
Andra melajukan mobilnya menuju ruamahnya, sedangkan Alya terlihat diam saja sejak tadi, Andra melirik Alya sekilas.
"Alya, kamu kok diam aja?"
Alya melirik Andra sambil terbengong.
"Aku?" tanya Alya.
"Hmm.. Iya kamu, kenapa diam aja? bengong lagi, ada yang kamu pikirin?" tanya Andra.
"Enggak kok Mas, Alya cuma takut mama dan papa nyariin Alya aja."
"Kamu coba telpon Mama kamu deh, barangkali mereka lagi keluar rumah, kalau mereka ada di rumah, kamu akan aku antar pulang, aku dengar dari Mama dan Papa, kalau orang tua kamu sibuk belakangan ini kan?"
Alya mengangguk.
"Iya, Mama dan papa memang agak sibuk akhir-akhir ini, mama sibuk di sanggar lukisnya, bulan depan juga dia ada pameran, sedangkan papa sedang mengurus bisnisnya, jadi aku di rumah sendirian, nasib karena jadi anak tunggal,nggak ada saudara." sahut Alya.
"Hm, iya karena itu aku mau ajak kamu ke rumah, ketemu sama Angel, adikku, aku yakin kamu bakalan seneng dan nyambung ngobrol sama dia, walaupun dia baru 14 tahun, tapi dia nyambung sama siapa aja,"
"Iya,aku juga jadi penasaran ingin bertemu adik Mas Andra, seru ya punya saudara, jadi nggak kesepian."
"Aku punya adik usianya jauh sama aku, beda 16 tahun, dulu mama awalnya menunda kehamilan, sampai akhirnya malah jadi susah punya anak lagi, beruntung setelah aku SMA, akhirnya mama hamil lagi, awalnya mama merasa malu, tapi karena dukungan papa dan aku, mama akhirnya jadi percaya diri, sekarang Angel di manja sama mama, karena mama dan papa memang seneng banget waktu Angel lahir." tutur Andra.
Alya mendengarkan penuturan Andra dengan seksama, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oh gitu, tapi Mas Andra bersyukur punya adik, aku meskipun minta adik, tetap saja mama dan papa bilang aku sudah cukup." jawab Alya.
"Mereka pasti punya alasan, kenapa nggak mau menambah anak lagi, kamu jangan prasangka buruk sama orangtua kamu sendiri ya, karena aku udah mengalami penyesalan terbesarku, waktu mama sakit, karena melihat kelakuanku yang brutal di masa sekolah, sejak saat itu aku berjanji, nggak akan menyusahkan dia lagi, apalagi sampai membuatnya sedih dan sakit,"
"Hmm, apa itu juga yang buat Mas Andra akhirnya menerima perjodohan ini?"
"Jujur iya, aku menerima perjodohan ini karena nggak mau buat mama sedih, sakit, terluka, jadi aku berfikir untuk mengikuti kemauan mama, tapi mama juga sangat menyukai kamu, awalnya aku bingung kenapa mama bisa menyukai kamu, tapi sekarang..."
"Tapi apa?" tanyanya merasa penasaran.
"Tapi sekarang aku mengerti, kalau kamu adalah gadis yang baik, manis dan sangat menyenangkan, jadi wajar saja mereka menyukai kamu." sahut Andra sambil tersenyum melirik Alya sekilas, lalu kembali fokus menyetir.
"Mas Andra bisa aja, Alya cuma anak cupu, yang kerjanya mantengin laptop, ngehalu sambil nontonin drama, waktu tahu bakal di jodohin, aku nangis Mas."
"Seriusan kamu nangis?"
"Iya, aku nangis, aku ngerasa apa jadinya masa depanku, kalau aku menikah di usia muda, aku baru delapan belas tahun, itupun masih tiga bulan lagi, masa aku harus langsung menikah, aku belum bisa menerima, karena itu aku nangis,"
Andra sebenarnya sudah menyangka kalau Alya pasti menolak pada awalnya, terlebih Alya masih sangat muda dan juga seorang perempuan, wajar saja kalau sampai menangis.
"Lalu sekarang?"
__ADS_1
"Sekarang Alya mulai mencoba menerima kenyataan, dan Alya juga sama kayak Mas Andra, nggak mau Mama sakit, dan terluka, terlebih Mama bilang, Mama udah janji sama Tante Cinta, kalau dia mau jodohin aku sama Mas Andra, Mama ada hutang budi budi gitu sama tanta Cinta." terang Alya.
Andra agak terkejut saat Alya mengatakan hal itu.
"Hutang budi? hutang budi apa?" tanyanya penasaran.
"Iya Mas, hutang budi karena Tante Cinta pernah memberikan sumbangan darah buat Mama, dan darah itu yang menolong nyawa Mama, itu yang mama bilang sama aku mas."tukasnya.
"Aku malah baru tahu hal ini, serius, Mama nggak pernah cerita sama aku."
"Masa sih Mas?"
"Iya Alya, aku nggak tahu menahu untuk masalah ini, tapi aku harap kamu bisa mencoba menerima pernjodohan ini dengan sisi positifnya, kita jalani saja seperti air mengalir, kalau memang kita jodoh, kan nggak ada yang tahu, walau dijodohkan sekalipun, kalau tidak berjodoh, tetap tidak akan bersatu juga, iya kan?"
"Iya, Mas Andra bener," sahut Alya tersenyum manis.
Akhirnya mereka sampai di halaman rumah Andra yang sangat mewah bak istana saja, Alya tercengang saat turun dari mobil Andra, kemudian melihat rumah Andra yang sangat megah.
"Yuk masuk." Ajak Andra.
"Mas, ini rumah Mas Andra?" tanyanya masih tercengang, takjub dengan kemegahan rumah itu.
"Iya, yuk masuk, jangan bengong aja," ajak Andra lagi, Andra langsung menggandeng tangan Alya, memasuki rumahnya, saat ia membuka pintu, Alya dan Andra di sambut hangat oleh para pelayan yang ada di rumah tersebut.
"Selamat satang Tuan muda." ucap salah seorang pelayan memberikan salam.
"Tidak ada tuan, mereka sedang ada keperluan,sepertinya malam nanti baru pulang." sahut pelayan tersebut.
Alya hanya terdiam, ia masih melihat isi rumah Andra yang benar-benar layaknya istana itu, dia takjub sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Angel dimana?" tanya Andra lagi.
"Nona ada di kamarnya, seperti biasa Tuan." jawab pelayan itu.
"Oke, buatkan minuman untuk tamuku ya, aku akan menemui Angel di kamarnya."
"Baik Tuan Muda."
Alya melemparkan senyuman tipis pada pelayan tersebut, kemudian ia mengikuti Andra dari belakang.
"Alya, kamu duduk dulu ya, aku mau panggilin Angel dulu, kamu tunggu disini ya."
"Iya Mas."
Andra pun segera pergi menuju kamar adik perempuannya, sedangkan Alya masih terdiam.
"Besar sekali rumah Mas Andra, aku nggak sangka, kalau rumah Mas Andra seperti istana," gumamnya.
__ADS_1
Tak berapa lama, pelayan datang mengantarkan minuman dan berapa potong kue, pelayan itu menaruhnya di meja yang ada di hadapan Alya.
"Silahkan di minum Nona," ucap pelayan tersebut ramah.
"Terimakasih." jawab Alya.
Pelayan itupun segera pergi meninggalkan Alya.
Andra datang bersama dengan adik perempuannya, Alya berdiri menyambut kedatangan Andra dan adiknya.
"Alya, kenalin ini adikku yang aku ceritakan tadi,"
"Angel, kenalin ini Alya calon kakak ipar kamu."
"Apa sih Mas," sahut Alya malu.
"Oh, ini ya yang namanya Kak Alya, kenalin Kak, aku Angel adik satu-satunya bang Andra." ucap Angel ramah, ia mengulurkan tangan ke arah Alya.
"Hai Angel, kamu lucu ya imut," ucap Alya memuji calon adik iparnya tersebut.
"Kak Alya juga imut, cantik lagi." sahut Angel.
"Hmm.. udah pada duduk gih, capek berdiri terus kan." sahut Andra.
"Eh iya sampai lupa, yuk duduk Kak Alya."
Alya pun mengangguk, dan segera duduk kembali.
"Dek, Kak Alya suka nonton drama korea kayak kamu loh katanya." ucap Andra.
"Beneran Kak?"
"Iya aku suka banget, Angel suka nonton drama apa aja?"
"Banyaaak.. Kak Alya mau lihat nggak? Yuk ikut ke kamar Angel," Angel menarik tangan Alya menuju ke kamarnya.
Andra tertawa kecil melihat tingkah polos adiknya itu.
'Udah lama gue nggak sebahagia ini.'
Andra menyentuh dadanya yang terus bergemuruh.
________________
Author : Mohon maaf kalau ada typo ya. belakangan cherry kurang sehat, jangan lupa like dan komentarnya ya...
Untuk novel yang ini Cherry nggak bisa janji up setiap hari, tapi akan di usahakan setidaknya seminggu lima kali ya upnya 😁😁🤗😌
__ADS_1