu?" jawabnya tercengang.
"Mau berangkat sekolah kan? ayo biar aku antar." ucap pria itu yang ternyata adalah Andra, calon suami Alya.
Alya terkejut malah masuk kembali ke dalam rumah. Andra mengedikan bahu merasa heran. "Bocil ! ngapain malah masuk lagi, buang-buang waktu aja." gumamnya kesal.
Alya menutup pintu rumahnya lalu bergegas mencari mama dan papanya.
"Ma, Pa.." panggilnya terburu-buru.
"Ada apa sayang? kamu kok balik lagi?" tanya Melisa terheran.
"Ma, kenapa ada Mas Andra di depan? kemana mang joni mah?" tanyanya dengan napas terengah.
"Alya, kan kemarin mama udah bilang, kalau mulai hari ini kamu diantar jemput sama Andra, mang Joni beralih jadi supir papa, karena papa juga capek katanya kalau nyetir sendiri." jawab Melisa enteng.
Alya menggeleng.
"Alya nggak mau ma!"
Tin
Suara klakson mobil Andra lagi.
"Sayang, dengarkan.. itu Andra udah nungguin, daripada kamu telat mendingan cepetan berangkat gih." pinta Melisa seraya mencubit pipi putrinya itu.
"Astaga Mama, kenapa sih maksa banget. yaudah Alya berangkat deh!" tuturnya terpaksa.
Alya akhirnya terpaksa menghampiri Andra yang masih menunggunya di mobil. Andra menatap ke arah Alya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa masuk lagi tadi ke rumah? kamu nggak telat nanti ke sekolahnya?" Tanya Andra seolah sedang berbicara dengan adiknya saja.
"Iya maaf ya, tadi aku kaget aja, kok kamu malah jemput aku, biasanya kan aku di anterin mang joni." tuturnya pada Andra.
"Udah kamu masuk aja cepetan, nanti kesiangan." jawabnya sambil membukakan pintu mobil.
Alya pun hanya bisa mengikuti ucapan pria yang lebih tua dua belas tahun darinya itu.
"Kamu kok jemput aku sih? karena tante dan om yang nyuruh ya?" tanyanya pada Andra.
"Iya, tapi nggak apa-apa sih, anggep aja pendekatan." jawabnya sambil serius menyetir.
__ADS_1
"Kamu kenapa mau menerima perjodohan ini?" tanyanya lagi.
Andra mengerutkan kening, lalu menghela napas panjang.
"Karena capek dipaksa terus sama mama, lagipula umurku sudah cukup untuk menikah." jawabnya.
Alya hanya terdiam, ia sejenak berpikir kalau pria di sampingnya ini tidak mungkin menyukai anak remaja sepertinya, terlebih ia belum lulus sekolah.
"Kamu nggak mungkin kan suka sama aku?" tanya Alya dengan polosnya.
Mendadak Andra mengerem mobilnya.
"Astaga! kamu kok ngerem mendadak sih!" ucapnya sambil terkejut.
Andra menggeleng.
"Maaf tadi nggak sengaja," jawabnya sambil melanjutkan menyetir.
"Kamu tadi kenapa nanya seperti itu?" tanya Andra.
"Emang kenapa? aku cuma mau memastikan, mana mungkin kamu menyukai anak remaja seperti aku." ucapnya lagi.
"Lalu menurut kamu, cewek yang aku sukai itu tipenya seperti apa?" Andra malah membuat Alya bingung dengan pertanyaan itu.
"Mana aku tahu, lagian aku nggak mikirin." jawab Alya polos.
Andra tersenyum kecil.
"Boleh juga ni bocil," gumamnya dalam hati.
Sesampainya di sekolah Alya, Andra segera turun lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Alya.
"Makasih." ucap Alya datar.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Andra.
"Emang kamu mau jemput aku juga?" tanya Alya.
"Iya, tahu sendiri kan apa yang di bilang mama dan papa.." ucapnya.
"Oke, jam tiga aku jemput. daah Alya.."Andra masuk ke dalam mobil.
"Makasih.." ucapnya sambil melambaikan tangan.
Tiba-tiba sahabatnya Kiki datang menghampiri Alya.
"Alya! kamu berangkt sama siapa tadi?" tanyanya sambil membulatkan mulutnya seolah takjub.
"Kamu dateng-dateng ngagetin tahu nggak! yuk masuk.." ajaknya pada sahabatnya.
"Ih Alyaaa.. itu tadi siapa?" tanya Kiki masih penasaran.
"Emang kenapa sih kamu penasaran banget? " tanyanya pada Kiki.
"Gila kamu Alyaaa...! gimana nggak penasaran. itu cowok gantengnya kebangetan kali! kamu dapat darimana? tapi kayaknya dia udah dewasa deh, kayak CEO gitu ya nggak sih?" ucap Kiki menebak-nebak.
"Repot ih kamu.." jawab Alya malas.
Kiki mencebik, ia merasa kesal pada Alya, yang enggan memberitahukan siapa pria yang mengantarnya tadi.
"Jangan-jangan itu calon suami kamu ya? kamu di jodohin?" ucap Kiki lagi-lagi menebak sendiri.
Alya terkejut mendengar ucapan Kiki barusan.
Darimana dia tahu? batin Alya.
"Alyaaaaa...! kok kamu diem aja sih!" ucapnya lagi.
"Kamu diem deh Ki, aku lagi pusing banget.. udah ayok ke kelas deh.." ajak Alya yang malas mejawab pertanyaan sahabatnya itu.
Di dalam kelas, Alya menangkupkan wajahnya ke atas meja, ia merasa frustasi karena bayangkan saja setiap hari ia harus diantar oleh pria yang berumur 30 tahun, dan pria itu adalah calon suaminya sendiri.
Sahabat Alya hanya memandangi Alya, mereka bingung apa sebenarnya yang terjadi pada Alya.
__ADS_1
"Kenapa Alya Ki?" tanya sahabat Alya, Alisa yang baru datang.
Kiki mengedikan bahu, sambil mengusap menggeleng.
"Entah, dia nggak mau cerita padahal tadi dia di antar sama cowok super ganteng, dia malah keliatan sedih, aku juga bingung kenapa dia begitu." sahut Kiki.
"Alya, kamu kenapa? ceritalah sama kita." Alisa mengusap punggung Alya, Alya pun akhirnya mengangkat wajahnya, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya itu.
"Aku mau di jodohin sama pria tadi." ucap Alya lemas.
"Hah?" Alisa dan Kiki terkaget, terutama Kiki yang sudah melihat langsung seperti apa pria itu.
"Gila! kamu beruntung banget Alya! tuh cowok udah kayak model majalah pria dewasa!" celetuk Kiki.
"Heh, ngomong apa sih kamu!" samber Alisa mengomeli Kiki.
"Beneran Lis, asli seksi." bisik Kiki di telinga lisa.
"Kalian bisa diem nggak? aku pusing banget, setelah lulus sekolah aku bakalan nikah sama dia."
"Terus kamu nggak kuliah dong?" tanya Kiki.
"Iya kuliah kamu gimana?" Alisa ikut bertanya hal yang sama.
"Aku tetep kuliah, cuma aku harus menikah dulu." jawabnya malas.
"Kamu nggak bisa nolak?" tanya Alisa.
"Jangan di tolak! ganteng gitu di tolak." Seru Kiki.
"Ki, kamu bisa berenti bilang dia ganteng nggak sih!" maki Alya terlihat kesal.
"Iya Maaf."
"Lis, aku udah nolak, tapi aku nggak bisa bersikukuh menolak terus, aku nggak tega sama Mama, ini permintaan Mama, aku udah janji akan menurut kali ini." jawab Alya.
Kedua sahabatnya terdiam, mereka tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya berusaha menenangkan Alya yang terus terlihat murung.
***
Di Kantornya, Andra seperti biasa sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaannya, ia selalu terlihat serius dalam bekerja.
Tiba-tiba Mamanya mengirim pesan, agar Andra tidak lupa mengirimkan pesan singkat kepada Alya, Andra mendengus ia merasa Mamanya terlalu berlebihan, tapi kalau ia tidak mengikuti kemauan mamanya itu, bisa-bisa urusan menjadi panjang.
Akhirnya Andra mengirim pesan kepada Alya, setelah Mamanya mengirimkan nomor ponsel Alya.
Setelah ia mengirimkan pesan tersebut ia letakkan lagi ponselnya.
Alya membuka pesan yang baru masuk, ia terkejut bukan main saat membuka pesan itu dari nomor yang tidak dia simpan di daftar kontaknya.
Andra : Hai Alya, ini nomorku, Save ya. Jangan lupa makan siang. semangat!
Alya tidak menyangka kalau Andra akan mengirimkan pesan itu saat ia dan kedua sahabatnya sedang makan siang di kantin.
"Al, kamu kenapa sih kok malah bengong?" tanya Alisa pada sahabatnya itu.
"Kaget gitu muka kamu Alya?" sahut Kiki.
"Nggak apa-apa, udah kalian lanjut aja makan." Alya enggan menceritakan hal itu, karena tidak ingin membahasnya.
Alya tidak mau membalas pesan Andra, namun ia teringat pesan Mamanya, ia harus menurut.
Akhirnya ia mengirimkan balasan dan tidak lupa menyimpan nomor Andra di daftar kontaknya.
Alya : Makasih Mas Andra, Alya sudah makan siang, Mas Andra juga jangan lupa makan siang ya.
Alya memasukkan lagi handphon miliknya ke dalam saku.
Andra melirik ke arah handphone yang bergetar, ia membuka pesan masuk yang ternyata dari Alya.
Ia malah tersenyum kecil membaca pesan itu.
"Dasar bocil, nurut banget sama orangtuanya, Astaga, gue juga jadi kayak bocil gini." ucapnya sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1
_____________________
Bersambung...